Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2015

Pulau Harapan (Palsu)

Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue. Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.

Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul 6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama. Hahahhaa.

Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang. Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin deh itu 1 kapal.

Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.

Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam. Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..

Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.

Pasukan trip Harapan kali ini.

Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping. Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue sempet menjadi pusat perhatian gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini bagus banget. Gue ga nyangka ada yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.

Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)

Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.


Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya! Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu tukang gorengan. Hahahhaa.

Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu

Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.

Ayo berkemah!

Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus, dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di pulau juga. Gue sama temen-temen baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.

Pulau Perak

Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga, kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,- tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank you ya! Hahahhaa.

Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L

Malam itu kami tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu. Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya, tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi saat musim hujan.

Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa ceria dengan teman-teman baru.

Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta. Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.

Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan :)

See you next trip! (Photo by Dodi)

Sabtu, 17 Januari 2015

Family Weekend in Tanjung Lesung

Di awal tahun ini, gue bersama keluarga merencanakan liburan ke Tanjung Lesung. Kami pergi pada tanggal 10-11 Januari 2015. Kami berangkat dari Jakarta pukul 8 pagi di hari Sabtu, kemudian sampai di Tanjung Lesung sekitar jam 2 siang. Lumayan juga, perjalanannya 6 jam (ga gitu macet), belum dipotong waktu makan siang dan mampir buat sarapan.

Tanjung Lesung ini letaknya di Banten, tepatnya setelah Anyer dan Carita. Pas masuk, kelihatan tempatnya private banget. Tanjung Lesung punya kompleks pribadi sekitar 1500 HA. Kami menginap di Tanjung Lesung Beach Hotel. Kami memesan cottage yang paling kecil dengan 1 kamar. Harga per malamnya Rp 1.700.000,- (kebayang ga kuat bayarnya kalo pergi ke sana sendiri hahahah). Hotel ini cukup bagus dan memiliki kolam renang sendiri yang langsung menghadap pantai. Wih, berasa kaya di Bali deh!

Kolam renang menghadap pantai di Tanjung Lesung Beach Hotel

Setelah check-in, kami pergi ke Beach Club. Beach Club ini adalah pusat kegiatan olahraga air di Tanjung Lesung. Di sini kita bisa snorkeling, jet ski, banana boat bahkan bisa menyewa kapal untuk pergi ke Ujung Kulon atau Anak Gunung Krakatau. Jika ingin ke Ujung Kulon, harganya cukup mahal. Rp 8.500.000,- dengan maksimum 8 orang. Mending ikut trip backpacker dari Jakarta deh. Haha.

Saya dan Cito ingin snorkeling di Beach Club. Sayangnya karena cuaca kurang mendukung dan airnya keruh, snorkelingnya tidak bisa dilakukan. Huhu. Akhirnya kita Jet Ski saja (Rp 320.000 selama 20 menit). Ini adalah pengalaman pertama gue Jet Ski. Rasanya, serem ! hahhahaha. Tadinya gue mau jet ski berdua aja disetirin cito, tapi akhirnya kami memutuskan jet ski bergantian dengan disetirin abangnya. Abangnya ini nyetirnya gokil juga, beberapa kali rasanya loncat dan hampir jatuh. Rada ngeri gue. Hahahha.

Setelah jet ski, saya duduk-duduk sebentar di pinggir pantai, lalu balik ke hotel untuk berenang. Hahaha. Pantainya sendiri cukup bagus untuk ukuran Pulau Jawa. Oke lah ! Di malam hari, kami sekeluarga melihat pertunjukan yang diadakan pihak hotel yaitu Debus ! Agak ngeri juga ngeliat orang ditusuk-tusuk gtu. Rrrr.


Jembatan di dekat Beach Club

Keesokan harinya, Cito, Mama dan Papa ingin bersepeda keliling pantai. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang tidak bisa bersepeda, saya memilih melipir ke jembatan di pantai Beach Club. Setelah agak bosan di situ, saya jalan-jalan lagi dan menemukan spot nyaman di villa sebelah. Namanya villa kalicaa. Vila ini masih satu manajemen dengan hotel kami. Sepertinya semua yang ada di Tanjung Lesung memang di bawah 1 manajemen. Di villa ini ada private beach dengan view pantai yang bagussss, kaya di Gili. Saya menghabiskan waktu berjam-jam tidur-tiduran di kursi pantai itu.

Jemur-jemur cantik di pantainya Kalicaa Villa

Pantainya cakep. Mungkin yang paling bagus di Pulau Jawa.


Ada 1 hal yang agak lucu waktu saya di Tanjung Lesung, saya bertemu dengan segerombolan karyawan dari kantor tempat saya pernah melamar dulu. Hahaha. Mereka lagi outing di Tanjung Lesung. What a coincidence! Saya bisa tahu karena saya pernah interview sama CEO-nya dan dia ada di sana waktu itu. Hahahhaa.

Jam 1 siang kami pulang dari Tanjung Lesung, kami mampir dulu ke Karang Bolong, Anyer, untuk melihat-lihat. Tadinya mau mampir ke mercusuar juga, tapi rasanya terlalu sore. Meskipun cuma sebentar, tapi senang rasanya ketemu pantai lagi. Di penghujung bulan Januari rencananya saya juga mau ke pantai lagi, ke manakah? Tunggu jawabannya di postingan selanjutnya!

Senin, 17 November 2014

Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto

DAY 6: OSAKA-KYOTO
Perjalanan menempuh waktu 8 jam. Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal Willer Express di Umeda Sky Building. Lagi-lagi tempat ini, sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terus kembali ke sini, ke Willer Express, ke Osaka. Udah 4 kali ke sini selama kami di Jepang. Di sana, saya membuang sepatu saya yang sudah tidak enak dipakai, sekalian buang sial. Hahahha. Saya meneruskan perjalanan dengan sandal jepit Melta, yang walaupun sempit, tapi lebih proper daripada sepatu saya.

Kami memiliki 2 pilihan untuk pergi dari Osaka ke Kyoto. Pertama, naik Shinkansen 10 menit dengan harga 1420 Yen* atau naik kereta biasa 30 menit dengan harga 560 Yen*. Rencananya saya akan naik Shinkansen saat pulang dari Kyoto ke Osaka (flight kami ke Indonesia dari Osaka). Kami pun naik kereta biasa dan.. voila! Dalam 30 menit kami sudah berada di Kyoto!

Stasiun Kyoto sangatlah luas, kami membeli Kyoto Bus Pass (500 Yen seharian) terlebih dahulu untuk berkeliling Kyoto nantinya. Kami berjalan kaki menuju penginapan J-Hoppers Kyoto (5300 Yen untuk 2 malam), dari stasiun kira-kira jaraknya 20 menit. Sesampainya di hostel, saya mandi dulu kemudian bersiap menjelajah Kyoto! Sehabis makan, saya mencari sepatu boots di Department Store dekat stasiun. Sangatlah sulit mencari sepatu dengan ukuran kaki saya 41. Sepertinya memang cewek2 Jepang kakinya kecil mungil, ga kaya saya. Akhirnya setelah 2 jam mencari, ketemu juga boots di GU. Ga disangka, harganya cukup murah dan ada ukuran saya. Langsung saja saya membelinya! (N.B: setelah saya kembali ke Jakarta, saya menemukan sepatu yang sama di UNIQLO dengan harga 2 kali lipat)

GINKAKUJI TEMPLE
Setelah belanja, kami pergi dengan menggunakan bis dari stasiun Kyoto ke Ginkakuji Temple, kami naik bis ke stasiun terdekat, kemudian jalan kaki menuju templenya. Sepanjang jalan menuju temple, terdapat berbagai jajanan dan pernak-pernik khas Jepang. Saya tergiur untuk membeli Es Krim Green Tea-nya (300 Yen). Nyam! Sepanjang saya di Jepang, semua makan di sini beserta jajanannya enak-enak. Ga ada yang ga enak. Bahkan melta yang katanya picky eater juga makan terus selama di sini.

I miss this ice cream when back to Jakarta

Ginkakuji (tiket masuk 500 Yen) ini templenya sangat rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Sayang, tidak ada guide yang bisa menceritakan asal muasal temple ini pada saya, keterangan di bookletnya pun menurut saya kurang jelas. Tapi menurut saya templenya sangat bagus. Saya mulai jatuh cinta dengan kota budaya, Kyoto. Sesuai dugaan saya sebelumnya..

Ginkakuji Temple

KYOMIZUDERA
Hari mulai sore, dan kami  memutuskan untuk pergi ke kuil lain, Kiyomizudera (tiket masuk 300 Yen). Perjalanan ke kuil ini juga dipenuhi stall2 makanan dan pernak pernik. Kami betah berlama-lama jalan di sini. Karena hari mulai sore, kami pun agak tergesa-gesa ke sana. Kiyomizudera adalah kawasan kuil yang sangat luas. Kami mengitari kuil ini selama 1 jam. Sayang, di sana, ada kuil yang sedang direnovasi. Kami menghabiskan sunset di tempat ini, melihat pemandangan kota Kyoto yang begitu cantik. Di mana-mana banyak wanita yang memakai Yukata. Mungkin lain waktu saya juga pengen nyoba jalan-jalan di Jepang pake yukata. Hihi.

Sunset in Kyoto from Kyomizudera

GION
Ternyata boots yang baru saya beli juga tidak senyaman itu saat dipakai. Saya pun menemukan sepatu kets Puma dengan harga diskon di jalan dan membelinya. Haha. Boros banget gue belanja2 mulu. Sehabis dari Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Gion. Kawasan ini adalah pusat perbelanjaan di Kyoto. Kawasan ini juga terkenal dengan Geisha-nya. Sayang, kami tidak menemukan Geisha saat itu.

Dari Gion kami pulang ke hostel. Kami makan di dekat hostel (650 Yen) lalu kemudian beristirahat. Menurut saya, hostel ini agak kurang nyaman. Dinginnya udara di luar masuk ke dalam, saya tidak tahu apa pemanas di dalam rusak atau dindingnya kurang tebal. Yang jelas, banyak orang juga mengeluhkan hal itu di internet. Showernya agak aneh karena harus ditekan tiap 5 menit sekali. Dan untuk menuju ke lantai atas tidak tersedia lift, alias harus naik tangga. J-Hoppers Hostel ini memang terkenal sebagai salah satu pelopor hostel di Jepang, sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Mungkin karena sudah lama ini, maintenance-nya jadi kurang, berbeda sama hostel2 baru yang sebelumnya saya inapi. Kelebihannya, penerima tamunya ramah. Namanya Yulia, dan dia berasal dari Rusia. Hostel ini juga meminjamkan yukata free untuk kita berfoto-foto.

DAY 7 : KYOTO
Belajar dari pengalaman kami sebelumnya, kami bangun pukul 7 pagi dan berangkat pukul 8. Udah hari ke-7, baru belajar, telat booo! HAHAHHA.
Hari ini kami berencana akan pergi ke Kinkakuji Temple, kawasan Arashiyama dan juga Nishiki Market.

KINKAKUJI TEMPLE
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.

The beautiful Kinkakuji Temple (Golden Pavillion)

ARASHIYAMA
Kami naik bis ke Arashiyama di mana terdapat Togetsukyo Bridge, yang sangat bagus di musim gugur. Sayang, waktu itu daun musim gugur di Kyoto belum nampak. Puncak musim gugur di Kyoto itu bulan November. Saya terbayang  bagaimana indahnya jembatan tersebut dengan latar belakang daun musim gugur yang memukau. Setelah melewati jembatan, kami mengikuti jalan, yang akhirnya membawa kami ke Bamboo Path. Tempat ini sangat keren, terdapat jalan di mana kiri kanannya ada pohon bamboo yang tinggi menjulang. Cooooool! Setelah itu, kami naik Sagano Romantic Train (620 Yen) yang di sekitarnya terdapat pohon dan sungai cantik. Sagano train ini jadwalnya sejam sekali. Waktu saya ke sana, saya datang jam 1, tapi mendapatkan tiket yang jam 3. Harus menunggu agak lama untuk menikmati Sagano.

Togetsukyo Bridge

Bamboo Path

Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.


Sagano Romantic Train


View from Sagano Romantic Train

Pukul 9 malam kami pulang ke hostel dan saya berfoto-foto dengan yukata yang disediakan. Sayang si Mel ga mau foto pake yukata. Malam itu kami mulai packing dan menyadari bahwa bawaan kami berlipat ganda. Semoga kami tidak kena tambahan bagasi di flight esok hari.

DAY 8: KYOTO-KUALA LUMPUR
Tak terasa sudah hari terakhir di Jepang. Saya sangat sedih karena saya mulai mencintai kota ini, dan negara ini. Yaa selain itu males juga sih ke kantor tau bakal ada kerjaan numpuk. Hahaha. Hari ini kami bangun pagi kembali karena akan mengeksplor sebuah kuil yang tak kalah cantiknya dengan kuil lain, Fushimi Inari Shrine (free entry).

FUSHIMI INARI SHRINE 
Kuil ini masuk dalam peringkat pertama tempat di Jepang yang paling banyak dikunjungi oleh turis versi Trip Advisor. Terdapat ribuan gerbang untuk menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak memakan waktu 1.5 jam. Kami tidak sampai puncak dan hanya berhenti di tengah-tengah. Selain lelah, kami juga harus mengejar bis untuk kembali ke hostel lalu pulang ke Osaka.

Sepanjang Fushimi Inari Shrine pemandangannya begini semua

Sehabis makan siang, kami mengambil barang bawaan kami di Hostel kemudian ke stasiun Kyoto, tempat kita akan menaiki Shinkansen ke Osaka (1420 Yen). Shinkansen ini benar-benar cepat, dalam 10 menit kami sudah tiba di Osaka. Di luar kereta terlihat pemandangannya cepat sekali berubah, sementara di dalam, tidak terasa kecepatannya. Coool! Jika Anda memiliki banyak budget, Anda bisa menggunakan Shinkansen untuk berkeliling Jepang. Harganya sendiri sekitar 3 juta rupiah untuk satu minggu. Jarak dari Osaka ke Tokyo saja hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, berbeda dengan naik bis malam yang menempuh waktu 8 jam.

Tiket Shinkansen Kyoto-Osaka

Shinkansen (Japanese bullet train)

Setibanya di Osaka, kami menuju Namba untuk menaiki Nankai Express ke Bandara Kansai. Yang kami takutkan terjadi, tas kami overload sehingga harus menambah extra bagasi. Kamipun membayar 4000 Yen untuk kelebihan bagasi kami berdua. Di bandara, akhirnya kami bertemu Tokyo Banana, yang sangat sulit dicari di Jepang. Tokyo Banana ini sangat terkenal di Indonesia, sementara di Jepang, sepertinya biasa saja. Maklum, semua snack di Jepang memang enak-enak. Kata teman saya, kalau mau mencari Tokyo Banana yang lebih murah, bisa dicari di Tokyo Sky Tree. Perbedaan harga sampai dengan Rp 50.000 dibanding di bandara.

Pukul 4 sore, saatnya kami berpisah dengan Jepang. Sedih rasanya. Jam 10 malam kami sudah tiba kembali di Kuala Lumpur. Suasana di sana sangat berbeda. Kami bertemu dengan petugas imigrasi yang galak-galak, jauh berbeda dengan orang Jepang yang sangat baik dan sangat santun. Di Jepang, orang-orangnya sangat helpful. Meskipun mereka tidak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka akan mencoba menjawab pertanyaan kita sekuat tenaga, saya sendiri sampai kasihan melihatnya. Mereka juga selalu berterima kasih dan minta maaf. Bayangkan, saya tidak sengaja menyenggol orang di bis, eh malah dia yang minta maaf. Padahal saya yang salah, jadi merasa gak enak sendiri..

Karena sudah tahu spot enak untuk tidur, kami mengunjungi Burger King yang sofanya bisa untuk ditiduri. Setelah makan malam di sana, saya pun tertidur. Cukup pulas hari itu. Keesokan harinya kami berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi dan tiba di Jakarta pukul 9. Selamat kembali ke kota yang panas dan macet. Hehehe..

Note:
*1 Yen = 113.5 Rupiah
Total biaya keseluruhan perjalanan kurang lebih Rp13.500.000 (jika tidak terjadi ketinggalan bus dan tidak belanja belanji, mungkin bisa Rp 11.000.000)

Arigatou Gozaimasu, Japan!

Jumat, 14 November 2014

Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko

DAY 4 : TOKYO
Setelah bermalam di bis dengan tidur yang cukup nyenyak, kami sampai di Tokyo tepatnya di Stasiun Ikebukuro. Dari Ikebukuro, kami naik subway ke Asakusa tempat hostel kami berada. Kami membeli tiket terusan subway untuk 1 hari penuh seharga 1000 Yen*. Kami menginap di Khaosan Asakusa Hostel World & Ryokan (3400 Yen per malam) dengan memesan tempat tidur ala Jepang, yang disebut Ryokan. Asakusa adalah daerah pusat budaya dan pernak pernik tradisional Tokyo, berbeda dengan bagian Tokyo lain yang “kota” banget. Setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Tsukiji Fish Market.

TSUKIJI FISH MARKET
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.

MEIJI SHRINE dan HARAJUKU
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.

Sehabis dari Meiji Shrine kami ke Harajuku. Saya berharap bisa menemukan jaket tebal dan boots di sini. Karena kabarnya harganya ada yang miring. Tapi setelah berputar-putar, saya tidak menemukan yang harganya miring. Kami malah berakhir belanja di Daiso untuk keperluan pribadi dan oleh-oleh. Saya juga berharap melihat banyak yang cosplay di sini, namun karena cuaca jelek dan hari itu masih hari biasa, tidak begitu banyak orang cosplay.

Meiji Shrine

Harajuku Street

Wallpaper at Harajuku Street

SHIBUYA dan SHINJUKU
Mengejar waktu, kami pun pergi ke Shibuya. Di sana adalah pusat kota Tokyo, di mana terdapat persimpangan Shibuya yang sangat ramai orang berlalu lalang. Kami mencari patung Hachiko, anjing yang terkenal itu. Agak susah mencari patung Hachiko, dalam bayangan saya patungnya besar, namun ternyata kecil dan sulit dicari.

Di Shibuya ini kami makan malam di Pepper Lunch. Sistem pemesanannya agak unik karena kami harus memilih menu dan membayar di boks panjang (seperti boks minuman kaleng), lalu mengambil bon dan memberikannya pada pelayan di sana. Pepper Lunchnya kurang lebih sama seperti yang di Jakarta. Yang saya amati sejak saya sampai di negara ini adalah banyaknya bangku untuk makan sendiri atau mengitari dapur. Jarang bangku yang untuk rame2. Sepertinya orang Jepang lebih senang makan sendirian daripada bersama orang lain.


Shibuya Crossing Line

Patung Hachiko

Selepas dari Shibuya kami ke Shinjuku. Shinjuku ternyata kurang wah dibanding Shibuya, padahal dalam bayangan saya Shinjuku itu lebih wah. Hehehhe. Saya menemukan UNIQLO lalu membeli jaket di sana. Akhirnya ketemu jaket juga! Sementara itu bootsnya belum ketemu, padahal kaki saya sudah sakit sekali ditambah sepatunya kemasukan air hujan :(

Kemudian kami pulang ke Asakusa dan berharap bisa melihat pasar tradisional Nakamise di sana, sayang pasarnya sudah tutup dari jam 5 sore. Saya pun Cuma berfoto di kuil ini..

DAY 5: NIKKO
Kami bangun pada hari itu sekitar jam 10. Kami benar-benar pemalas, karena terlalu lelah setiap malamnya. Saya membayangkan perjalanan dari Tokyo ke Nikko hanyalah 1 jam. Tapi ternyata 3 jam. Jeng jeng jeng! Alhasil hari itu diawali dengan terburu-buru, kejar-kejaran sama kereta.

Kami melihat lihat sebentar ke Nakamise Shopping Street, tempat di mana banyak pernak pernik tradisional dijual, kemudian makan di MOS Burger (700 Yen). Setelah itu kami langsung naik kereta menuju kota Nikko (1360 Yen). Nikko menjadi tujuan kami di Jepang karena di bulan Oktober ini, di Nikko sudah musim gugur. Kota lain juga sudah musim gugur, namun belum banyak bunga musim gugurnya. Sementara di Nikko, sudah banyak. Kami berniat pergi ke beberapa air terjun yang di kanan kirinya ada autumn leaves.

Perjalanan dari Tokyo ke pusat kota Nikko ditempuh selama 2 jam 10 menit dengan menggunakan kereta Nikko Tobu Line dari stasiun Asakusa. Sesampainya di stasiun Nikko, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Okunikko (menggunakan Nikko Day Pass 2000 Yen tergantung jarak), tempat air terjun2 itu berada. Perjalanan ke Okunikko berjarak 1 jam dengan menggunakan bis, kami pun langsung ke Kegon Falls (tiket masuk 550 Yen). Air terjun yang katanya paling besar di Nikko.

Naik air terjun di sini sangatlah berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia kita harus trekking berjam-jam untuk melihat indahnya air terjun, sementara di sini kita tinggal naik lift menuju ke atas, lalu sampailah ke Observation deck air terjun. Memang, kita hanya bisa melihat air terjun tanpa bisa main dan mandi-mandi di sana. Tapi itu saja sudah sangat bagus. Kami melihat daun musim gugur di air terjun tersebut, belum benar-benar merah, tapi sudah lumayan lah.
                                                                              
Kegon Falls

It's autumn in Nikko!

Pukul 5 kami melanjutkan perjalanan ke Ryuzu Falls (naik bis 420 Yen), sayang sampai sana sudah gelap, mana semua petunjuk jalan bertuliskan huruf kanji. Akhirnya kami berhasil melihat Ryuzu falls, yang jauh lebih kecil daripada Kegon. Namun sangat cantik karena di sebelah kiri dan kanannya ada autumn leaves. Saya agak menyesal sampai di sini sesore ini, karena kalo lebih siang pasti pemandangannya jauh lebih indah dan spot yang didapat pasti lebih banyak. Itulah ganjaran bangun siang, kalo kata orang jaman dulu.. rejekinya dipatok ayam. Hahahha. Di Ryuzu, kami makan udon dulu untuk makan malam, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami harus sampai Tokyo setidaknya jam stgh10 malam, karena jam 10.15 kami sudah harus naik bis Willer Express ke Kyoto. Selamat berpacu dalam waktu!

Ryuzu Falls

Perjalanan dari Nikko ke Tokyo sangatlah tidak mulus. Diawali dengan menunggu kereta di peron yang salah. Dan kami harus berkejar2an dengan kereta di peron lain yang akan segera berangkat. Di tengah jalan, kami dipindahkan ke kereta Express (alias lebih mahal). Kami pikir kami tidak harus membayar lagi, tapi ternyata kami harus bayar lagi, atau kami harus turun. Mau ga mau kami membayar, karena kami harus sampai ke Tokyo pukul setengah 10, dan tidak ada waktu untuk menunggu kereta lagi. Saya deg-degan dalam hati, takut tidak sampai di terminal tepat waktu.

Kami sampai di stasiun Asakusa setengah 10, kemudian harus naik subway lagi ke stasiun Shinjuku, tempat terminal bis berada. Tidak saya sangka-sangka, perjalanan ke Shinjuku cukup jauh. Dalam pikiran saya di Jepang kemana-mana deket, karena transportasinya gampang. Di tengah jalan di subway, kami melirik jam dan sudah pukul 09.45. 30 menit lagi menuju keberangkatan bis! Saya dan Melta memutuskan turun dan naik taksi ke Shinjuku, dengan ekspektasi perjalanan lebih cepat. Taksi di sini ternyata lebih mahal daripada di Osaka, sekali buka pintu 700 yen. Ternyata, Shinjuku letaknya memang agak lumayan, kami sampai sana pukul 22.25 dengan argo taksi seharga 4500 yen. Gila, stres banget, baru kali ini naik taksi seharga Rp500.000 dengan waktu tempuh 30 menit, mana tetep telat pula!

Kami sudah telat 10 menit dari pukul 22.15. Dan bispun sudah pergi. Ya, inilah Jepang, telat 1 menit aja ditinggal, apalagi 10 menit. Padahal saya sudah memohon untuk ditunggu dengan meng-email ke Willer Express. Tapi apa daya.. Perasaan kesal sekesal-kesalnya ini pun muncul kembali, udah capek-capek naik kereta Express, naik taksi 500ribu, tapi tetep aja telat! Akhirnya, tiket bispun Cuma di-refund 50%.

Saat itu saya hanya memiliki 2 pilihan, naik bis ke Osaka lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto via kereta (Osaka ke Kyoto cuma 30 menit). Atau naik bis ke Kyoto keesokan harinya dengan harga tiket 2x lebih mahal. Akhirnya kami memutuskan naik bis ke Osaka (3900 Yen). Bisnya tidak sebagus kemarin dan harganya lebih murah sedikit, tapi tidak apa, yang penting kami bisa ke Osaka. Kami pun menunggu jam keberangkatan bis, pukul 00.30.

Karena bisnya tidak sebagus kemarin, bis ini tidak ada selonjoran kaki, tutup kepala dan juga chargeran. Di bis itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam, tidak sepulas waktu naik bis dari Osaka ke Tokyo.

*1 Yen = 113.5 Rupiah


Minggu, 10 Agustus 2014

Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya >> Derawan Islands: July 2014

Day 5: Derawan-Tanjung Batu-Berau-Biduk Biduk
Dengan modal google dan modal nekat, kami ber3 melanjutkan perjalanan ke desa Biduk Biduk. Di sini ada tempat bernama Labuan Cermin yang cakeeeeeeeeup banget! (kata mbah Google)

Perjalanan menuju desa ini tidaklah mudah, dari Derawan kami harus menempuh perjalanan laut selama 30 menit ke Tanjung Batu (biaya Rp 70.000). Dari Tanjung batu kami mengikuti travel seharga Rp100.000 (kalo ga high season harganya 70000) menuju Berau (kota Tanjung Redeb) lewat jalan darat berkelak kelok selama 2.5 jam. Dari Tanjung Redeb kami menggunakan travel lain (CP: Mas Hadi-081346665355) menempuh perjalanan darat berkelak kelok selama 5 jam sampai ke Desa Biduk Biduk (Rp 150.000-harga asli Rp135.000). Fyi travel di sini kita naik mobil dengan penumpang lain. Kira2 7-8 orang di dalam mobil Avanza. Jika ingin mencarter mobil untuk Anda sendiri, Anda bisa membayar sekitar Rp 800.000 per mobil dari Berau.

Kami sampai di Biduk Biduk kira-kira jam 9 malam, saya sudah membooking Penginapan Selvia untuk dijadikan tempat tinggal kami selama di sana. Ketika sampai di sana hal tak diduga pun terjadi, kamar yang sudah kami pesan diberikan pada orang lain dengan alasan, “dari tadi mbak tidak bisa dihubungin.” F*CK!!! Gila yaaa, gue udah confirm dan telepon nih penginapan sampai 3 kali, bahkan sehari sebelum ke biduk biduk, tapi pihak penginapan dengan santainya memberikan pada orang lain. Duarrrr! Gue ga bakal rekomenin ini penginapan, meskipun di internet yang muncul Cuma penginapan selvia, masih banyak penginapan yang lain! Kata supir saya ada penginapan Miranti yang lebih recommended. Baik dari soal pelayanan maupun view.

Ditolak di penginapan selvia, kami pun mengelilingi desa tersebut (yang sedang mati lampu) untuk mencari penginapan lain. Pencarian tidak membuahkan hasil. Semua penginapan di desa tersebut (Cuma ada 5 sih) habis dibooked orang. Maklum high season! Banyak penduduk sekitar situ yang berwisata ke biduk-biduk. Bapak supir pun ternyata berhati baik, ia mencarikan kami tempat teduh di rumah keluarganya, meskipun rumahnya kecil dan sederhana, yang penting kami bisa tidur malam itu. Blessed we are! Jadi berasa live in! hahahaha.

Fyi, di desa biduk biduk sangat jarang air tawar, adanya air asin. Si bapak Mudasir pemilik rumah pun (tadinya dia kepala desa) menawarkan untuk mandi ke tempat tetangga bila ingin air tawar. Saya sih merasa tidak enak, dan tidak masalah mandi dengan air asin. Tapi nona vincen dan ci lois pengen mandi air tawar, jadilah kita mandi di rumah tetangga keesokan harinya. Konon katanya hanya ada 2 rumah di biduk biduk yang punya air tawar…

Day 6: Teluk Sumbang-Pulau Kaniungan Besar
Di belakang rumah kami terdapat dermaga, oleh karena itu kami nyewa perahu kecil dari situ untuk memutari daerah ini. Bila tidak, Anda dapat menyewa perahu di Teluk Sulaiman. Harga perahu Rp 400.000 seharian. 
Kami naik perahu ditemani bapak dan juga anaknya yang paling kecil, Mila. Bapak dan ibu yang kami tempati memiliki 5 orang anak. Anaknya yang paling besar sudah berkeluarga, sementara yang paling kecil masih SD. Bapak juga membawa makanan untuk bekal kami di Teluk Sumbang, bekal ini dimasakkan oleh ibu.

Setelah perjalanan dari desa biduk-biduk selama 2 jam, sampai juga kami di Teluk Sumbang. Di sini ada air terjun kecil dan besar. Air terjun kecil dekat dari pantai sementara membutuhkan waktu 1.5 jam untuk trekking ke air terjun besar. Nona vincen dan ce lois ga pengen trekking jauh-jauh, maka kami memutuskan cuma main di air terjun kecil.

air terjun kecil di teluk sumbang

Jujur air terjunnya sih biasa, apalagi ditambah banyaknya pengunjung hari itu, rasanya menjadi kurang spesial. Sehabis bermain di teluk sumbang, kami makan siang di kapal. Meskipun menunya sederhana tapi kebersamaannya terasa. Makasih ya bapak dan mila!

Habis makan kami snorkeling di pulau kaniungan besar, ikan dan karangnya bagus-bagus. Sayang saya sempat panik saat snorkeling di situ, jadi rasanya kurang nikmat. Huhu. Btw kayanya next trip musti beli kamera underwater sendiri nih, biar bisa foto biota laut yang ucukk. *brb nabung*

Sepulangnya kami ke rumah di biduk biduk, kami berjumpa dengan beberapa tamu ibu yang merupakan agen Herbalife dari Berau (keren ye produknya bisa sampai ke pelosok!). Kami ngobrol ngobrol sambil mati lampu (entah kenapa tiap malam jam 8 malam mati lampu). O ya, di desa ini lampu hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, sisanya mati lampu. Hari itu saya mulai betah di rumah bapak, rasanya sedih juga ya besok sudah pulang.

Day 7: Teluk Sulaiman-Danau Labuan Cermin
The day has come! When we will go to Labuan cermin!

Pagi pagi kami ke Teluk Sulaiman, untuk bermain-main. Di sini banyak kapal dan perahu, memang dermaga besarnya berada di sini. Sehabis itu kami pulang kembali untuk makan siang. Kami menunggu waktu kepergian kami ke Labuan cermin yang sudah diatur oleh bapaknya. Namun rasanya lamaaa sekali kami harus menunggu sampai akhirnya kami ke sana. Jam 3 sore kami baru ke sana itu juga kami terancam batal ke sana.

Usut punya usut, ternyata terjadi miskomunikasi antara bapak dan pihak manajemen Labuan cermin. Bapak sudah mendaftar dari kemarin untuk kepergian hari ini, tapi ternyata tidak diinfokan lagi oleh pihak manajemen kalau nomor antrian sudah dekat. Alhasil pas kami ke sana nomor antriannya sudah lewat dan kami terancam tidak bisa pergi. Setelah agak bersitegang, kami akhirnya berhasil ke sana dengan mulai mengantri lagi. Akhirnya jam 4 kami menyeberang ke Labuan cermin (harga: Rp10.000 per orang. Jika ingin carter perahu bisa, harganya Rp100.000 per kapal). Buat yang mau ke sana, langsung saja datang on the spot jangan pake daftar-daftar!

Ternyata, pergi ke Labuan cermin di sore hari merupakan suatu kesalahan. Labuan cermin paling indah dinikmati saat jam 12 siang saat matahari di atas kepala (saya sudah tahu mengenai hal ini, tapi karena tripnya diurus sm bapak ya saya ikut saja). Basically, Labuan cermin merupakan danau dengan 2 rasa, air asin dan air tawar. Air asin berada di bawah dan air tawar di atas. Danau ini sangat unik, bahkan pernah masuk ke salah satu program tv. Karena atasnya air tawar, saat ada sinar matahari, airnya sangat jernih bahkan bisa memantulkan pemandangan di sekitarnya. 

Kecewa. Destinasi yang kami impikan bahkan hingga mengorbankan perjalanan sebegitu lama ternyata tidak sebagus yang kita bayangkan. Salah timing! Danau tersebut tidak terlihat cantik dan jernih. Berbeda dengan teman saya yang mengunjunginya saat siang hari. Ya sudahlah, akhirnya saya berenang di sana pake ban. Airnya bener bener dingin dan menyejukkan. Kalo kata nona sih ga ada ikan di sana, tapi kata mbah google ada. Hmmm..

 
EXPECTATION (dari Mbah Google)

REALITY (diambil jam 4 sore)

Actually setelah beberapa lama dapet juga foto yang agak mending

Foto dari temen yang pergi ke sana beberapa hari sebelum gue, pas di jam 12 siang
(Photo by Lilis Sundari)

Pelajaran yang bisa dipetik selain jangan ke Labuan cermin sore2 adalah jangan ke Labuan cermin saat libur lebaran karena ramenya luar biasa. Teman saya yang pergi ke sana 2 hari sblm lebaran masih merasakan sepinya tempat tersebut. Dan satu lagi! Jangan pernah pergi ke best spot di hari terakhir liburan! Karena bila tidak berhasil, Anda tak akan punya kesempatan ke sana lagi keesokannya. Pergilah di hari pertama Anda liburan! Lesson learned.

Sepulang dari Labuan cermin kami pamit dengan keluarga Bapak Mudasir yang luar biasa baik. Kami memberikan tip padanya (Rp 400.000) karena telah menampung dan menerima kami sebagai keluarga selama 2 malam. Jujur, yang paling berkesan dari Labuan Cermin bukan pemandangannya, tapi kehangatan dan kebersamaan bersama keluarga Pak Mudasir, beserta ibu dan anak cucunya. Tak lupa ibu agen herbalife dari berau dan anak2nya. Semua terasa hangat, sampai sampai saya hampir menitikkan air mata sebelum berpisah. Ternyata inilah hikmah dari tidak mendapat penginapan selvia. Pengalaman yang lebih berharga menanti :”)

Keluarga Bapak Mudasir (bapak, ibu, 4 anak dan 2 cucu)

Kami pun menempuh perjalanan ke Berau (kota Tanjung Redeb) selama 5 jam (Rp 800.000 untuk sewa mobil. Tadinya kami sewa untuk kami sendiri tapi abangnya malah angkut 2 penumpang lain dan bilang harga segitu pas karena kami sudah diantar ke Teluk sulaiman dan Labuan cermin. Rrrrrr!)

Di Tanjung Redeb kami tidur di Hotel Eksekutif (220.000 per malam sudah pake AC). Nikmatnya tidur di kasur empuk dan di bawah AC! Hahahahha.

Day 8: Ibukota Berau (Tj. Redeb)-Jakarta
Sebelum pulang ke Jakarta, kami makan di resto rekomendasi pemilik hotel, namanya Sari Ponti. Restoran seafood ini makanannya enak enak. Kami memesan kepiting dan udang dan rasanya luar biasa. Baru kali ini nemu resto seafood enak selama kami di Kalimantan. Hahahhaa. Harganya juga sepadan sih, 1 orang habis Rp 110.000

Kami pun diantar ke bandara dengan mobil hotel (biaya Rp75000 untuk segrup-kami ber3). Bandara Berau juga cukup bagus walaupun tidak terlalu besar. Sayang, penerbangan kami dengan pesawat Garuda harus de-delay sampai 2 jam. O iya, untuk pesawat dari Berau ke Jakarta, kami dapat yang paling murah Rp 1.600.000 naik Garuda. Hahahhaa.

Jam 11 malam pun kami sampai di Jakarta! Bye bye Kalimantan timur! :”)

Kalimantan: done. Tinggal Sulawesi sama Maluku yang belum pernah gue langkahkan kaki.

Total biaya selama 8 hari, kira-kira Rp 6.500.000,- dengan perincian seperti disebutkan di atas.


Membandingkan 2 kota besar di Kalimantan Timur: Tarakan dan Berau. Kedua kota ini menjadi meeting point trip derawan. Perjalanan dari Jakarta ke tarakan lebih murah daripada Jakarta ke berau, bedanya kalo dari tarakan ke derawan langsung 3 jam naik boat sementara dari berau 2.5 jam dulu naik mobil baru stgh jam naik kapal. Kalo rame rame ikut trip, oke dari Tarakan bisa sewa kapal buat rame-rame. Tapi kalo pribadi kayanya mendingan dari Berau, ngetengnya lebih gampang. Kotanya sendiri lebih maju Tarakan, tapi sepertinya Berau dengan sumber daya tambangnya akan berkembang jauh lebih pesat lagi selama beberapa tahun ke depan.

Kepulauan Derawan: Juli 2014

Setelah 2 bulan yang lalu pergi ke Komodo, sekarang saya pergi ke Kalimantan! Hahahha. Kesannya kaya duitnya ga abis-abis ya, padahal yang ke komodo kemarin itu hadiah ultah dari emak. Kalo yang Kalimantan ini sih bayar sendiri, ngerogoh kocek tabungan plus irit irit makan siangnya. Hahahhaa.

Udah lama rasanya pengen ke Derawan, beruntung beberapa teman yang ke Komodo bareng ngajakin ke Derawan. Gue biasanya kalo ada yang ngajakin ngetrip pasti diiyain, asal waktu dan duit cucok. Nah pas banget nih ke Derawan pas libur lebaran seminggu. Awalnya sempat ketar ketir juga takut cutinya ga diapprove, tapi ternyata memang dapet libur seminggu dari kantor. Horeeee!

Day 1 : Jakarta-Balikpapan-Tarakan
Perjalanan dimulai pada hari jum’at tanggal 25 Juli. Gw ijin setengah hari di kantor. Gue ambil hari jum’at, karena tiket pesawatnya yang lebih murah dibanding hari sabtunya, bisa lebih murah 500rb sampai sejuta. Harga tiket Lion Air hari itu Rp 1.080.000 Jakarta-Tarakan gw beli 2 bulan sebelumnya. Ternyata oh ternyata, menjelang hari H tiket2 itu pada turun harga, bahkan yang hari sabtu ada yang cuma 800rb. Baru tau gue kalo tiket pesawat bisa turun drastis mendekati hari H. Kayanya sih karena pesawatnya kurang laku. Yah mungkin siapa juga yang mau mudik ke Balikpapan, ye kan? Bener aja, pesawatnya sepiii beneur. Hahaha.

Gue ke bandara kira-kira jam 12an, sampai di sana jam 1, sudah ditunggu di A&W oleh 2 teman trip saya, nona Vincen dan Ci Lois. Di A&W terminal 1c ini gue hampir makan staples! Gila aja, ada staples di dalem ayam gorengnya. Habis itu gue tegur deh mbak2nya, sampe managernya keluar minta maap dan mau ngeganti ayamnya. Tapi karena udah gue abisin juga ya gue tolak lah. Hahahhaa. 

nona vincen-ce lois-saya

Kami berangkat pukul 14.50 dan sampai di Balikpapan 2 jam setelahnya. Bandara Balikpapan ini bener bener kece ya! Bahkan ada playgroundnya di setiap gate. Salah satu bandara terbaik yang pernah gue liat di Indonesia. Setelah menunggu kira-kira setengah jam, kami naik pesawat lagi menuju Tarakan. Sampai Tarakan kira-kira sudah jam 9 malam. Kami naik taksi (harga dipatok 75000) menuju hotel yang sudah kami pesan di Agoda, Hotel Padma Tarakan (Rp 400.000 semalam). Hotelnya cukup luas dan oke, sayang toiletnya agak bau. Setelah menaruh barang, kami pergi ke tempat kepiting soka enak rekomendasi supir taksi. Kami ke sana dengan angkot seharga Rp 5000. Sayang, kami sedikit nyasar dan ternyata tempat yang dituju sudah tutup jam segitu. Kami pun makan di tempat makan (lupa namanya) yang buka dan terlihat ramai, kami makan ayam dan ikan di situ seharga 36.000. Usai makan kami menunggu angkot yang tak kunjung datang. Thank god, ada mas2 dan ibu2 baik hati yang mau memboncengi kami dengan motornya sampai depan hotel. Bahkan si ibu pun gam au dibayar. Ternyata bener kata abang taksi, orang Tarakan ini baik-baik. Katanya sih, kalau ada motor ga dikunci di tengah jalan, mau ditinggal berapa lamapun tetep saja tidak ada yang mengambil. Haha.

Day 2: Perjalanan ke Pulau Derawan
Kami dijemput oleh pihak tur wisatakita.com jam 11 di hotel, kami pun dibawa ke tempat meeting point yaitu di pelabuhan Tarakan untuk berangkat bersama 27 peserta trip lainnya (total ada 30 orang). Kami berkenalan dengan beberapa orang di sana, ada Jimmy, Shella, Novita dan Alex, yang belakangan menjadi dekat sepanjang perjalanan. Kami sudah memesan wisatakita sebelumnya dengan harga Rp 2.100.000 (penginapan basicnya homestay, tapi bisa memilih penginapan lain dengan harga variatif dengan menambah biaya). Nona Vincen pengen kamar yang ada AC-nya, jadi kita nambah 150an ribu.

Pukul 2 kami berangkat menuju kepulauan Derawan, perjalanannya sangatlah memabukkan, dikarenakan kapal yang bergerak sangat cepat sehingga kami sedikit terpental. Sekitar pukul 5 sore, kami sudah sampai di Derawan. Kami menaruh barang di penginapan Derawan Fisheries. Penginapan ini berada di dekat pantai dan langsung memiliki view laut serta sunset. Meskipun harganya tidak terlalu mahal, tapi viewnya oke. Bahkan kami bisa melihat penyu seliweran di dekat kamar bila beruntung. Kami kemudian melihat sunset di dermaga, makan lalu keliling pulau derawan untuk jalan-jalan malam. Pulau ini cukup hidup di malam hari (tapi jangan bayangin kaya Gili Trawangan). Banyak tempat makan dan toko souvenir yang buka. Usai jalan-jalan kami langsung istirahat di kamar. Sangking capeknya hari itu gue tidur jam 10 (jarang jarang loh! :P)

Sunset di dermaga penginapan kami, Derawan Fisheries

Day 3: Nabucco-Maratua-Kakaban
Alasan kami memilih trip wisatakita.com adalah karena ada itinerary ke Nabucco, sementara trip lain jarang yang ke Nabucco. Benar saja, ternyata pilihan kami tidak salah. Nabucco yang menjadi destinasi pertama di hari itu benar benar top markotop. Degradasi warna laut dari biru muda ke biru tuanya benar benar memanjakan mata. Gila deh, kalo ada orang yang bilang surga itu ada di Indonesia, hal itu benar adanya. Si Nabucco ini merupakan sebuah resort yang masih menjadi bagian dari pulau Maratua. Perjalanan dari derawan ke Nabucco 2 jam menggunakan kapal. Destinasi paling jauh. Karena nabucco sudah menjadi resort, tentunya masuknya harus bayar. Entah berapa pihak wisata kita membayar ke manajemen resort, kita sih tinggal ongkang ongkang kaki sama foto selfie.

Me at Nabucco

Puas main di Nabucco, perjalanan dilanjutkan ke Maratua. Kami agak kaget melihat Maratua tidak secantik yang ada di google, padahal katanya Maratua itu yang paling cantik di kepulauan Derawan. Ternyata airnya memang lagi surut, jadi gradasi air di pantainya tidak terlihat sama sekali. Agak kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kita tidak bisa memprediksi alam. Toh kita sudah ke Nabucco juga kan. Untungnya kita ke sana :”))

ki-ka: cuni, novita, alex, shella, jimmy, vincen, lois, maria at maratua
(photo by wisatakita)

Setelah bermain di pantai Maratua, kita snorkeling sebentar di dekat Maratua, lalu kita menuju ke Pulau Kakaban. Setelah makan siang di sana, kami berenang di Danau Kakaban bersama ribuan ubur ubur (yang tidak menyengat). Stingless jellyfish ini konon katanya hanya ada di 2 habitat di dunia, satu di Pulau Kakaban, satu di Palau, Micronesia. Wah, betapa bangganya ya kita sebagai orang Indonesia.
Ubur ubur ini sangatlah cantik bahkan saya sampai senyam senyum dan ketawa sendiri pas snorkeling. Dari kecil sampe gede semuanya berenang di danau ini. Sayang danaunya agak keruh, kurang tahu juga sih apakah memang keruh dari sananya atau keruh karena kotor.

me with stingless jellyfish (photo by wisatakita)

Usai snorkeling sama ubur-ubur, kita snorkeling di depan pulau kakaban bareng ikan dan karang yang cantik-cantik. Ya ampun cakepnya subhanallove! Beruntung saya snorkeling jauh jauh dari pantai, makin jauh makin kelihatan cantiknya biota lautnya. Puas snorkeling kamipun pulang ke derawan.

Sunset hari itu kami habiskan di dermaga utama Pulau Derawan sambil foto-foto. Setelah puas, kami pun jalan-jalan lagi di pulau derawan, kali ini bareng sama rombongan kaleng rombeng hahahaha. Anak anak yang deket pas trip, kita ber7 (Cuni, Lois, Vincen, Jimmy, Shella, Alex, Novita. Ada 1 lagi si Maria tapi dia ga ikut kita jalan malam ini). Kita jajan jajan dan liat liat souvenir. Sempet makan jagung bakar juga dan es kelapa.

Oh iya, hari itu bertepatan dengan malam takbiran. Suara petasan dan kembang api di mana mana, udah kaya di kota besar aja. Keren deh! Sayang aja petasan yang dimainkan oleh anak anak kecil ini agak mengerikan, jarangnya dekat banget dan takut kena rasanya. Hiiy!

Day 4: Gusung-Sangalaki-Samama
Hari ini dimulai dengan pergi ke pulau Gusung yang letaknya tidak jauh dari Derawan. Pulau ini sangatlah kecil, di sana kita main di pasirnya yang putiiiih banget. Spot yang bagus buat foto-foto! Setelah itu kami pergi snorkeling dekat situ dan kembali ke Pulau Derawan untuk makan siang. Kita juga sempat snorkeling di Derawan, karangnya ada juga di tempat yang rendah, sehingga melukai kaki saya dan menjadi oleh oleh kenangan sampai pulang ke Jakarta.

giant leap at gusung island

Setelah makan di Derawan Dive Resort (ini resort paling bagus di Derawan, ada beberapa orang trip kita yang tinggal di sini dan upgradenya 1.9 juta. Wew! Hampir seharga trip!), kami pergi ke pulau sangalaki. Kami ke pulau sangalaki pada saat surut, airnya beninnng banget dan coral serta karangnya menyembul ke permukaan air, benar-benar amazing. Di pulau ini kita juga bisa melihat anak anak penyu yang dilestarikan. Dan jika beruntung, Anda dapat bertemu manta di pulau ini, sayangnya kami kurang beruntung. Hahaha!

view dari derawan dive resort

beningnya air di pulau sangalaki

karang yang menyembul saat surut di sangalaki
(photo by wisatakita)

Pengejaran manta mengelilingi pulau sangalaki tidak berhasil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Samama. Di sini ada hutan Mangrove di pantai. Wow! Lagi-lagi berdecak kagum. Di gugusan kepulauan derawan ini bukan hanya ada pantai, ikan, karang, ubur-ubur, manta, tapi juga ada hutan mangrove. Lengkap sudah kesempurnaannya! Hahahhaa.

the girls at mangrove forest, samama island (photo by jimmy)

anak penyu berbaris rapi


Setelah dari Samama, kami kembali ke Derawan untuk naik banana boat! Setelah itu kami pun bersih2 badan dan mengelilingi pulau derawan di malam terakhir!

Mungkin ini malam terakhir di Derawan, tapi bukan di Kalimantan Timur, esok, kami bertiga akan melanjutkan perjalanan ke desa Biduk-Biduk, untuk melihat keajaiban alam yang lain! :)

Trip wisatakita.com cukup recommended. Guidenya, Mas Daniel orangnya asik dan cekatan. Tripnya juga jelas serta lengkap dan yang paling buat saya amaze adalah wisatakita punya life jacket yang dicustomize sendiri dengan bordiran nama tripnya. Hahahaha. Baru nemu kali ini!


Untuk postingan desa biduk biduk dan Labuan cermin dapat dilihat di sini >> Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin