Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

Pulau Harapan (Palsu)

Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue. Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.

Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul 6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama. Hahahhaa.

Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang. Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin deh itu 1 kapal.

Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam. Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..

Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.

Pasukan trip Harapan kali ini.

Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping. Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue sempet menjadi pusat perhatian gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini bagus banget. Gue ga nyangka ada yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.

Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)

Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.


Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya! Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu tukang gorengan. Hahahhaa.

Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu

Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.

Ayo berkemah!

Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus, dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di pulau juga. Gue sama temen-temen baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.

Pulau Perak

Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga, kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,- tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank you ya! Hahahhaa.

Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L

Malam itu kami tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu. Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya, tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi saat musim hujan.

Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa ceria dengan teman-teman baru.

Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta. Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.

Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan :)

See you next trip! (Photo by Dodi)

Sabtu, 17 Januari 2015

Family Weekend in Tanjung Lesung

Di awal tahun ini, gue bersama keluarga merencanakan liburan ke Tanjung Lesung. Kami pergi pada tanggal 10-11 Januari 2015. Kami berangkat dari Jakarta pukul 8 pagi di hari Sabtu, kemudian sampai di Tanjung Lesung sekitar jam 2 siang. Lumayan juga, perjalanannya 6 jam (ga gitu macet), belum dipotong waktu makan siang dan mampir buat sarapan.

Tanjung Lesung ini letaknya di Banten, tepatnya setelah Anyer dan Carita. Pas masuk, kelihatan tempatnya private banget. Tanjung Lesung punya kompleks pribadi sekitar 1500 HA. Kami menginap di Tanjung Lesung Beach Hotel. Kami memesan cottage yang paling kecil dengan 1 kamar. Harga per malamnya Rp 1.700.000,- (kebayang ga kuat bayarnya kalo pergi ke sana sendiri hahahah). Hotel ini cukup bagus dan memiliki kolam renang sendiri yang langsung menghadap pantai. Wih, berasa kaya di Bali deh!

Kolam renang menghadap pantai di Tanjung Lesung Beach Hotel

Setelah check-in, kami pergi ke Beach Club. Beach Club ini adalah pusat kegiatan olahraga air di Tanjung Lesung. Di sini kita bisa snorkeling, jet ski, banana boat bahkan bisa menyewa kapal untuk pergi ke Ujung Kulon atau Anak Gunung Krakatau. Jika ingin ke Ujung Kulon, harganya cukup mahal. Rp 8.500.000,- dengan maksimum 8 orang. Mending ikut trip backpacker dari Jakarta deh. Haha.

Saya dan Cito ingin snorkeling di Beach Club. Sayangnya karena cuaca kurang mendukung dan airnya keruh, snorkelingnya tidak bisa dilakukan. Huhu. Akhirnya kita Jet Ski saja (Rp 320.000 selama 20 menit). Ini adalah pengalaman pertama gue Jet Ski. Rasanya, serem ! hahhahaha. Tadinya gue mau jet ski berdua aja disetirin cito, tapi akhirnya kami memutuskan jet ski bergantian dengan disetirin abangnya. Abangnya ini nyetirnya gokil juga, beberapa kali rasanya loncat dan hampir jatuh. Rada ngeri gue. Hahahha.

Setelah jet ski, saya duduk-duduk sebentar di pinggir pantai, lalu balik ke hotel untuk berenang. Hahaha. Pantainya sendiri cukup bagus untuk ukuran Pulau Jawa. Oke lah ! Di malam hari, kami sekeluarga melihat pertunjukan yang diadakan pihak hotel yaitu Debus ! Agak ngeri juga ngeliat orang ditusuk-tusuk gtu. Rrrr.


Jembatan di dekat Beach Club

Keesokan harinya, Cito, Mama dan Papa ingin bersepeda keliling pantai. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tidak bisa bersepeda, saya memilih melipir ke jembatan di pantai Beach Club. Setelah agak bosan di situ, saya jalan-jalan lagi dan menemukan spot nyaman di villa sebelah. Namanya villa kalicaa. Vila ini masih satu manajemen dengan hotel kami. Sepertinya semua yang ada di Tanjung Lesung memang di bawah 1 manajemen. Di villa ini ada private beach dengan view pantai yang bagussss, kaya di Gili. Saya menghabiskan waktu berjam-jam tidur-tiduran di kursi pantai itu.

Jemur-jemur cantik di pantainya Kalicaa Villa

Pantainya cakep. Mungkin yang paling bagus di Pulau Jawa.


Ada 1 hal yang agak lucu waktu saya di Tanjung Lesung, saya bertemu dengan segerombolan karyawan dari kantor tempat saya pernah melamar dulu. Hahaha. Mereka lagi outing di Tanjung Lesung. What a coincidence! Saya bisa tahu karena saya pernah interview sama CEO-nya dan dia ada di sana waktu itu. Hahahhaa.

Jam 1 siang kami pulang dari Tanjung Lesung, kami mampir dulu ke Karang Bolong, Anyer, untuk melihat-lihat. Tadinya mau mampir ke mercusuar juga, tapi rasanya terlalu sore. Meskipun cuma sebentar, tapi senang rasanya ketemu pantai lagi. Di penghujung bulan Januari rencananya saya juga mau ke pantai lagi, ke manakah? Tunggu jawabannya di postingan selanjutnya!

Hutan Pinus Gunung Pancar

Kalo pengen wisata alam yang ijo-ijo, bisa coba ke tempat ini. Hutan pinus gunung pancar!
Letaknya di sentul. Masuknya lewat perumahan sentul city. Tadinya gue sama teman2 mau ke wisata pemandian air panasnya. Cuma karena penuh sesak, akhirnya kita mengurungkan niat dan foto2 saja di sekitar hutan pinus. Kalo kt temen gue yg liat fotonya sih bagus ya, kaya di aussie. Hahaha.
Untuk masuk ke tempat ini kita musti bayar 25 ribu. Itu belum termasuk kalo mau ke pemandian air panas. Yang juga bayar 25 ribu. Di sini kayanya banyak premannya. Ati2 sm pak ogah di sepanjang jalan!

Overall sih tmp wisatanya cuma gitu aja, tapi okelah buat foto-foto dan refreshing! Here are some pics from Gunung Pancar!

Hutan Pinus


Ngeliatin apa, bu?

We-fie with SFC friends


Minggu, 10 Agustus 2014

Kepulauan Derawan: Juli 2014

Setelah 2 bulan yang lalu pergi ke Komodo, sekarang saya pergi ke Kalimantan! Hahahha. Kesannya kaya duitnya ga abis-abis ya, padahal yang ke komodo kemarin itu hadiah ultah dari emak. Kalo yang Kalimantan ini sih bayar sendiri, ngerogoh kocek tabungan plus irit irit makan siangnya. Hahahhaa.

Udah lama rasanya pengen ke Derawan, beruntung beberapa teman yang ke Komodo bareng ngajakin ke Derawan. Gue biasanya kalo ada yang ngajakin ngetrip pasti diiyain, asal waktu dan duit cucok. Nah pas banget nih ke Derawan pas libur lebaran seminggu. Awalnya sempat ketar ketir juga takut cutinya ga diapprove, tapi ternyata memang dapet libur seminggu dari kantor. Horeeee!

Day 1 : Jakarta-Balikpapan-Tarakan
Perjalanan dimulai pada hari jum’at tanggal 25 Juli. Gw ijin setengah hari di kantor. Gue ambil hari jum’at, karena tiket pesawatnya yang lebih murah dibanding hari sabtunya, bisa lebih murah 500rb sampai sejuta. Harga tiket Lion Air hari itu Rp 1.080.000 Jakarta-Tarakan gw beli 2 bulan sebelumnya. Ternyata oh ternyata, menjelang hari H tiket2 itu pada turun harga, bahkan yang hari sabtu ada yang cuma 800rb. Baru tau gue kalo tiket pesawat bisa turun drastis mendekati hari H. Kayanya sih karena pesawatnya kurang laku. Yah mungkin siapa juga yang mau mudik ke Balikpapan, ye kan? Bener aja, pesawatnya sepiii beneur. Hahaha.

Gue ke bandara kira-kira jam 12an, sampai di sana jam 1, sudah ditunggu di A&W oleh 2 teman trip saya, nona Vincen dan Ci Lois. Di A&W terminal 1c ini gue hampir makan staples! Gila aja, ada staples di dalem ayam gorengnya. Habis itu gue tegur deh mbak2nya, sampe managernya keluar minta maap dan mau ngeganti ayamnya. Tapi karena udah gue abisin juga ya gue tolak lah. Hahahhaa. 

nona vincen-ce lois-saya

Kami berangkat pukul 14.50 dan sampai di Balikpapan 2 jam setelahnya. Bandara Balikpapan ini bener bener kece ya! Bahkan ada playgroundnya di setiap gate. Salah satu bandara terbaik yang pernah gue liat di Indonesia. Setelah menunggu kira-kira setengah jam, kami naik pesawat lagi menuju Tarakan. Sampai Tarakan kira-kira sudah jam 9 malam. Kami naik taksi (harga dipatok 75000) menuju hotel yang sudah kami pesan di Agoda, Hotel Padma Tarakan (Rp 400.000 semalam). Hotelnya cukup luas dan oke, sayang toiletnya agak bau. Setelah menaruh barang, kami pergi ke tempat kepiting soka enak rekomendasi supir taksi. Kami ke sana dengan angkot seharga Rp 5000. Sayang, kami sedikit nyasar dan ternyata tempat yang dituju sudah tutup jam segitu. Kami pun makan di tempat makan (lupa namanya) yang buka dan terlihat ramai, kami makan ayam dan ikan di situ seharga 36.000. Usai makan kami menunggu angkot yang tak kunjung datang. Thank god, ada mas2 dan ibu2 baik hati yang mau memboncengi kami dengan motornya sampai depan hotel. Bahkan si ibu pun gam au dibayar. Ternyata bener kata abang taksi, orang Tarakan ini baik-baik. Katanya sih, kalau ada motor ga dikunci di tengah jalan, mau ditinggal berapa lamapun tetep saja tidak ada yang mengambil. Haha.

Day 2: Perjalanan ke Pulau Derawan
Kami dijemput oleh pihak tur wisatakita.com jam 11 di hotel, kami pun dibawa ke tempat meeting point yaitu di pelabuhan Tarakan untuk berangkat bersama 27 peserta trip lainnya (total ada 30 orang). Kami berkenalan dengan beberapa orang di sana, ada Jimmy, Shella, Novita dan Alex, yang belakangan menjadi dekat sepanjang perjalanan. Kami sudah memesan wisatakita sebelumnya dengan harga Rp 2.100.000 (penginapan basicnya homestay, tapi bisa memilih penginapan lain dengan harga variatif dengan menambah biaya). Nona Vincen pengen kamar yang ada AC-nya, jadi kita nambah 150an ribu.

Pukul 2 kami berangkat menuju kepulauan Derawan, perjalanannya sangatlah memabukkan, dikarenakan kapal yang bergerak sangat cepat sehingga kami sedikit terpental. Sekitar pukul 5 sore, kami sudah sampai di Derawan. Kami menaruh barang di penginapan Derawan Fisheries. Penginapan ini berada di dekat pantai dan langsung memiliki view laut serta sunset. Meskipun harganya tidak terlalu mahal, tapi viewnya oke. Bahkan kami bisa melihat penyu seliweran di dekat kamar bila beruntung. Kami kemudian melihat sunset di dermaga, makan lalu keliling pulau derawan untuk jalan-jalan malam. Pulau ini cukup hidup di malam hari (tapi jangan bayangin kaya Gili Trawangan). Banyak tempat makan dan toko souvenir yang buka. Usai jalan-jalan kami langsung istirahat di kamar. Sangking capeknya hari itu gue tidur jam 10 (jarang jarang loh! :P)

Sunset di dermaga penginapan kami, Derawan Fisheries

Day 3: Nabucco-Maratua-Kakaban
Alasan kami memilih trip wisatakita.com adalah karena ada itinerary ke Nabucco, sementara trip lain jarang yang ke Nabucco. Benar saja, ternyata pilihan kami tidak salah. Nabucco yang menjadi destinasi pertama di hari itu benar benar top markotop. Degradasi warna laut dari biru muda ke biru tuanya benar benar memanjakan mata. Gila deh, kalo ada orang yang bilang surga itu ada di Indonesia, hal itu benar adanya. Si Nabucco ini merupakan sebuah resort yang masih menjadi bagian dari pulau Maratua. Perjalanan dari derawan ke Nabucco 2 jam menggunakan kapal. Destinasi paling jauh. Karena nabucco sudah menjadi resort, tentunya masuknya harus bayar. Entah berapa pihak wisata kita membayar ke manajemen resort, kita sih tinggal ongkang ongkang kaki sama foto selfie.

Me at Nabucco

Puas main di Nabucco, perjalanan dilanjutkan ke Maratua. Kami agak kaget melihat Maratua tidak secantik yang ada di google, padahal katanya Maratua itu yang paling cantik di kepulauan Derawan. Ternyata airnya memang lagi surut, jadi gradasi air di pantainya tidak terlihat sama sekali. Agak kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kita tidak bisa memprediksi alam. Toh kita sudah ke Nabucco juga kan. Untungnya kita ke sana :”))

ki-ka: cuni, novita, alex, shella, jimmy, vincen, lois, maria at maratua
(photo by wisatakita)

Setelah bermain di pantai Maratua, kita snorkeling sebentar di dekat Maratua, lalu kita menuju ke Pulau Kakaban. Setelah makan siang di sana, kami berenang di Danau Kakaban bersama ribuan ubur ubur (yang tidak menyengat). Stingless jellyfish ini konon katanya hanya ada di 2 habitat di dunia, satu di Pulau Kakaban, satu di Palau, Micronesia. Wah, betapa bangganya ya kita sebagai orang Indonesia.
Ubur ubur ini sangatlah cantik bahkan saya sampai senyam senyum dan ketawa sendiri pas snorkeling. Dari kecil sampe gede semuanya berenang di danau ini. Sayang danaunya agak keruh, kurang tahu juga sih apakah memang keruh dari sananya atau keruh karena kotor.

me with stingless jellyfish (photo by wisatakita)

Usai snorkeling sama ubur-ubur, kita snorkeling di depan pulau kakaban bareng ikan dan karang yang cantik-cantik. Ya ampun cakepnya subhanallove! Beruntung saya snorkeling jauh jauh dari pantai, makin jauh makin kelihatan cantiknya biota lautnya. Puas snorkeling kamipun pulang ke derawan.

Sunset hari itu kami habiskan di dermaga utama Pulau Derawan sambil foto-foto. Setelah puas, kami pun jalan-jalan lagi di pulau derawan, kali ini bareng sama rombongan kaleng rombeng hahahaha. Anak anak yang deket pas trip, kita ber7 (Cuni, Lois, Vincen, Jimmy, Shella, Alex, Novita. Ada 1 lagi si Maria tapi dia ga ikut kita jalan malam ini). Kita jajan jajan dan liat liat souvenir. Sempet makan jagung bakar juga dan es kelapa.

Oh iya, hari itu bertepatan dengan malam takbiran. Suara petasan dan kembang api di mana mana, udah kaya di kota besar aja. Keren deh! Sayang aja petasan yang dimainkan oleh anak anak kecil ini agak mengerikan, jarangnya dekat banget dan takut kena rasanya. Hiiy!

Day 4: Gusung-Sangalaki-Samama
Hari ini dimulai dengan pergi ke pulau Gusung yang letaknya tidak jauh dari Derawan. Pulau ini sangatlah kecil, di sana kita main di pasirnya yang putiiiih banget. Spot yang bagus buat foto-foto! Setelah itu kami pergi snorkeling dekat situ dan kembali ke Pulau Derawan untuk makan siang. Kita juga sempat snorkeling di Derawan, karangnya ada juga di tempat yang rendah, sehingga melukai kaki saya dan menjadi oleh oleh kenangan sampai pulang ke Jakarta.

giant leap at gusung island

Setelah makan di Derawan Dive Resort (ini resort paling bagus di Derawan, ada beberapa orang trip kita yang tinggal di sini dan upgradenya 1.9 juta. Wew! Hampir seharga trip!), kami pergi ke pulau sangalaki. Kami ke pulau sangalaki pada saat surut, airnya beninnng banget dan coral serta karangnya menyembul ke permukaan air, benar-benar amazing. Di pulau ini kita juga bisa melihat anak anak penyu yang dilestarikan. Dan jika beruntung, Anda dapat bertemu manta di pulau ini, sayangnya kami kurang beruntung. Hahaha!

view dari derawan dive resort

beningnya air di pulau sangalaki

karang yang menyembul saat surut di sangalaki
(photo by wisatakita)

Pengejaran manta mengelilingi pulau sangalaki tidak berhasil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Samama. Di sini ada hutan Mangrove di pantai. Wow! Lagi-lagi berdecak kagum. Di gugusan kepulauan derawan ini bukan hanya ada pantai, ikan, karang, ubur-ubur, manta, tapi juga ada hutan mangrove. Lengkap sudah kesempurnaannya! Hahahhaa.

the girls at mangrove forest, samama island (photo by jimmy)

anak penyu berbaris rapi


Setelah dari Samama, kami kembali ke Derawan untuk naik banana boat! Setelah itu kami pun bersih2 badan dan mengelilingi pulau derawan di malam terakhir!

Mungkin ini malam terakhir di Derawan, tapi bukan di Kalimantan Timur, esok, kami bertiga akan melanjutkan perjalanan ke desa Biduk-Biduk, untuk melihat keajaiban alam yang lain! :)

Trip wisatakita.com cukup recommended. Guidenya, Mas Daniel orangnya asik dan cekatan. Tripnya juga jelas serta lengkap dan yang paling buat saya amaze adalah wisatakita punya life jacket yang dicustomize sendiri dengan bordiran nama tripnya. Hahahaha. Baru nemu kali ini!


Untuk postingan desa biduk biduk dan Labuan cermin dapat dilihat di sini >> Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin

Sabtu, 07 Juni 2014

Sailing Komodo: Living on Boat.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, Bali dan Gili Trawangan.

Day 5
Setelah sampai di wisma nusantara 2, saya dan chitto istirahat sebentar di kamar lalu berkeliling mencari makan malam. Kami menemukan tempat makan ayam taliwang yang ramai, di seberang mal, bernama Ayam Taliwang Mandiri. Yang ramai itu memang pasti enak. Terbukti, makanan ini ludes dalam sekejap. Setelah banyak makan western food di gili, ayam taliwang ini bener2 nonjok!

Sepulangnya makan malam, kami kembali ke hotel dan bertemu teman2 yg berada di trip (harga di postingan sebelumnya) yang sama. Kami ber-12: cuni, chitto, randy (kepala suku), airin, doni, vincen, tutus, sari, ci lois, mbak ari, panji dan mas sujar. Dari obrolan di whatsapp si keliatannya anaknya seru2, pas ketemu seru beneran kok! Hahahaha.

Day 6
Tiba juga hari H-nya. LIVING ON BOAT!

Sebelum saya bercerita lebih banyak, ini dia peta perjalanan saya selama Living on Boat (LOB). Rute kami adalah yang diberi garis putih.


Jujur saya sempat takut tinggal di kapal. Takut merasa tidak nyaman dan takut mabuk laut. Tapi selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya. Pukul 12 kami dijemput oleh bis yang membawa kami ke labuan kayangan, tempat segala sesuatunya dimulai. Tak disangka, kami mendapat kapal phinisi yang besar penuh dengan orang (total 58 orang). Ternyata kami mendapat kapal yang besar karena banyaknya orang yang antusias mengikuti tur hari itu. Biasanya yang digunakan adalah kapal kecil.

Kapal phinisi yang kami gunakan. Photo by Vincentia Maria.


Setelah ngaret super lama karena ada masalah dengan segerombolan bule yang ditipu (mereka membayar kapal pada orang yang tidak jelas yang tidak memberikan uangnya pada pihak kapal), akhirnya kami berlayar pula pada pukul 4 sore. Otomatis, sunset di gili bola yang dijanjikan pun gagal dilihat. Kami sampai di gili bola pada pukul 10 malam dan menepi di sana untuk tidur (tidurnya tetap di kapal).

Sunset di perjalanan menuju Gili Bola


Tidur di kapal ala backpacker cukup simple. Kami semua tidur di dek kapal dengan menggunakan matras dan selimut. Matrasnya cukup empuk si, saya pernah merasakan tidur yg lebih sengsara daripada ini. Hahahaha. Tantangannya adalah, angin laut dan ombak yang mengguncang-guncang kapal. Kalau tidak kuat, bisa muntah ataupun sakit. Oiya ada juga beberapa kamar yg bisa disewa (130.000) tapi jumlahnya terbatas dan dapat dihitung dengan jari.

Malam pertama di kapal saya baru bisa tidur jam 3 pagi. Mayan lah daripada tidak sama sekali.

Day 7
Si chitto sepertinya tidak kuat semalam di kapal, ia terserang demam keesokan harinya.

Pada pagi hari kami berlayar ke Pulau Moyo. Kami akan mengunjungi air terjun, mata air tawar yang pertama dan terakhir dalam trip ini. Fyi, di kapal kita tidak bisa mandi karena persediaan air tawar sangat terbatas. Paling cuma bilas bilas saja. Setelah trekking 30 menit sampai jg kita di air terjun. Langsung kita main main dan selfie di sana. Sangking ramenya yang ikut selfie, fotonya muka orang semua ga keliatan air terjunnya. Hahahaha.

Air terjun (Photo by Sesari)

Kapal kami di pulau Moyo

Sehabis puas mandi di air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Danau Satonda. Di sana kami melihat lihat danau dan juga snorkeling!

Danau Satonda


Selfie di Pantai Satonda (Photo by Donni)


Sore itu berjalan dengan damai. Kami melanjutkan perjalanan selama 12 jam ke tempat paling ditunggu tunggu. Gili laba.

Day 8
Pukul 3 pagi saya terbangun. Saya melihat cahaya terang yang kemudian redup di langit langit. Saya bertanya tanya cahaya apa itu. Beberapa menit kemudian saya mengobrol dengan salah satu awak kapal, dan ia mengatakan bahwa gunung sangeang di bima meletus! Bisa-bisanya di antara 365 hari di tahun 2014 ia memilih meletus di hari di mana saya sedang berlayar menuju komodo. Padahal terakhir meletus tahun 1999. Terjawab sudah mengapa banyak sekali abu di sekujur badan saya dan di kapal. Butiran yang tadinya saya kira garam dari air laut ternyata abu vulkanik. O my god! Malam mulai mengerikan. Sambil berharap tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Saya melanjutkan tidur dan bangun bangun terjadi huru hara di kapal.

Satu kapal kaget dengan berita meletusnya gunung sangeang. Para penumpang yang tadinya tidur di dek atas dipindahkan ke bawah karena terkena abu vulkanik paling parah. Para penumpang memakai masker ataupun sapu tangan. Saya sendiri tidak membawa masker dan pinjam ke orang lain tidak ada yang punya. Pasrah saja lah. Sunrise pagi itu pun ditemani oleh langit berabu.


Gili laba dipenuhi abu vulkanik dan trekking menuju puncak gili laba pun dibatalkan. Satu kapal kecewa tapi kami tak bisa berbuat apa apa karena ini adalah bencana alam. Saya sendiri merasa bersyukur masih bisa hidup. Karena bisa saja letusan gunungnya kena kapal kita atau terjadi gempa di laut. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi tentunya saya tidak bisa lagi menceritakan pengalaman ini pada kalian, alias udah die.

Gili Laba yang dipenuhi abu vulkanik

Oiya buat yang mau tau gili laba itu secantik apa sehingga banyak yang menyesali. Ini dia! Kalo menurut saya seperti raja ampat versi KW. Hehehhe. Cantik banget!

                  
                                       Courtesy of journals.worldnomads.com


Perjalanan ke pink beach juga dibatalkan. Kapal hanya berhenti dari kejauhan dan dari jarak segitu pantai tidak terlihat berwarna pink sama sekali. Tadinya kami dijadwalkan snorkeling di pink beach. Tapi tidak mungkin kecuali kalo mau bernafas pake abu. Huhu.

Kapal berlayar ke arah pulau komodo. Perjalanan ini terasa dipaksakan. Dalam keadaan bencana sepertinya tidak ada komodo yang mau berlama-lama di luar terkena abu vulkanik. Benar saja, trekking 3 km kami bersama hujan abu (ya, hujan abu, bukan hujan salju!) di komodo hasilnya nol. Saya tidak melihat komodo sama sekali. Teman saya ada yang melihat tapi cuma 1.

Hujan abu di Pulau Komodo


Pulau rinca yang harusnya dijadwalkan keesokan harinya dipercepat. Setelah dari pulau komodo kami menuju pulau rinca. Tempat lebih banyak komodo dan lebih liar. Sesampainya di sana, jalur trekking ditutup. Kami hanya bisa melihat komodo dari sekitar dapur. Ternyata di situ saja sudah banyak komodo berkeliaran. Bahkan kami melihat komodo kawin. Hahahaha

Kami melihat komodo dari jauh, karena komodo merupakan hewan yang berbahaya. Ia tidak bisa mendengar suara berisik. Saat di sana, ada bayi bule menangis. Sontak kepala komodo itu langsung tegak. Si anak bule pun dibawa menjauh oleh ayahnya (gila juga tuh bule living on boat bawa anak hahaha).

Our own seven wonders of the world: komodo dragon

Sebagai intermezzo, dulu katanya pernah ada bule prancis hilang di pulau rinca karena terpisah dari grupnya. Dua minggu kemudian, hanya jari dan cincinnya yang ditemukan. Semua habis dilahap komodo. Mengerikan!

                    
          Komodo lagi kawin. Komodo aja berdua, masa kamu masih sendiri? #eaa

Perjalanan diakhiri dengan sebuah ketidakpastian. Dalam keadaan darurat, awak kapal memberikan opsi untuk tetap lanjut menginap di kapal untuk besokannya ke pulau kelor (belum tentu di kelor cuacanya bagus) atau langsung mendarat di labuan bajo. Saya memilih untuk langsung pulang, saya tidak tahan menginap semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik. Tapi suara terbanyak dipegang oleh yang ingin bertahan di kapal.

                   
   Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)


Day 9
Setelah semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik, kami sampai juga di pulau kelor. Ternyata pulaunya sangat cantik. Kami snorkeling melihat biota laut yang sangat beragam. Bahkan ada ikan ikan nakal yang menggigiti kaki pengunjung. Kami trekking ke puncak pulau kelor, di mana pemandangannya sangat bagus dan dapat mengobati akan kekecewaan batalnya gili laba.

Pemandangan dari atas pulau kelor. Pic by Sesari Handayani.


Pukul 2 siang kami mendarat di labuan bajo, flores. Kami sangat senang bisa berjumpa dengan daratan. Kami langsung memesan hotel (hotel pagi: 350000/malam) dan mandi air hangat sepuasnya. Thank God we are in the land now!

Malamnya kami mencoba makan di restoran nomer 1 versi trip advisor di labuan bajo: mediterraneo. Tempat dan makanannya recommended.

                                 
                                          Blue Marlin Fish di Restoran Meditteraneo

Day 10
Saya sakit batuk dan pilek di labuan bajo. Saya menduga ini karena ulah abu vulkanik. Saya berniat ke dokter sepulangnya ke jakarta.

Karena abu vulkanik, pesawat saya dicancel 4 jam. Teman teman ada yang dicancel sampai 1-2 hari. Beberapa memutuskan naik kapal hingga mataram dan sisanya memutuskan menunggu kepastian pesawat.

Sebelum pulang, saya menjelajahi labuan bajo ke sebuah obyek bernama gua batu cermin. Tempatnya cukup bagus, isinya gua gua besar. Di bagian intinya, kita bisa melihat cahaya masuk dari celah gua di jam 12 siang. Bila beruntung dan ada air, cahaya akan memantulkan bayangan kita pada air. Sayang, saya datang ke sana terlalu pagi dan bukan saat musim hujan hahaha.

Gua batu cermin


Saatnya pulang, pukul 12 saya sampai di bandara komodo untuk check in. 2 jam kemudian, pesawat kecil membawa saya pulang ke rumah.

Epilog
Setelah dirontgen dan diperiksa ke dokter paru paru, saya tidak menderita penyakit serius. Hanya batuk pilek biasa ditambah ada sedikit debu di paru paru.

Tips tips Living on Boat (LOB):
-Sebelum memutuskan LOB, ketahui dulu mengenai tur anda, bagaimana anda akan tidur, mandi, makan, dan sebagainya. Biasanya kapal seperti yang saya ikuti itu tidurnya di dek beramai-ramai dan mandi seperlunya.
-Bawa jaket untuk menghalau dinginnya udara malam.
-Bawa ear plug (berguna bila naik kapal kecil dan berisik).
-Coba berbagai posisi duduk dan tidur yang nyaman untuk anda, agar anda tidak muntah.
-Gunakan sunblock di muka dan badan. Biar pulang pulang ga terbakar seperti saya.
-Saat makan, antrilah sedepan mungkin, ada kalanya para penumpang super kelaperan dan anda kehabisan makanan (dan musti nunggu dimasakin lagi).
-Bersiap untuk mandi/bilas di belakang kapal (tempat terbuka) dengan menggunakan baju. Kita juga bisa sikat gigi dan cuci muka di kapal (airnya dibuang keluar).
-Anda dapat meminum antimo untuk menghalau mabuk. Tapi jangan sampai anda terlewat petualangan seru karena kebanyakan tidur di kapal.
*mungkin ada yang mau menambahkan?*

Perjalanan ini dilakukan dengan kencana tour. Terdapat berbagai pilihan waktu perjalanan. Paling seru sih yang kaya saya, 4 hari 3 malam, benar benar berasa hidup di kapalnya.

Thank you for reading! :*

Bali dan Gili Trawangan

Sejak awal tahun 2014, saya belum pernah mengikuti trip over weekend, dikarenakan jadwal les saya yang cukup menyita waktu di hari sabtu. Beruntung, adik saya mengajak saya berlibur tepat di saat les saya sudah berakhir, pada tanggal 24 mei 2014. Kami setuju mengadakan trip ini karena ada libur bolong-bolong di akhir bulan mei. Saya memutuskan berlibur selama 10 hari sejak tanggal 24 mei hingga 2 juni dengan destinasi bali-gili trawangan-komodo. Trip ke bali dan gili dilakukan oleh kami berdua tanpa mengikuti open trip sementara trip komodo mengikuti salah satu open trip teman saya, Randy Anggriany.

Here is the stories:
Day 1
Kepergian saya menuju bali bisa dikatakan tidak melalui persiapan yang matang. Bayangkan saja, flight jam stg 8. Saya pergi dulu menjenguk sahabat yang baru melahirkan jam 1 siang kemudian ngobrol-ngobrol sama seorang sahabat dan pulang pada pukul 5. Saat sampai kamar, saya cukup kaget juga kalau itu sudah jam 5. Gue yang tadinya mau nyobain damri thamrin city-bandara memutuskan untuk menelepon taksi untuk pukul stg 6. Bayangkan, gue hanya punya waktu setengah jam untuk packing. Sampai akhirnya charger kamera lupa dibawa sangking terburu2nya. Ajaibnya, gue sempet2nya berpikir bawa setrikaan buat ngerapihin baju2 yg kusut. Pada akhirnya setrikaan itu juga ga dipake *yaiyalah ngapain liburan bawa setrikaan*.

Saya sampai di bandara soekarno hatta kurang lebih pukul setengah 7. Saya langsung check in dan menunggu pesawat berangkat. Saat menunggu, saya sempat mengobrol sama cewe jerman yang juga mau ke bali (dia solo travelling 3 minggu) dan memperhatikan anak cacat yang didorong2 ke sana kemari oleh ibunya. Pesawat saya berangkat pukul stg 8 dan tiba di bandara bali jam stg 11 waktu sana. Saya dijemput adik yg sudah duluan di bali sejak hari rabu.

Kami langsung makan di restoran bernama Salty Seagull. Adik saya sudah pernah makan di sana dan suka sekali dengan french friesnya. Saya memesan fish and chips yang dimasak dengan bir dengan minuman total seharga Rp 122.000. Rasanya biasa saja, namun kentangnya benar-benar enak.




Setelah puas di sana, kami langsung pulang ke hotel. Kami menginap di Hotel Grandmas Seminyak. Hotel ini cukup bagus walaupun ukurannya kecil. Harganya Rp 350.000 per malam.


Day 2
Saya dan chitto (adik saya) adalah dua pemalas yang ga bisa bangun pagi. Di hari pertama saya di bali ini, kami baru bangun jam 11 dan berangkat jam 12. Kami memutuskan akan pergi ke restoran bernama el kabron. Tempat ini memiliki view pantai yang sangat memukau dengan private pool menghadap ke arah pantai. Tempatnya agak jauh dari kota, sehingga kami nyasar berkali-kali meski sudah pake GPS.

Elkabron adalah spanish restaurant dengan view ciamik. Anda diwajibkan memiliki minimum pembayaran 300rb jika ingin duduk-duduk cantik di pool side dan 200rb di restaurant side. Kami memilih pool side. Kami berenang-foto2-makan hingga pukul stg 5 sore. Lalu kami kembali pulang. Kami buru2 pulang karena mobil yang kami sewa hanya disewa sampai jam 6.



Setelah mengembalikan mobil, kami pergi ke kuta naik motor (harga sewa motor Rp 60000). Kami mencari kabel data kamera lumix saya namun tidak ketemu. Ya sudah saya pasrah saja tidak memakai kamera sebelum liburan. Untungnya kamera hp masih cukup ok untuk dijajal.

Kami makan malam di nasi pedas Ibu Andika. Tempatnya sangat ramai dan mengantri. Tempat ini menyediakan berbagai lauk seperti nasi rames dan disajikan dengan bumbu super pedas. Menurut saya rasanya biasa saja, namun pedasnya yang membuat nikmat. Walau saya sempat kepedesan juga!

Setelah itu kami berjalan jalan di kuta. Kuta mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 5 tahun terakhir. Saya membeli celana pendek dan juga baju renang cantik berwarna pink malam itu. Super happy!
O iya, sebelum pulang saya ingin sekali menilik gay bar yang ramai dekat hotel. Tapi si chitto tidak mau menemani (takut ditaksir cowo katanya). Jadilah tidak jadi. Hahaha.

Day 3
Perjalanan kami di bali berakhir pagi ini. Kami memesan fast boat (wahana gili ocean) dari bali menuju gili trawangan seharga 275000 per orang (cukup murah jika dibandingkan tiket pesawat bali-lombok plus nyeberang ke pelabuhan gili). Fast boat ini diisi oleh 90% bule. Perjalanan hanya memakan waktu 1.5 jam.



Di gili, pelabuhan sudah ramai diisi para expat. Kami pun menuju ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya, Trawangan Dive (Rp 750000/malam). Fyi, di sini banyak penginapan dengan harga 200.000. Cocok untuk yang mau hemat. Dan saya dengar dari teman saya, penginapannya juga cukup bagus.
Setelah menaruh tas, kami makan di tempat terdekat, di Genius. Jujur, makanannya not recommended. Saat itu, untuk selanjutnya kami memutuskan untuk makan di tmp yang direkomendasikan oleh temannnya chitto dan pilihan trip advisor.

 
Halaman depan hotel Trawangan Dive yang juga menjadi tempat kursus diving

Habis makan kami berkeliling gili trawangan naik andong (Rp 150.000). Selain andong, bisa jg dengan menggunakan sepeda. Tapi karena saya ga bisa naik sepeda, ya mau gimana lagi. Hahahaa.



Ternyata gili trawangan dapat dikitari dalam waktu 30 menit. Kami menandai beberapa spot bagus untuk didatangi selanjutnya. Setelah berkeliling, kami duduk duduk cantik di Horizontal sambil menikmati pantai. Fyi, semua pantai di gili trawangan sudah dimiliki oleh restoran. Jadi kalo mau duduk duduk cantik pake payung, mau ga mau musti memesan makanan di tempat tersebut dengan kisaran harga 50000-100000 minimal. Ga heran kenapa duit banyak kebuang di gili trawangan.



Malamnya, kami makan di pasar malam. Letak pasar ini di seberang pelabuhan. Bentuknya seperti food court. Makanan cukup bervariasi dengan harga relatif lebih murah dibanding restoran di gili. Kami makan seafood dengan total Rp 45.000.

Sesudah itu, kami sempat berpikir untuk dugem di salah satu bar. Karena gili trawangan adalah party island! Tapi karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, akhirnya dicancel dan kami duduk duduk di Pesona (view ke pantai) sambil menghisap shisha.

Day 4
Hari ini kami mengikuti paket snorkeling ke 3 gili (Rp 120.000) dari pagi hingga sore. Kami berencana melihat penyu dan ikan di gili meno dan gili air. Karena ombak yang cukup besar, saya tidak bisa menikmati perjalanan tersebut.  Bahkan saya muntah saat sedang snorkeling di gili meno. Pengalaman pertama muntah saat snorkeling! Underwater casing pun menjadi tak berguna karena saya tidak bisa fokus foto. Fokus berenang saja sudah cukup menyita energi! Dan ternyata si casing ga bisa dibawa ke laut dalam dengan ombak besar. Air sempat merembes sedikit ke dalam casing. Saya gagal melihat penyu di gili meno!

Sementara di gili air keadaan membaik. Saya bisa melihat beberapa ikan dengan ditarik dan dipegangin guide-nya. Hahahaha. (Kebayang betapa lemahnya saya kalo dibawa travelling model begini). Setelah itu, kami makan siang di gili air (not recommended). Kemudian snorkeling lagi dan pulang. Jujur menurut saya (dan chitto) biota bawah laut 3 gili jauh di bawah ekspektasi. Ga sekeren yang dibayangin.

Pulangnya kami mencoba makan pizza di Dolce Vita. Restoran nomor 1 versi trip advisor. Pizzanya lumayan empuk dan tebal, rasanya cukup enak walaupun ga sampai enak banget. Hahahaha. Harga cukup bersahabat.

Di gili, banyak dijual gelato (10.000-12.000) di kios2 pinggir jalan. Saat kami kepanasan, gelato lah obatnya. Hahahaha.

Tepar karena snorkeling seharian, kami tidur di hotel dari pukul 4 hingga 8 malam. Malamnya, kami mencoba restoran nomor 3 versi trip advisor, Il Pirata. Pizzanya lebih enak daripada dolce vita. Di trip advisor, disebutkan kalau calzone-nya juga enak. Tapi tidak cocok di lidah saya karena terlalu banyak tomat.



Day 5
Setelah sarapan di hotel, kami mengunjungi beach lounge paling ciamik, pearl beach lounge. Tempatnya benar benar cozy dan teratur. Kami di sini hingga pukul 1 siang.



Tak terasa perjalanan kami di gili trawangan berakhir. Sebenarnya masih mau tidur tidur cantik di pantai, tapi petualangan yang lebih menakjubkan sudah menunggu.

Kami pergi dari gili menuju pelabuhan bangsal (lombok) dengan fast boat 10 menit seharga Rp 75.000. Selain fast boat, juga ada boat biasa seharga Rp 13.000 (30 menit). Tadinya saya mau naik yang boat biasa, tapi karena sang adik pengen yang cepat, ya sudah saya mengalah saja.
Kami naik taksi dari bangsal ke mataram (Rp 160.000) menuju tempat kami menginap, wisma nusantara 2 (semalam Rp 160.000). Dalam perjalanan kami sempat berhenti di Malimbu.




Ini adalah awal dari trip komodo kami. Kami menggunakan open trip-nya si randy dengan total peserta 12 orang. Open trip ini seharga Rp 1.9 juta (belum termasuk tiket pesawat) dengan total perjalanan 4 hari 3 malam di kapal menuju NTB dan komodo. Yang belakangan saya ketahui biasa disebut living on boat.
Penasaran dengan perjalanan saya di laut? Klik Sailing Komodo: Living on Boat.