Senin, 17 November 2014

Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto

DAY 6: OSAKA-KYOTO
Perjalanan menempuh waktu 8 jam. Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal Willer Express di Umeda Sky Building. Lagi-lagi tempat ini, sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terus kembali ke sini, ke Willer Express, ke Osaka. Udah 4 kali ke sini selama kami di Jepang. Di sana, saya membuang sepatu saya yang sudah tidak enak dipakai, sekalian buang sial. Hahahha. Saya meneruskan perjalanan dengan sandal jepit Melta, yang walaupun sempit, tapi lebih proper daripada sepatu saya.

Kami memiliki 2 pilihan untuk pergi dari Osaka ke Kyoto. Pertama, naik Shinkansen 10 menit dengan harga 1420 Yen* atau naik kereta biasa 30 menit dengan harga 560 Yen*. Rencananya saya akan naik Shinkansen saat pulang dari Kyoto ke Osaka (flight kami ke Indonesia dari Osaka). Kami pun naik kereta biasa dan.. voila! Dalam 30 menit kami sudah berada di Kyoto!

Stasiun Kyoto sangatlah luas, kami membeli Kyoto Bus Pass (500 Yen seharian) terlebih dahulu untuk berkeliling Kyoto nantinya. Kami berjalan kaki menuju penginapan J-Hoppers Kyoto (5300 Yen untuk 2 malam), dari stasiun kira-kira jaraknya 20 menit. Sesampainya di hostel, saya mandi dulu kemudian bersiap menjelajah Kyoto! Sehabis makan, saya mencari sepatu boots di Department Store dekat stasiun. Sangatlah sulit mencari sepatu dengan ukuran kaki saya 41. Sepertinya memang cewek2 Jepang kakinya kecil mungil, ga kaya saya. Akhirnya setelah 2 jam mencari, ketemu juga boots di GU. Ga disangka, harganya cukup murah dan ada ukuran saya. Langsung saja saya membelinya! (N.B: setelah saya kembali ke Jakarta, saya menemukan sepatu yang sama di UNIQLO dengan harga 2 kali lipat)

GINKAKUJI TEMPLE
Setelah belanja, kami pergi dengan menggunakan bis dari stasiun Kyoto ke Ginkakuji Temple, kami naik bis ke stasiun terdekat, kemudian jalan kaki menuju templenya. Sepanjang jalan menuju temple, terdapat berbagai jajanan dan pernak-pernik khas Jepang. Saya tergiur untuk membeli Es Krim Green Tea-nya (300 Yen). Nyam! Sepanjang saya di Jepang, semua makan di sini beserta jajanannya enak-enak. Ga ada yang ga enak. Bahkan melta yang katanya picky eater juga makan terus selama di sini.

I miss this ice cream when back to Jakarta

Ginkakuji (tiket masuk 500 Yen) ini templenya sangat rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Sayang, tidak ada guide yang bisa menceritakan asal muasal temple ini pada saya, keterangan di bookletnya pun menurut saya kurang jelas. Tapi menurut saya templenya sangat bagus. Saya mulai jatuh cinta dengan kota budaya, Kyoto. Sesuai dugaan saya sebelumnya..

Ginkakuji Temple

KYOMIZUDERA
Hari mulai sore, dan kami  memutuskan untuk pergi ke kuil lain, Kiyomizudera (tiket masuk 300 Yen). Perjalanan ke kuil ini juga dipenuhi stall2 makanan dan pernak pernik. Kami betah berlama-lama jalan di sini. Karena hari mulai sore, kami pun agak tergesa-gesa ke sana. Kiyomizudera adalah kawasan kuil yang sangat luas. Kami mengitari kuil ini selama 1 jam. Sayang, di sana, ada kuil yang sedang direnovasi. Kami menghabiskan sunset di tempat ini, melihat pemandangan kota Kyoto yang begitu cantik. Di mana-mana banyak wanita yang memakai Yukata. Mungkin lain waktu saya juga pengen nyoba jalan-jalan di Jepang pake yukata. Hihi.

Sunset in Kyoto from Kyomizudera

GION
Ternyata boots yang baru saya beli juga tidak senyaman itu saat dipakai. Saya pun menemukan sepatu kets Puma dengan harga diskon di jalan dan membelinya. Haha. Boros banget gue belanja2 mulu. Sehabis dari Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Gion. Kawasan ini adalah pusat perbelanjaan di Kyoto. Kawasan ini juga terkenal dengan Geisha-nya. Sayang, kami tidak menemukan Geisha saat itu.

Dari Gion kami pulang ke hostel. Kami makan di dekat hostel (650 Yen) lalu kemudian beristirahat. Menurut saya, hostel ini agak kurang nyaman. Dinginnya udara di luar masuk ke dalam, saya tidak tahu apa pemanas di dalam rusak atau dindingnya kurang tebal. Yang jelas, banyak orang juga mengeluhkan hal itu di internet. Showernya agak aneh karena harus ditekan tiap 5 menit sekali. Dan untuk menuju ke lantai atas tidak tersedia lift, alias harus naik tangga. J-Hoppers Hostel ini memang terkenal sebagai salah satu pelopor hostel di Jepang, sudah berdiri sejak tahun 2000-an. Mungkin karena sudah lama ini, maintenance-nya jadi kurang, berbeda sama hostel2 baru yang sebelumnya saya inapi. Kelebihannya, penerima tamunya ramah. Namanya Yulia, dan dia berasal dari Rusia. Hostel ini juga meminjamkan yukata free untuk kita berfoto-foto.

DAY 7 : KYOTO
Belajar dari pengalaman kami sebelumnya, kami bangun pukul 7 pagi dan berangkat pukul 8. Udah hari ke-7, baru belajar, telat booo! HAHAHHA.
Hari ini kami berencana akan pergi ke Kinkakuji Temple, kawasan Arashiyama dan juga Nishiki Market.

KINKAKUJI TEMPLE
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.

The beautiful Kinkakuji Temple (Golden Pavillion)

ARASHIYAMA
Kami naik bis ke Arashiyama di mana terdapat Togetsukyo Bridge, yang sangat bagus di musim gugur. Sayang, waktu itu daun musim gugur di Kyoto belum nampak. Puncak musim gugur di Kyoto itu bulan November. Saya terbayang  bagaimana indahnya jembatan tersebut dengan latar belakang daun musim gugur yang memukau. Setelah melewati jembatan, kami mengikuti jalan, yang akhirnya membawa kami ke Bamboo Path. Tempat ini sangat keren, terdapat jalan di mana kiri kanannya ada pohon bamboo yang tinggi menjulang. Cooooool! Setelah itu, kami naik Sagano Romantic Train (620 Yen) yang di sekitarnya terdapat pohon dan sungai cantik. Sagano train ini jadwalnya sejam sekali. Waktu saya ke sana, saya datang jam 1, tapi mendapatkan tiket yang jam 3. Harus menunggu agak lama untuk menikmati Sagano.

Togetsukyo Bridge

Bamboo Path

Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.


Sagano Romantic Train


View from Sagano Romantic Train

Pukul 9 malam kami pulang ke hostel dan saya berfoto-foto dengan yukata yang disediakan. Sayang si Mel ga mau foto pake yukata. Malam itu kami mulai packing dan menyadari bahwa bawaan kami berlipat ganda. Semoga kami tidak kena tambahan bagasi di flight esok hari.

DAY 8: KYOTO-KUALA LUMPUR
Tak terasa sudah hari terakhir di Jepang. Saya sangat sedih karena saya mulai mencintai kota ini, dan negara ini. Yaa selain itu males juga sih ke kantor tau bakal ada kerjaan numpuk. Hahaha. Hari ini kami bangun pagi kembali karena akan mengeksplor sebuah kuil yang tak kalah cantiknya dengan kuil lain, Fushimi Inari Shrine (free entry).

FUSHIMI INARI SHRINE 
Kuil ini masuk dalam peringkat pertama tempat di Jepang yang paling banyak dikunjungi oleh turis versi Trip Advisor. Terdapat ribuan gerbang untuk menuju puncaknya. Perjalanan menuju puncak memakan waktu 1.5 jam. Kami tidak sampai puncak dan hanya berhenti di tengah-tengah. Selain lelah, kami juga harus mengejar bis untuk kembali ke hostel lalu pulang ke Osaka.

Sepanjang Fushimi Inari Shrine pemandangannya begini semua

Sehabis makan siang, kami mengambil barang bawaan kami di Hostel kemudian ke stasiun Kyoto, tempat kita akan menaiki Shinkansen ke Osaka (1420 Yen). Shinkansen ini benar-benar cepat, dalam 10 menit kami sudah tiba di Osaka. Di luar kereta terlihat pemandangannya cepat sekali berubah, sementara di dalam, tidak terasa kecepatannya. Coool! Jika Anda memiliki banyak budget, Anda bisa menggunakan Shinkansen untuk berkeliling Jepang. Harganya sendiri sekitar 3 juta rupiah untuk satu minggu. Jarak dari Osaka ke Tokyo saja hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, berbeda dengan naik bis malam yang menempuh waktu 8 jam.

Tiket Shinkansen Kyoto-Osaka

Shinkansen (Japanese bullet train)

Setibanya di Osaka, kami menuju Namba untuk menaiki Nankai Express ke Bandara Kansai. Yang kami takutkan terjadi, tas kami overload sehingga harus menambah extra bagasi. Kamipun membayar 4000 Yen untuk kelebihan bagasi kami berdua. Di bandara, akhirnya kami bertemu Tokyo Banana, yang sangat sulit dicari di Jepang. Tokyo Banana ini sangat terkenal di Indonesia, sementara di Jepang, sepertinya biasa saja. Maklum, semua snack di Jepang memang enak-enak. Kata teman saya, kalau mau mencari Tokyo Banana yang lebih murah, bisa dicari di Tokyo Sky Tree. Perbedaan harga sampai dengan Rp 50.000 dibanding di bandara.

Pukul 4 sore, saatnya kami berpisah dengan Jepang. Sedih rasanya. Jam 10 malam kami sudah tiba kembali di Kuala Lumpur. Suasana di sana sangat berbeda. Kami bertemu dengan petugas imigrasi yang galak-galak, jauh berbeda dengan orang Jepang yang sangat baik dan sangat santun. Di Jepang, orang-orangnya sangat helpful. Meskipun mereka tidak bisa Bahasa Inggris, tapi mereka akan mencoba menjawab pertanyaan kita sekuat tenaga, saya sendiri sampai kasihan melihatnya. Mereka juga selalu berterima kasih dan minta maaf. Bayangkan, saya tidak sengaja menyenggol orang di bis, eh malah dia yang minta maaf. Padahal saya yang salah, jadi merasa gak enak sendiri..

Karena sudah tahu spot enak untuk tidur, kami mengunjungi Burger King yang sofanya bisa untuk ditiduri. Setelah makan malam di sana, saya pun tertidur. Cukup pulas hari itu. Keesokan harinya kami berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi dan tiba di Jakarta pukul 9. Selamat kembali ke kota yang panas dan macet. Hehehe..

Note:
*1 Yen = 113.5 Rupiah
Total biaya keseluruhan perjalanan kurang lebih Rp13.500.000 (jika tidak terjadi ketinggalan bus dan tidak belanja belanji, mungkin bisa Rp 11.000.000)

Arigatou Gozaimasu, Japan!

Jumat, 14 November 2014

Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko

DAY 4 : TOKYO
Setelah bermalam di bis dengan tidur yang cukup nyenyak, kami sampai di Tokyo tepatnya di Stasiun Ikebukuro. Dari Ikebukuro, kami naik subway ke Asakusa tempat hostel kami berada. Kami membeli tiket terusan subway untuk 1 hari penuh seharga 1000 Yen*. Kami menginap di Khaosan Asakusa Hostel World & Ryokan (3400 Yen per malam) dengan memesan tempat tidur ala Jepang, yang disebut Ryokan. Asakusa adalah daerah pusat budaya dan pernak pernik tradisional Tokyo, berbeda dengan bagian Tokyo lain yang “kota” banget. Setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Tsukiji Fish Market.

TSUKIJI FISH MARKET
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.

MEIJI SHRINE dan HARAJUKU
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.

Sehabis dari Meiji Shrine kami ke Harajuku. Saya berharap bisa menemukan jaket tebal dan boots di sini. Karena kabarnya harganya ada yang miring. Tapi setelah berputar-putar, saya tidak menemukan yang harganya miring. Kami malah berakhir belanja di Daiso untuk keperluan pribadi dan oleh-oleh. Saya juga berharap melihat banyak yang cosplay di sini, namun karena cuaca jelek dan hari itu masih hari biasa, tidak begitu banyak orang cosplay.

Meiji Shrine

Harajuku Street

Wallpaper at Harajuku Street

SHIBUYA dan SHINJUKU
Mengejar waktu, kami pun pergi ke Shibuya. Di sana adalah pusat kota Tokyo, di mana terdapat persimpangan Shibuya yang sangat ramai orang berlalu lalang. Kami mencari patung Hachiko, anjing yang terkenal itu. Agak susah mencari patung Hachiko, dalam bayangan saya patungnya besar, namun ternyata kecil dan sulit dicari.

Di Shibuya ini kami makan malam di Pepper Lunch. Sistem pemesanannya agak unik karena kami harus memilih menu dan membayar di boks panjang (seperti boks minuman kaleng), lalu mengambil bon dan memberikannya pada pelayan di sana. Pepper Lunchnya kurang lebih sama seperti yang di Jakarta. Yang saya amati sejak saya sampai di negara ini adalah banyaknya bangku untuk makan sendiri atau mengitari dapur. Jarang bangku yang untuk rame2. Sepertinya orang Jepang lebih senang makan sendirian daripada bersama orang lain.


Shibuya Crossing Line

Patung Hachiko

Selepas dari Shibuya kami ke Shinjuku. Shinjuku ternyata kurang wah dibanding Shibuya, padahal dalam bayangan saya Shinjuku itu lebih wah. Hehehhe. Saya menemukan UNIQLO lalu membeli jaket di sana. Akhirnya ketemu jaket juga! Sementara itu bootsnya belum ketemu, padahal kaki saya sudah sakit sekali ditambah sepatunya kemasukan air hujan :(

Kemudian kami pulang ke Asakusa dan berharap bisa melihat pasar tradisional Nakamise di sana, sayang pasarnya sudah tutup dari jam 5 sore. Saya pun Cuma berfoto di kuil ini..

DAY 5: NIKKO
Kami bangun pada hari itu sekitar jam 10. Kami benar-benar pemalas, karena terlalu lelah setiap malamnya. Saya membayangkan perjalanan dari Tokyo ke Nikko hanyalah 1 jam. Tapi ternyata 3 jam. Jeng jeng jeng! Alhasil hari itu diawali dengan terburu-buru, kejar-kejaran sama kereta.

Kami melihat lihat sebentar ke Nakamise Shopping Street, tempat di mana banyak pernak pernik tradisional dijual, kemudian makan di MOS Burger (700 Yen). Setelah itu kami langsung naik kereta menuju kota Nikko (1360 Yen). Nikko menjadi tujuan kami di Jepang karena di bulan Oktober ini, di Nikko sudah musim gugur. Kota lain juga sudah musim gugur, namun belum banyak bunga musim gugurnya. Sementara di Nikko, sudah banyak. Kami berniat pergi ke beberapa air terjun yang di kanan kirinya ada autumn leaves.

Perjalanan dari Tokyo ke pusat kota Nikko ditempuh selama 2 jam 10 menit dengan menggunakan kereta Nikko Tobu Line dari stasiun Asakusa. Sesampainya di stasiun Nikko, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Okunikko (menggunakan Nikko Day Pass 2000 Yen tergantung jarak), tempat air terjun2 itu berada. Perjalanan ke Okunikko berjarak 1 jam dengan menggunakan bis, kami pun langsung ke Kegon Falls (tiket masuk 550 Yen). Air terjun yang katanya paling besar di Nikko.

Naik air terjun di sini sangatlah berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia kita harus trekking berjam-jam untuk melihat indahnya air terjun, sementara di sini kita tinggal naik lift menuju ke atas, lalu sampailah ke Observation deck air terjun. Memang, kita hanya bisa melihat air terjun tanpa bisa main dan mandi-mandi di sana. Tapi itu saja sudah sangat bagus. Kami melihat daun musim gugur di air terjun tersebut, belum benar-benar merah, tapi sudah lumayan lah.
                                                                              
Kegon Falls

It's autumn in Nikko!

Pukul 5 kami melanjutkan perjalanan ke Ryuzu Falls (naik bis 420 Yen), sayang sampai sana sudah gelap, mana semua petunjuk jalan bertuliskan huruf kanji. Akhirnya kami berhasil melihat Ryuzu falls, yang jauh lebih kecil daripada Kegon. Namun sangat cantik karena di sebelah kiri dan kanannya ada autumn leaves. Saya agak menyesal sampai di sini sesore ini, karena kalo lebih siang pasti pemandangannya jauh lebih indah dan spot yang didapat pasti lebih banyak. Itulah ganjaran bangun siang, kalo kata orang jaman dulu.. rejekinya dipatok ayam. Hahahha. Di Ryuzu, kami makan udon dulu untuk makan malam, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami harus sampai Tokyo setidaknya jam stgh10 malam, karena jam 10.15 kami sudah harus naik bis Willer Express ke Kyoto. Selamat berpacu dalam waktu!

Ryuzu Falls

Perjalanan dari Nikko ke Tokyo sangatlah tidak mulus. Diawali dengan menunggu kereta di peron yang salah. Dan kami harus berkejar2an dengan kereta di peron lain yang akan segera berangkat. Di tengah jalan, kami dipindahkan ke kereta Express (alias lebih mahal). Kami pikir kami tidak harus membayar lagi, tapi ternyata kami harus bayar lagi, atau kami harus turun. Mau ga mau kami membayar, karena kami harus sampai ke Tokyo pukul setengah 10, dan tidak ada waktu untuk menunggu kereta lagi. Saya deg-degan dalam hati, takut tidak sampai di terminal tepat waktu.

Kami sampai di stasiun Asakusa setengah 10, kemudian harus naik subway lagi ke stasiun Shinjuku, tempat terminal bis berada. Tidak saya sangka-sangka, perjalanan ke Shinjuku cukup jauh. Dalam pikiran saya di Jepang kemana-mana deket, karena transportasinya gampang. Di tengah jalan di subway, kami melirik jam dan sudah pukul 09.45. 30 menit lagi menuju keberangkatan bis! Saya dan Melta memutuskan turun dan naik taksi ke Shinjuku, dengan ekspektasi perjalanan lebih cepat. Taksi di sini ternyata lebih mahal daripada di Osaka, sekali buka pintu 700 yen. Ternyata, Shinjuku letaknya memang agak lumayan, kami sampai sana pukul 22.25 dengan argo taksi seharga 4500 yen. Gila, stres banget, baru kali ini naik taksi seharga Rp500.000 dengan waktu tempuh 30 menit, mana tetep telat pula!

Kami sudah telat 10 menit dari pukul 22.15. Dan bispun sudah pergi. Ya, inilah Jepang, telat 1 menit aja ditinggal, apalagi 10 menit. Padahal saya sudah memohon untuk ditunggu dengan meng-email ke Willer Express. Tapi apa daya.. Perasaan kesal sekesal-kesalnya ini pun muncul kembali, udah capek-capek naik kereta Express, naik taksi 500ribu, tapi tetep aja telat! Akhirnya, tiket bispun Cuma di-refund 50%.

Saat itu saya hanya memiliki 2 pilihan, naik bis ke Osaka lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto via kereta (Osaka ke Kyoto cuma 30 menit). Atau naik bis ke Kyoto keesokan harinya dengan harga tiket 2x lebih mahal. Akhirnya kami memutuskan naik bis ke Osaka (3900 Yen). Bisnya tidak sebagus kemarin dan harganya lebih murah sedikit, tapi tidak apa, yang penting kami bisa ke Osaka. Kami pun menunggu jam keberangkatan bis, pukul 00.30.

Karena bisnya tidak sebagus kemarin, bis ini tidak ada selonjoran kaki, tutup kepala dan juga chargeran. Di bis itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam, tidak sepulas waktu naik bis dari Osaka ke Tokyo.

*1 Yen = 113.5 Rupiah


Rabu, 12 November 2014

Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka

Setelah liburan ke 2 tempat tahun ini, saya memutuskan untuk berlibur lagi! Hahhaa. Semua hanya gara-gara impulsivitas saya melihat tiket promo murah. Bayangkan, siapa yang tak terketuk hatinya melihat tiket promo Kuala Lumpur-Osaka hanya seharga 1.5 juta rupiah PP! Hahaha. Saya menemukannya di akun twitter @flyingpromo. Di sana banyak penerbangan dalam dan luar negeri dengan harga super miring! Hal itu bisa terjadi karena pemilik akun tersebut, Mas Efan, memiliki Air Asia loyalty card yang namanya BIG! Gile, bisa promo abis-abisan gtu. Nah gue pun mengajak Melta, yang memang juga pengen ke Jepang. Tahun lalu kami pernah membayangkan liburan ke Jepang bareng, dan ternyata terwujud aja loh. Dia pun langsung mau saja saat diajak, dengan syarat, bukan saat musim dingin. Akhirnya kami memutuskan pergi di pertengahan bulan Oktober. Agak nekat sih gue, mengingat akan ada tes DELF (macam TOEFL buat Bahasa Prancis) di bulan November dan gue harus mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Nah, untuk pergi ke negeri sakura ini kami harus mempersiapkan visa (yang kata orang agak susah dapetinnya). Dengan modal minjem duit emak, gue pun mengapply visa dan lolos! Hahaha. Ternyata apply visa jepang ga terlalu susah, tinggal masukin persyaratan yang ada di web, bayar biaya administrasi Rp320 ribu sama siapin rekening tabungan. Ga ada rumus pasti tabungannya musti berapa tapi kata orang-orang sih setidaknya 1 juta x jumlah hari kepergian lo ke sana. Misalnya lo ke sana 10 hari, lo musti nyiapin 10 juta..

Akhirnya tiba juga hari yang ditunggu-tunggu, 11 Oktober 2014. Saya dan Melta pergi ke Malaysia pada pukul 9 malam naik Lion Air (Rp900 ribu PP) untuk kemudian transit dan tidur di sana. Ini pertama kalinya saya tidur di bandara. Dan rasanya… ga enak! Hahahhaha. Iya lah, tidur di cuma di karpet dengan suara orang lalu lalang. Di bandara Kuala Lumpur ini memang tidak memungkinkan pengunjung untuk tidur di kursi. Kursinya didesain biar kita ga bisa tidur di sana. Beda banget sama bandara Kansai di Osaka yang kata teman saya, bisa tidur nyaman di kursi ditambah dikasi selimut. Waw! Yah walaupun Cuma di karpet tapi bandara KL itu nyaman, ga heran masuk dalam 10 bandara terbaik di dunia.

Day 1: KUALA LUMPUR-OSAKA

Setelah tidak bisa tidur selama semalam, kamipun berangkat ke Osaka pukul 8 pagi untuk menempuh perjalanan udara selama 7 jam. Di pesawat, kurang lebih sama keadaannya, gue cuma tidur-tidur ayam. Akhirnya sampai juga kami di Osaka, kurang lebih jam 4. Rasanya seneng campur terharu. Hahaha. Ini pertama kalinya gue ke luar negeri tanpa nyokap gue, ke Jepang pula gitu kan. 

Sesampainya di airport kami langsung mencari kereta yang menghubungkan airport dengan pusat kota Osaka. Nama keretanya Nankai Express (920 Yen*). Setelah 1 jam di kereta, kami pun sampai di stasiun yang dekat dengan tempat kami menginap. Kami memesan hotel kapsul di Agoda bernama Shin-Imamiya Hotel (Rp 230.000). Kami memesan hotel ini karena kami ingin merasakan menginap di hotel kapsul. Hotel kapsul yang lain sudah penuh di tanggal itu dan satu-satunya pilihan kami adalah hotel ini.

Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!

Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.
   
Expectation


Reality

NAMBA-DOTONBURI
Meskipun lelah dan ingin tidur, tapi tidak mungkin malam itu tidak kami lewatkan dengan berjalan-jalan. Kami pergi ke daerah Namba (naik JR Line 150 Yen*), pusat perbelanjaan dan nongkrong anak muda Osaka di malam hari. Di sana ada area Shinsaibashi dan Dotonburi. Isinya adalah outlet2 makanan dan fashion di sepanjang jalan. Seruu! Kami pun makan takoyaki enak 760 Yen* (tapi berujung enek karena mesennya kebanyakan). Malam itu dilewatkan dengan berjalan-jalan sampai kaki pegel. Kami pun kembali ke hotel dan tidur dengan lelapnya malam itu.

Dotonburi, Osaka

Day 2 : OSAKA

Dua pemalas ini kecapekan dan baru bangun tidur jam 10! Kami pun mandi, lalu bersiap pergi ke Osaka Castle.

Sebelum ke Osaka Castle kami pergi ke Umeda Sky Building (180 Yen* via JR Line) terlebih dahulu untuk menitipkan barang di loker Willer Express (500 Yen*), bis yang akan kami naiki nanti malam menuju Tokyo. Setelah makan siang, kami pun ke Osaka Castle dengan menggunakan JR Line (160 Yen*).

OSAKA CASTLE
Sesampainya di Osaka Castle, saya agak terkejut karena ada pengumuman bahwa Osaka Castle tutup karena akan ada taifun. What? Taifun? Another disaster come again to my holiday. Rrrrr. Walau begitu kami masih agak santai, dan berpikir bahwa taifunnya paling bakal ga parah2 amat. Walaupun tidak bisa masuk, kami cukup puas untuk berfoto di luar Osaka Castle. Bangunannya sangat bagus. Penasaran dalamnya seperti apa. Sepulangnya kami dari Osaka Castle, kami bertemu dengan seorang bule yang senang bertemu kami karena bisa bahasa Inggris (maklum, orang Jepang kebanyakan ga bisa Bahasa Inggris). Dia agak panik lalu menanyakan tentang taifun. Dia bertanya-tanya apakah taifun itu berbahaya? Dengan sotoynya gue bilang aja kayanya ga bahaya. Hahaha.

Osaka Castle

Kami sampai di stasiun JR dan mendapat info bahwa JR akan tutup jam 4 karena taifun. Sementara saat itu adalah jam 3. Saya agak panik apakah harus kembali ke tempat bis Willer, atau melanjutkan pergi ke tempat wisata lain. Saya pun memutuskan pergi ke tempat wisata lain yaitu Shitennoji Temple (160 Yen* via JR Line). Di stasiun JR dekat Shitennoji, saya bertanya pada petugas di sana apakah subway juga tutup jam 4 atau tidak. Ternyata tidak, kami pun bisa santai dan menikmati sisa hari itu dengan subway. Di Osaka, jaringan subway dan jaringan JR berbeda. Subway itu pasti di bawah tanah, sementara JR bisa di atas, bisa di bawah.

SHITENNOJI TEMPLE
Keluar dari stasiun JR, kami mendapati angin kencang dan juga hujan. Kami lupa membawa payung, maka kami masuk lagi ke dalam stasiun untuk menunggu hujan reda. Saya pun mulai panik, apakah ini yang dinamakan taifun. Saya mencoba mencari informasi dari teman saya yang pernah tinggal di Jepang soal taifun. Katanya sih tidak berbahaya. Tapi dosennya pernah nabrak pohon gara2 kebawa angin taifun. Itu sih katanya karena dosennya badannya kecil. Kesannya kalo saya tidak mungkin terbang gitu ya. Hahaha. Setelah mendapat penjelasan dari dia, saya agak merasa tenang. Memang, saya disarankan untuk tidak keluar keluar, tapi nanggung banget, masa diem aja di dalam. Hahahha.

Saya dan Melta kemudian mencari payung dan mendapatkan payung transparan ala ala orang Jepang (565 Yen*). Payung ini yang akhirnya melindungi kami selama perjalanan jalan kaki ke Shitennoji Temple. Dan.. setelah susah payah jalan ke sana, Shitennoji temple pun juga tutup! Hhh.. agak kecewa, tapi ya sudahlah kami berfoto-foto saja di depan. Sekembalinya dari Shitennoji Temple, kami langsung kembali ke tempat bis Willer Express. Rencana awalnya, kami ingin melihat-lihat Universal City Walk, namun karena perjalanan ke sana harus ditempuh dengan JR dan JRnya sudah tutup. Ya apa boleh buat.

Shitennoji Temple

Kami naik subway ke stasiun Osaka/Umeda (280 Yen), stasiun paling dekat dengan Umeda Sky Building. Stasiun tersebut sepi sekali, semua pusat perbelanjaan tutup, bahkan kami kesulitan mencari restoran. Ternyata memang semua pegawai di Jepang dipulangkan jam 4 sore, karena ada taifun. Dipikir-pikir canggih juga negara ini, bisa memprediksi bencana alam, dan semuanya akurat. Saya akhirnya makan sushi di Family Mart. Fyi, sushi Family Mart ini enak2, harganya juga cukup murah (1 kotak sushi sekitar 400 Yen). Setelah makan, dengan susah payah kami berjalan ke Umeda Sky. Angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Rasanya sekarang benar-benar taifun. Payung melta terbalik karena angin.

Sesampainya di terminal bis, another bad news come. Bis kami ke Tokyo di cancel karena taifun! Omygod, rasanya pengen nangis saat itu. Kenapa rasanya bencana ga abis-abis datang ke liburan saya. Dari komodo kena abu vulkanik, derawan ga dapet penginapan, sekarang di Jepang gue kena taifun. Rrrr. Beruntung, Melta anaknya woles. Dia menenangkan gue dan bilang “Ya udahlah, mau diapain lagi.” Haahahha. Itu kata kunci dia kalo udah pasrah sama segala sesuatunya. Akhirnya saya memesan bis ke Tokyo kembali keesokan harinya (cancellation bis hari ini direfund) dan hostel dekat situ di Agoda. Beruntung bisa dapat penginapan itu. Semakin malam ternyata taifun semakin parah. Kami tidak bisa pergi berjalan kaki ke penginapan karena hujan deras dan angin kencang. Payung saya pun terbalik. Kami bertemu dengan orang Indonesia yang menyarankan naik taksi, katanya naik taksi kalau dekat harganya 680 Yen (sekitar 70ribu rupiah). Yasudah akhirnya kami naik taksi ke penginapan, si bapak taksi yang tidak bisa Bahasa Inggris agak kesulitan menemukan itu hostel. Untung dia canggih dan bisa nyari lewat GPSnya sendiri. Akhirnya kami sampai di Drop Inn Osaka Hostel (Rp 342.000 per malam). Thank God we are safer now! Anyway, selama gue di Jepang, menurut gue ini hostel yang paling bagus. Meskipun satu ruangan bisa belasan orang, tapi tempatnya bersih, baru dan nyaman!

Day 3: UNIVERSAL STUDIO OSAKA

Seharusnya saya sudah berada di Tokyo hari ini. Ya, semua rencana berantakan gara-gara si taifun, tapi sekali lagi harus bersyukur karena masih hidup dan masih bisa tidur dengan pulas.
Hari ini saya memutuskan pergi ke Universal Studio Osaka (USO). Tempat yang tidak masuk daftar tujuan saya dari awal, karena basically menurut saya Universal Studio dan Disneyland itu sama di negara manapun.  Tempatnya lebih cocok untuk anak kecil dan masuk ke situnya mahal. Hahahhaa. Saya agak penasaran sama USO ini karena ada wahana baru, The Wizarding World of Harry Potter.

Universal Studio Osaka

Kami sampai di Universal Studio (180 Yen via JR Line) sekitar jam 1 siang, maklum bangun tidurnya aja baru jam 10. Udara sudah jauh lebih cerah dari kemarin. Taifun telah pergi jauh dari Osaka. Kami menitipkan tas di loker, kemudian membeli tiket seharga 6980 Yen. Agak heran karena tempat ini super super rame padahal hari biasa. Kami pun foto-foto di bola dunia khas Universal Studio  lalu langsung menuju ke wahana Harry Potter. Ternyata kita harus ambil jam antrian masuk dulu untuk masuk ke wahana ini, sangking banyaknya pengunjung yang mau ke situ. Kami dapat jam antrian masuk, jam 3. Sambil menunggu, kami menaiki wahana-wahana lain terlebih dulu. Satu hal yang agak ajaib dari USO adalah, setiap karakter di wahana yang kami naiki memakai bahasa Jepang. Kami sukses mengantuk saat karakter tersebut ngoceh-ngoceh sendiri dalam bahasa Jepang. Hahahha.

Akhirnya jam antrian masuk ke Harry Potter tiba juga. Begitu masuk, tempatnya benar-benar Wow! Persis kaya penggambaran dunia Harry Potter di film dan bukunya. Kami masuk ke hogsmeade dan melihat desa dengan rumah bercerobong asap dilapisi salju. Di sepanjang jalan kami melihat Honeydukes (yang super super antri masuknya), toko Ollivander dan masih banyak lagi. Kami melihat kerumuman orang mengantri Butterbeer dan kami berjanji akan minum juga setelah puas melihat-lihat.

Kami pun memasuki wahana utama di dunia Harry Potter tersebut, untuk memasuki wahana tersebut kami harus mengantri 2 jam! Sambil mengantri, kami memperhatikan orang-orang Jepang yang pake kostum unik-unik Cosplay. Waktu itu ada segerombolan cewek pake kostum berdarah-darah. Kami juga menghabiskan waktu dengan wifi-an. Thanks to japan wireless, again! Haha. Wahana yang di dalam, begitu mirip dengan kastil Hogwarts. Kami pun bermain seolah-olah naik sapu terbang untuk mengelilingi Hogwarts bersama Harry Potter. Overall, cukup seru, walau ga ngerti Harry ngomong apa. Hahahha. Malam mulai tiba saat kami keluar dari kastil. Kami pun mengantri butterbeer dan rasanya ternyata enak (1100 Yen sudah mendapatkan mug)! Gabungan butter dan beer hahahahha. Kami agak tertarik mengantri Honeydukes, tapi melihat antrian yang sangat panjang dan saat itu sudah super super dingin, kami mengurungkan niat tersebut dan keluar dari zona Harry Potter.

The Wizarding World of Harry Potter

Di cuaca yang sedingin itu saya cuma memakai cardigan dan sepatu yang tidak nyaman sama sekali. Tadinya kami mau pulang saja, tetapi karena sayang, kami melanjutkan mengitari USO, makan churros (450 Yen) dan melihat parade karnaval.

Kami pun pulang ke terminal willer express (180 Yen via JR Line), kali ini bisnya beroperasi dan kami bisa tidur di bis dengan nyaman selama perjalanan ke Tokyo. Bis willer express ini sangat bagus, ada selonjoran kaki dan juga tutup kepala serta selimut. Saya memesan tipe Relax seharga 4800 Yen. Terdapat berbagai pilihan harga dan fasilitas yang berbeda.


Ruang tunggu Willer Express Umeda Sky Building (photo from Google)


 
Bis Willer Express tipe Relax tampak depan (photo from Google)


Bis Willer Express tipe Relax tampak dalam (photo from Google)


*1 Yen = 113.5 Rupiah

Minggu, 10 Agustus 2014

Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin

Postingan ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya >> Derawan Islands: July 2014

Day 5: Derawan-Tanjung Batu-Berau-Biduk Biduk
Dengan modal google dan modal nekat, kami ber3 melanjutkan perjalanan ke desa Biduk Biduk. Di sini ada tempat bernama Labuan Cermin yang cakeeeeeeeeup banget! (kata mbah Google)

Perjalanan menuju desa ini tidaklah mudah, dari Derawan kami harus menempuh perjalanan laut selama 30 menit ke Tanjung Batu (biaya Rp 70.000). Dari Tanjung batu kami mengikuti travel seharga Rp100.000 (kalo ga high season harganya 70000) menuju Berau (kota Tanjung Redeb) lewat jalan darat berkelak kelok selama 2.5 jam. Dari Tanjung Redeb kami menggunakan travel lain (CP: Mas Hadi-081346665355) menempuh perjalanan darat berkelak kelok selama 5 jam sampai ke Desa Biduk Biduk (Rp 150.000-harga asli Rp135.000). Fyi travel di sini kita naik mobil dengan penumpang lain. Kira2 7-8 orang di dalam mobil Avanza. Jika ingin mencarter mobil untuk Anda sendiri, Anda bisa membayar sekitar Rp 800.000 per mobil dari Berau.

Kami sampai di Biduk Biduk kira-kira jam 9 malam, saya sudah membooking Penginapan Selvia untuk dijadikan tempat tinggal kami selama di sana. Ketika sampai di sana hal tak diduga pun terjadi, kamar yang sudah kami pesan diberikan pada orang lain dengan alasan, “dari tadi mbak tidak bisa dihubungin.” F*CK!!! Gila yaaa, gue udah confirm dan telepon nih penginapan sampai 3 kali, bahkan sehari sebelum ke biduk biduk, tapi pihak penginapan dengan santainya memberikan pada orang lain. Duarrrr! Gue ga bakal rekomenin ini penginapan, meskipun di internet yang muncul Cuma penginapan selvia, masih banyak penginapan yang lain! Kata supir saya ada penginapan Miranti yang lebih recommended. Baik dari soal pelayanan maupun view.

Ditolak di penginapan selvia, kami pun mengelilingi desa tersebut (yang sedang mati lampu) untuk mencari penginapan lain. Pencarian tidak membuahkan hasil. Semua penginapan di desa tersebut (Cuma ada 5 sih) habis dibooked orang. Maklum high season! Banyak penduduk sekitar situ yang berwisata ke biduk-biduk. Bapak supir pun ternyata berhati baik, ia mencarikan kami tempat teduh di rumah keluarganya, meskipun rumahnya kecil dan sederhana, yang penting kami bisa tidur malam itu. Blessed we are! Jadi berasa live in! hahahaha.

Fyi, di desa biduk biduk sangat jarang air tawar, adanya air asin. Si bapak Mudasir pemilik rumah pun (tadinya dia kepala desa) menawarkan untuk mandi ke tempat tetangga bila ingin air tawar. Saya sih merasa tidak enak, dan tidak masalah mandi dengan air asin. Tapi nona vincen dan ci lois pengen mandi air tawar, jadilah kita mandi di rumah tetangga keesokan harinya. Konon katanya hanya ada 2 rumah di biduk biduk yang punya air tawar…

Day 6: Teluk Sumbang-Pulau Kaniungan Besar
Di belakang rumah kami terdapat dermaga, oleh karena itu kami nyewa perahu kecil dari situ untuk memutari daerah ini. Bila tidak, Anda dapat menyewa perahu di Teluk Sulaiman. Harga perahu Rp 400.000 seharian. 
Kami naik perahu ditemani bapak dan juga anaknya yang paling kecil, Mila. Bapak dan ibu yang kami tempati memiliki 5 orang anak. Anaknya yang paling besar sudah berkeluarga, sementara yang paling kecil masih SD. Bapak juga membawa makanan untuk bekal kami di Teluk Sumbang, bekal ini dimasakkan oleh ibu.

Setelah perjalanan dari desa biduk-biduk selama 2 jam, sampai juga kami di Teluk Sumbang. Di sini ada air terjun kecil dan besar. Air terjun kecil dekat dari pantai sementara membutuhkan waktu 1.5 jam untuk trekking ke air terjun besar. Nona vincen dan ce lois ga pengen trekking jauh-jauh, maka kami memutuskan cuma main di air terjun kecil.

air terjun kecil di teluk sumbang

Jujur air terjunnya sih biasa, apalagi ditambah banyaknya pengunjung hari itu, rasanya menjadi kurang spesial. Sehabis bermain di teluk sumbang, kami makan siang di kapal. Meskipun menunya sederhana tapi kebersamaannya terasa. Makasih ya bapak dan mila!

Habis makan kami snorkeling di pulau kaniungan besar, ikan dan karangnya bagus-bagus. Sayang saya sempat panik saat snorkeling di situ, jadi rasanya kurang nikmat. Huhu. Btw kayanya next trip musti beli kamera underwater sendiri nih, biar bisa foto biota laut yang ucukk. *brb nabung*

Sepulangnya kami ke rumah di biduk biduk, kami berjumpa dengan beberapa tamu ibu yang merupakan agen Herbalife dari Berau (keren ye produknya bisa sampai ke pelosok!). Kami ngobrol ngobrol sambil mati lampu (entah kenapa tiap malam jam 8 malam mati lampu). O ya, di desa ini lampu hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, sisanya mati lampu. Hari itu saya mulai betah di rumah bapak, rasanya sedih juga ya besok sudah pulang.

Day 7: Teluk Sulaiman-Danau Labuan Cermin
The day has come! When we will go to Labuan cermin!

Pagi pagi kami ke Teluk Sulaiman, untuk bermain-main. Di sini banyak kapal dan perahu, memang dermaga besarnya berada di sini. Sehabis itu kami pulang kembali untuk makan siang. Kami menunggu waktu kepergian kami ke Labuan cermin yang sudah diatur oleh bapaknya. Namun rasanya lamaaa sekali kami harus menunggu sampai akhirnya kami ke sana. Jam 3 sore kami baru ke sana itu juga kami terancam batal ke sana.

Usut punya usut, ternyata terjadi miskomunikasi antara bapak dan pihak manajemen Labuan cermin. Bapak sudah mendaftar dari kemarin untuk kepergian hari ini, tapi ternyata tidak diinfokan lagi oleh pihak manajemen kalau nomor antrian sudah dekat. Alhasil pas kami ke sana nomor antriannya sudah lewat dan kami terancam tidak bisa pergi. Setelah agak bersitegang, kami akhirnya berhasil ke sana dengan mulai mengantri lagi. Akhirnya jam 4 kami menyeberang ke Labuan cermin (harga: Rp10.000 per orang. Jika ingin carter perahu bisa, harganya Rp100.000 per kapal). Buat yang mau ke sana, langsung saja datang on the spot jangan pake daftar-daftar!

Ternyata, pergi ke Labuan cermin di sore hari merupakan suatu kesalahan. Labuan cermin paling indah dinikmati saat jam 12 siang saat matahari di atas kepala (saya sudah tahu mengenai hal ini, tapi karena tripnya diurus sm bapak ya saya ikut saja). Basically, Labuan cermin merupakan danau dengan 2 rasa, air asin dan air tawar. Air asin berada di bawah dan air tawar di atas. Danau ini sangat unik, bahkan pernah masuk ke salah satu program tv. Karena atasnya air tawar, saat ada sinar matahari, airnya sangat jernih bahkan bisa memantulkan pemandangan di sekitarnya. 

Kecewa. Destinasi yang kami impikan bahkan hingga mengorbankan perjalanan sebegitu lama ternyata tidak sebagus yang kita bayangkan. Salah timing! Danau tersebut tidak terlihat cantik dan jernih. Berbeda dengan teman saya yang mengunjunginya saat siang hari. Ya sudahlah, akhirnya saya berenang di sana pake ban. Airnya bener bener dingin dan menyejukkan. Kalo kata nona sih ga ada ikan di sana, tapi kata mbah google ada. Hmmm..

 
EXPECTATION (dari Mbah Google)

REALITY (diambil jam 4 sore)

Actually setelah beberapa lama dapet juga foto yang agak mending

Foto dari temen yang pergi ke sana beberapa hari sebelum gue, pas di jam 12 siang
(Photo by Lilis Sundari)

Pelajaran yang bisa dipetik selain jangan ke Labuan cermin sore2 adalah jangan ke Labuan cermin saat libur lebaran karena ramenya luar biasa. Teman saya yang pergi ke sana 2 hari sblm lebaran masih merasakan sepinya tempat tersebut. Dan satu lagi! Jangan pernah pergi ke best spot di hari terakhir liburan! Karena bila tidak berhasil, Anda tak akan punya kesempatan ke sana lagi keesokannya. Pergilah di hari pertama Anda liburan! Lesson learned.

Sepulang dari Labuan cermin kami pamit dengan keluarga Bapak Mudasir yang luar biasa baik. Kami memberikan tip padanya (Rp 400.000) karena telah menampung dan menerima kami sebagai keluarga selama 2 malam. Jujur, yang paling berkesan dari Labuan Cermin bukan pemandangannya, tapi kehangatan dan kebersamaan bersama keluarga Pak Mudasir, beserta ibu dan anak cucunya. Tak lupa ibu agen herbalife dari berau dan anak2nya. Semua terasa hangat, sampai sampai saya hampir menitikkan air mata sebelum berpisah. Ternyata inilah hikmah dari tidak mendapat penginapan selvia. Pengalaman yang lebih berharga menanti :”)

Keluarga Bapak Mudasir (bapak, ibu, 4 anak dan 2 cucu)

Kami pun menempuh perjalanan ke Berau (kota Tanjung Redeb) selama 5 jam (Rp 800.000 untuk sewa mobil. Tadinya kami sewa untuk kami sendiri tapi abangnya malah angkut 2 penumpang lain dan bilang harga segitu pas karena kami sudah diantar ke Teluk sulaiman dan Labuan cermin. Rrrrrr!)

Di Tanjung Redeb kami tidur di Hotel Eksekutif (220.000 per malam sudah pake AC). Nikmatnya tidur di kasur empuk dan di bawah AC! Hahahahha.

Day 8: Ibukota Berau (Tj. Redeb)-Jakarta
Sebelum pulang ke Jakarta, kami makan di resto rekomendasi pemilik hotel, namanya Sari Ponti. Restoran seafood ini makanannya enak enak. Kami memesan kepiting dan udang dan rasanya luar biasa. Baru kali ini nemu resto seafood enak selama kami di Kalimantan. Hahahhaa. Harganya juga sepadan sih, 1 orang habis Rp 110.000

Kami pun diantar ke bandara dengan mobil hotel (biaya Rp75000 untuk segrup-kami ber3). Bandara Berau juga cukup bagus walaupun tidak terlalu besar. Sayang, penerbangan kami dengan pesawat Garuda harus de-delay sampai 2 jam. O iya, untuk pesawat dari Berau ke Jakarta, kami dapat yang paling murah Rp 1.600.000 naik Garuda. Hahahhaa.

Jam 11 malam pun kami sampai di Jakarta! Bye bye Kalimantan timur! :”)

Kalimantan: done. Tinggal Sulawesi sama Maluku yang belum pernah gue langkahkan kaki.

Total biaya selama 8 hari, kira-kira Rp 6.500.000,- dengan perincian seperti disebutkan di atas.


Membandingkan 2 kota besar di Kalimantan Timur: Tarakan dan Berau. Kedua kota ini menjadi meeting point trip derawan. Perjalanan dari Jakarta ke tarakan lebih murah daripada Jakarta ke berau, bedanya kalo dari tarakan ke derawan langsung 3 jam naik boat sementara dari berau 2.5 jam dulu naik mobil baru stgh jam naik kapal. Kalo rame rame ikut trip, oke dari Tarakan bisa sewa kapal buat rame-rame. Tapi kalo pribadi kayanya mendingan dari Berau, ngetengnya lebih gampang. Kotanya sendiri lebih maju Tarakan, tapi sepertinya Berau dengan sumber daya tambangnya akan berkembang jauh lebih pesat lagi selama beberapa tahun ke depan.

Kepulauan Derawan: Juli 2014

Setelah 2 bulan yang lalu pergi ke Komodo, sekarang saya pergi ke Kalimantan! Hahahha. Kesannya kaya duitnya ga abis-abis ya, padahal yang ke komodo kemarin itu hadiah ultah dari emak. Kalo yang Kalimantan ini sih bayar sendiri, ngerogoh kocek tabungan plus irit irit makan siangnya. Hahahhaa.

Udah lama rasanya pengen ke Derawan, beruntung beberapa teman yang ke Komodo bareng ngajakin ke Derawan. Gue biasanya kalo ada yang ngajakin ngetrip pasti diiyain, asal waktu dan duit cucok. Nah pas banget nih ke Derawan pas libur lebaran seminggu. Awalnya sempat ketar ketir juga takut cutinya ga diapprove, tapi ternyata memang dapet libur seminggu dari kantor. Horeeee!

Day 1 : Jakarta-Balikpapan-Tarakan
Perjalanan dimulai pada hari jum’at tanggal 25 Juli. Gw ijin setengah hari di kantor. Gue ambil hari jum’at, karena tiket pesawatnya yang lebih murah dibanding hari sabtunya, bisa lebih murah 500rb sampai sejuta. Harga tiket Lion Air hari itu Rp 1.080.000 Jakarta-Tarakan gw beli 2 bulan sebelumnya. Ternyata oh ternyata, menjelang hari H tiket2 itu pada turun harga, bahkan yang hari sabtu ada yang cuma 800rb. Baru tau gue kalo tiket pesawat bisa turun drastis mendekati hari H. Kayanya sih karena pesawatnya kurang laku. Yah mungkin siapa juga yang mau mudik ke Balikpapan, ye kan? Bener aja, pesawatnya sepiii beneur. Hahaha.

Gue ke bandara kira-kira jam 12an, sampai di sana jam 1, sudah ditunggu di A&W oleh 2 teman trip saya, nona Vincen dan Ci Lois. Di A&W terminal 1c ini gue hampir makan staples! Gila aja, ada staples di dalem ayam gorengnya. Habis itu gue tegur deh mbak2nya, sampe managernya keluar minta maap dan mau ngeganti ayamnya. Tapi karena udah gue abisin juga ya gue tolak lah. Hahahhaa. 

nona vincen-ce lois-saya

Kami berangkat pukul 14.50 dan sampai di Balikpapan 2 jam setelahnya. Bandara Balikpapan ini bener bener kece ya! Bahkan ada playgroundnya di setiap gate. Salah satu bandara terbaik yang pernah gue liat di Indonesia. Setelah menunggu kira-kira setengah jam, kami naik pesawat lagi menuju Tarakan. Sampai Tarakan kira-kira sudah jam 9 malam. Kami naik taksi (harga dipatok 75000) menuju hotel yang sudah kami pesan di Agoda, Hotel Padma Tarakan (Rp 400.000 semalam). Hotelnya cukup luas dan oke, sayang toiletnya agak bau. Setelah menaruh barang, kami pergi ke tempat kepiting soka enak rekomendasi supir taksi. Kami ke sana dengan angkot seharga Rp 5000. Sayang, kami sedikit nyasar dan ternyata tempat yang dituju sudah tutup jam segitu. Kami pun makan di tempat makan (lupa namanya) yang buka dan terlihat ramai, kami makan ayam dan ikan di situ seharga 36.000. Usai makan kami menunggu angkot yang tak kunjung datang. Thank god, ada mas2 dan ibu2 baik hati yang mau memboncengi kami dengan motornya sampai depan hotel. Bahkan si ibu pun gam au dibayar. Ternyata bener kata abang taksi, orang Tarakan ini baik-baik. Katanya sih, kalau ada motor ga dikunci di tengah jalan, mau ditinggal berapa lamapun tetep saja tidak ada yang mengambil. Haha.

Day 2: Perjalanan ke Pulau Derawan
Kami dijemput oleh pihak tur wisatakita.com jam 11 di hotel, kami pun dibawa ke tempat meeting point yaitu di pelabuhan Tarakan untuk berangkat bersama 27 peserta trip lainnya (total ada 30 orang). Kami berkenalan dengan beberapa orang di sana, ada Jimmy, Shella, Novita dan Alex, yang belakangan menjadi dekat sepanjang perjalanan. Kami sudah memesan wisatakita sebelumnya dengan harga Rp 2.100.000 (penginapan basicnya homestay, tapi bisa memilih penginapan lain dengan harga variatif dengan menambah biaya). Nona Vincen pengen kamar yang ada AC-nya, jadi kita nambah 150an ribu.

Pukul 2 kami berangkat menuju kepulauan Derawan, perjalanannya sangatlah memabukkan, dikarenakan kapal yang bergerak sangat cepat sehingga kami sedikit terpental. Sekitar pukul 5 sore, kami sudah sampai di Derawan. Kami menaruh barang di penginapan Derawan Fisheries. Penginapan ini berada di dekat pantai dan langsung memiliki view laut serta sunset. Meskipun harganya tidak terlalu mahal, tapi viewnya oke. Bahkan kami bisa melihat penyu seliweran di dekat kamar bila beruntung. Kami kemudian melihat sunset di dermaga, makan lalu keliling pulau derawan untuk jalan-jalan malam. Pulau ini cukup hidup di malam hari (tapi jangan bayangin kaya Gili Trawangan). Banyak tempat makan dan toko souvenir yang buka. Usai jalan-jalan kami langsung istirahat di kamar. Sangking capeknya hari itu gue tidur jam 10 (jarang jarang loh! :P)

Sunset di dermaga penginapan kami, Derawan Fisheries

Day 3: Nabucco-Maratua-Kakaban
Alasan kami memilih trip wisatakita.com adalah karena ada itinerary ke Nabucco, sementara trip lain jarang yang ke Nabucco. Benar saja, ternyata pilihan kami tidak salah. Nabucco yang menjadi destinasi pertama di hari itu benar benar top markotop. Degradasi warna laut dari biru muda ke biru tuanya benar benar memanjakan mata. Gila deh, kalo ada orang yang bilang surga itu ada di Indonesia, hal itu benar adanya. Si Nabucco ini merupakan sebuah resort yang masih menjadi bagian dari pulau Maratua. Perjalanan dari derawan ke Nabucco 2 jam menggunakan kapal. Destinasi paling jauh. Karena nabucco sudah menjadi resort, tentunya masuknya harus bayar. Entah berapa pihak wisata kita membayar ke manajemen resort, kita sih tinggal ongkang ongkang kaki sama foto selfie.

Me at Nabucco

Puas main di Nabucco, perjalanan dilanjutkan ke Maratua. Kami agak kaget melihat Maratua tidak secantik yang ada di google, padahal katanya Maratua itu yang paling cantik di kepulauan Derawan. Ternyata airnya memang lagi surut, jadi gradasi air di pantainya tidak terlihat sama sekali. Agak kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kita tidak bisa memprediksi alam. Toh kita sudah ke Nabucco juga kan. Untungnya kita ke sana :”))

ki-ka: cuni, novita, alex, shella, jimmy, vincen, lois, maria at maratua
(photo by wisatakita)

Setelah bermain di pantai Maratua, kita snorkeling sebentar di dekat Maratua, lalu kita menuju ke Pulau Kakaban. Setelah makan siang di sana, kami berenang di Danau Kakaban bersama ribuan ubur ubur (yang tidak menyengat). Stingless jellyfish ini konon katanya hanya ada di 2 habitat di dunia, satu di Pulau Kakaban, satu di Palau, Micronesia. Wah, betapa bangganya ya kita sebagai orang Indonesia.
Ubur ubur ini sangatlah cantik bahkan saya sampai senyam senyum dan ketawa sendiri pas snorkeling. Dari kecil sampe gede semuanya berenang di danau ini. Sayang danaunya agak keruh, kurang tahu juga sih apakah memang keruh dari sananya atau keruh karena kotor.

me with stingless jellyfish (photo by wisatakita)

Usai snorkeling sama ubur-ubur, kita snorkeling di depan pulau kakaban bareng ikan dan karang yang cantik-cantik. Ya ampun cakepnya subhanallove! Beruntung saya snorkeling jauh jauh dari pantai, makin jauh makin kelihatan cantiknya biota lautnya. Puas snorkeling kamipun pulang ke derawan.

Sunset hari itu kami habiskan di dermaga utama Pulau Derawan sambil foto-foto. Setelah puas, kami pun jalan-jalan lagi di pulau derawan, kali ini bareng sama rombongan kaleng rombeng hahahaha. Anak anak yang deket pas trip, kita ber7 (Cuni, Lois, Vincen, Jimmy, Shella, Alex, Novita. Ada 1 lagi si Maria tapi dia ga ikut kita jalan malam ini). Kita jajan jajan dan liat liat souvenir. Sempet makan jagung bakar juga dan es kelapa.

Oh iya, hari itu bertepatan dengan malam takbiran. Suara petasan dan kembang api di mana mana, udah kaya di kota besar aja. Keren deh! Sayang aja petasan yang dimainkan oleh anak anak kecil ini agak mengerikan, jarangnya dekat banget dan takut kena rasanya. Hiiy!

Day 4: Gusung-Sangalaki-Samama
Hari ini dimulai dengan pergi ke pulau Gusung yang letaknya tidak jauh dari Derawan. Pulau ini sangatlah kecil, di sana kita main di pasirnya yang putiiiih banget. Spot yang bagus buat foto-foto! Setelah itu kami pergi snorkeling dekat situ dan kembali ke Pulau Derawan untuk makan siang. Kita juga sempat snorkeling di Derawan, karangnya ada juga di tempat yang rendah, sehingga melukai kaki saya dan menjadi oleh oleh kenangan sampai pulang ke Jakarta.

giant leap at gusung island

Setelah makan di Derawan Dive Resort (ini resort paling bagus di Derawan, ada beberapa orang trip kita yang tinggal di sini dan upgradenya 1.9 juta. Wew! Hampir seharga trip!), kami pergi ke pulau sangalaki. Kami ke pulau sangalaki pada saat surut, airnya beninnng banget dan coral serta karangnya menyembul ke permukaan air, benar-benar amazing. Di pulau ini kita juga bisa melihat anak anak penyu yang dilestarikan. Dan jika beruntung, Anda dapat bertemu manta di pulau ini, sayangnya kami kurang beruntung. Hahaha!

view dari derawan dive resort

beningnya air di pulau sangalaki

karang yang menyembul saat surut di sangalaki
(photo by wisatakita)

Pengejaran manta mengelilingi pulau sangalaki tidak berhasil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Samama. Di sini ada hutan Mangrove di pantai. Wow! Lagi-lagi berdecak kagum. Di gugusan kepulauan derawan ini bukan hanya ada pantai, ikan, karang, ubur-ubur, manta, tapi juga ada hutan mangrove. Lengkap sudah kesempurnaannya! Hahahhaa.

the girls at mangrove forest, samama island (photo by jimmy)

anak penyu berbaris rapi


Setelah dari Samama, kami kembali ke Derawan untuk naik banana boat! Setelah itu kami pun bersih2 badan dan mengelilingi pulau derawan di malam terakhir!

Mungkin ini malam terakhir di Derawan, tapi bukan di Kalimantan Timur, esok, kami bertiga akan melanjutkan perjalanan ke desa Biduk-Biduk, untuk melihat keajaiban alam yang lain! :)

Trip wisatakita.com cukup recommended. Guidenya, Mas Daniel orangnya asik dan cekatan. Tripnya juga jelas serta lengkap dan yang paling buat saya amaze adalah wisatakita punya life jacket yang dicustomize sendiri dengan bordiran nama tripnya. Hahahaha. Baru nemu kali ini!


Untuk postingan desa biduk biduk dan Labuan cermin dapat dilihat di sini >> Desa Biduk-Biduk dan Labuan Cermin

Jumat, 13 Juni 2014

indonesia trip wishlist

Setelah bertualang ke beberapa bagian Indonesia, saya menyadari masih banyak yang perlu dieksplor dari bumi pertiwi ini. Barusan saya melihat lihat beberapa tempat cantik di google beserta melihat harga pesawat menuju ke sana. Saya jadi pengen eksplor indonesia terus dan terus. Indonesia ternyata sangat cantik. Sebuah surga! Banyak orang yang memilih untuk pergi ke luar negeri dibanding ke negerinya sendiri. Memang, tiket pesawatnya terkadang lebih murah ke luar negeri seperti singapura, malaysia atau thailand. Namun, dilihat dari segi kecantikan, flight ke kota-kota top Indonesia memang pantas diberi harga segitu. Sangat cantik!

Berikut beberapa wishlist saya sejak hari ini (bisa bertambah dan bila sudah terkabul akan dicoret):
1. Derawan
2. Pulau Weh, Sabang, Aceh
3. Belitung
4. Pulau Ora - Ambon
5. Tanjung Bira - Sulawesi Selatan
6. Krakatau
7. Bromo
8. Pahawang
9. Green Canyon

Dan ini adalah tempat-tempat cantik yang pernah saya datangi:
1. Wayag, Raja Ampat
2. Bali
3. Gili Trawangan
4. Komodo dan sekitarnya
5. Karimunjawa
6. Kiluan, Lampung
7. Sawarna
8. Derawan

Hihihi. Dari tadi saya membayangkan tempat tempat di wishlist sambil melihat gambarnya. aaaah bikin mupenggg. Yok yang mau bareng ngetrip!

O iya selain keliling Indonesia saya jg punya mimpi keliling dunia. Dulu gue pernah diketawain waktu gue bilang mimpi gue keliling dunia, tapi gue percaya gue pasti bisa. Asal ada usaha, niat, uang dan waktu. Hihihi.

Satu lagi, gue sering bgt dibilangin "Jalan-jalan mulu, duitnya ga abis-abis ya!". Yah ini sih diaminin aja. Tapi sebenernya duitnya abis kok, cuma karena travelling itu passion gue jadi ya gue ga segan-segan buat ngabisin duit. Sebenernya kalian juga bisa, cuma pasti beda prioritas aja. Kalian juga bisa kok kalo mau!

Cheers!

Sabtu, 07 Juni 2014

Sailing Komodo: Living on Boat.

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya, Bali dan Gili Trawangan.

Day 5
Setelah sampai di wisma nusantara 2, saya dan chitto istirahat sebentar di kamar lalu berkeliling mencari makan malam. Kami menemukan tempat makan ayam taliwang yang ramai, di seberang mal, bernama Ayam Taliwang Mandiri. Yang ramai itu memang pasti enak. Terbukti, makanan ini ludes dalam sekejap. Setelah banyak makan western food di gili, ayam taliwang ini bener2 nonjok!

Sepulangnya makan malam, kami kembali ke hotel dan bertemu teman2 yg berada di trip (harga di postingan sebelumnya) yang sama. Kami ber-12: cuni, chitto, randy (kepala suku), airin, doni, vincen, tutus, sari, ci lois, mbak ari, panji dan mas sujar. Dari obrolan di whatsapp si keliatannya anaknya seru2, pas ketemu seru beneran kok! Hahahaha.

Day 6
Tiba juga hari H-nya. LIVING ON BOAT!

Sebelum saya bercerita lebih banyak, ini dia peta perjalanan saya selama Living on Boat (LOB). Rute kami adalah yang diberi garis putih.


Jujur saya sempat takut tinggal di kapal. Takut merasa tidak nyaman dan takut mabuk laut. Tapi selalu ada yang pertama kali untuk segala sesuatunya. Pukul 12 kami dijemput oleh bis yang membawa kami ke labuan kayangan, tempat segala sesuatunya dimulai. Tak disangka, kami mendapat kapal phinisi yang besar penuh dengan orang (total 58 orang). Ternyata kami mendapat kapal yang besar karena banyaknya orang yang antusias mengikuti tur hari itu. Biasanya yang digunakan adalah kapal kecil.

Kapal phinisi yang kami gunakan. Photo by Vincentia Maria.


Setelah ngaret super lama karena ada masalah dengan segerombolan bule yang ditipu (mereka membayar kapal pada orang yang tidak jelas yang tidak memberikan uangnya pada pihak kapal), akhirnya kami berlayar pula pada pukul 4 sore. Otomatis, sunset di gili bola yang dijanjikan pun gagal dilihat. Kami sampai di gili bola pada pukul 10 malam dan menepi di sana untuk tidur (tidurnya tetap di kapal).

Sunset di perjalanan menuju Gili Bola


Tidur di kapal ala backpacker cukup simple. Kami semua tidur di dek kapal dengan menggunakan matras dan selimut. Matrasnya cukup empuk si, saya pernah merasakan tidur yg lebih sengsara daripada ini. Hahahaha. Tantangannya adalah, angin laut dan ombak yang mengguncang-guncang kapal. Kalau tidak kuat, bisa muntah ataupun sakit. Oiya ada juga beberapa kamar yg bisa disewa (130.000) tapi jumlahnya terbatas dan dapat dihitung dengan jari.

Malam pertama di kapal saya baru bisa tidur jam 3 pagi. Mayan lah daripada tidak sama sekali.

Day 7
Si chitto sepertinya tidak kuat semalam di kapal, ia terserang demam keesokan harinya.

Pada pagi hari kami berlayar ke Pulau Moyo. Kami akan mengunjungi air terjun, mata air tawar yang pertama dan terakhir dalam trip ini. Fyi, di kapal kita tidak bisa mandi karena persediaan air tawar sangat terbatas. Paling cuma bilas bilas saja. Setelah trekking 30 menit sampai jg kita di air terjun. Langsung kita main main dan selfie di sana. Sangking ramenya yang ikut selfie, fotonya muka orang semua ga keliatan air terjunnya. Hahahaha.

Air terjun (Photo by Sesari)

Kapal kami di pulau Moyo

Sehabis puas mandi di air terjun, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal menuju Danau Satonda. Di sana kami melihat lihat danau dan juga snorkeling!

Danau Satonda


Selfie di Pantai Satonda (Photo by Donni)


Sore itu berjalan dengan damai. Kami melanjutkan perjalanan selama 12 jam ke tempat paling ditunggu tunggu. Gili laba.

Day 8
Pukul 3 pagi saya terbangun. Saya melihat cahaya terang yang kemudian redup di langit langit. Saya bertanya tanya cahaya apa itu. Beberapa menit kemudian saya mengobrol dengan salah satu awak kapal, dan ia mengatakan bahwa gunung sangeang di bima meletus! Bisa-bisanya di antara 365 hari di tahun 2014 ia memilih meletus di hari di mana saya sedang berlayar menuju komodo. Padahal terakhir meletus tahun 1999. Terjawab sudah mengapa banyak sekali abu di sekujur badan saya dan di kapal. Butiran yang tadinya saya kira garam dari air laut ternyata abu vulkanik. O my god! Malam mulai mengerikan. Sambil berharap tidak terjadi apa-apa pada kami semua. Saya melanjutkan tidur dan bangun bangun terjadi huru hara di kapal.

Satu kapal kaget dengan berita meletusnya gunung sangeang. Para penumpang yang tadinya tidur di dek atas dipindahkan ke bawah karena terkena abu vulkanik paling parah. Para penumpang memakai masker ataupun sapu tangan. Saya sendiri tidak membawa masker dan pinjam ke orang lain tidak ada yang punya. Pasrah saja lah. Sunrise pagi itu pun ditemani oleh langit berabu.


Gili laba dipenuhi abu vulkanik dan trekking menuju puncak gili laba pun dibatalkan. Satu kapal kecewa tapi kami tak bisa berbuat apa apa karena ini adalah bencana alam. Saya sendiri merasa bersyukur masih bisa hidup. Karena bisa saja letusan gunungnya kena kapal kita atau terjadi gempa di laut. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi tentunya saya tidak bisa lagi menceritakan pengalaman ini pada kalian, alias udah die.

Gili Laba yang dipenuhi abu vulkanik

Oiya buat yang mau tau gili laba itu secantik apa sehingga banyak yang menyesali. Ini dia! Kalo menurut saya seperti raja ampat versi KW. Hehehhe. Cantik banget!

                  
                                       Courtesy of journals.worldnomads.com


Perjalanan ke pink beach juga dibatalkan. Kapal hanya berhenti dari kejauhan dan dari jarak segitu pantai tidak terlihat berwarna pink sama sekali. Tadinya kami dijadwalkan snorkeling di pink beach. Tapi tidak mungkin kecuali kalo mau bernafas pake abu. Huhu.

Kapal berlayar ke arah pulau komodo. Perjalanan ini terasa dipaksakan. Dalam keadaan bencana sepertinya tidak ada komodo yang mau berlama-lama di luar terkena abu vulkanik. Benar saja, trekking 3 km kami bersama hujan abu (ya, hujan abu, bukan hujan salju!) di komodo hasilnya nol. Saya tidak melihat komodo sama sekali. Teman saya ada yang melihat tapi cuma 1.

Hujan abu di Pulau Komodo


Pulau rinca yang harusnya dijadwalkan keesokan harinya dipercepat. Setelah dari pulau komodo kami menuju pulau rinca. Tempat lebih banyak komodo dan lebih liar. Sesampainya di sana, jalur trekking ditutup. Kami hanya bisa melihat komodo dari sekitar dapur. Ternyata di situ saja sudah banyak komodo berkeliaran. Bahkan kami melihat komodo kawin. Hahahaha

Kami melihat komodo dari jauh, karena komodo merupakan hewan yang berbahaya. Ia tidak bisa mendengar suara berisik. Saat di sana, ada bayi bule menangis. Sontak kepala komodo itu langsung tegak. Si anak bule pun dibawa menjauh oleh ayahnya (gila juga tuh bule living on boat bawa anak hahaha).

Our own seven wonders of the world: komodo dragon

Sebagai intermezzo, dulu katanya pernah ada bule prancis hilang di pulau rinca karena terpisah dari grupnya. Dua minggu kemudian, hanya jari dan cincinnya yang ditemukan. Semua habis dilahap komodo. Mengerikan!

                    
          Komodo lagi kawin. Komodo aja berdua, masa kamu masih sendiri? #eaa

Perjalanan diakhiri dengan sebuah ketidakpastian. Dalam keadaan darurat, awak kapal memberikan opsi untuk tetap lanjut menginap di kapal untuk besokannya ke pulau kelor (belum tentu di kelor cuacanya bagus) atau langsung mendarat di labuan bajo. Saya memilih untuk langsung pulang, saya tidak tahan menginap semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik. Tapi suara terbanyak dipegang oleh yang ingin bertahan di kapal.

                   
   Full team at Pulau Rinca. Thank you guys for the fun holiday! :* (Photo by Tutus)


Day 9
Setelah semalam lagi di kapal bersama abu vulkanik, kami sampai juga di pulau kelor. Ternyata pulaunya sangat cantik. Kami snorkeling melihat biota laut yang sangat beragam. Bahkan ada ikan ikan nakal yang menggigiti kaki pengunjung. Kami trekking ke puncak pulau kelor, di mana pemandangannya sangat bagus dan dapat mengobati akan kekecewaan batalnya gili laba.

Pemandangan dari atas pulau kelor. Pic by Sesari Handayani.


Pukul 2 siang kami mendarat di labuan bajo, flores. Kami sangat senang bisa berjumpa dengan daratan. Kami langsung memesan hotel (hotel pagi: 350000/malam) dan mandi air hangat sepuasnya. Thank God we are in the land now!

Malamnya kami mencoba makan di restoran nomer 1 versi trip advisor di labuan bajo: mediterraneo. Tempat dan makanannya recommended.

                                 
                                          Blue Marlin Fish di Restoran Meditteraneo

Day 10
Saya sakit batuk dan pilek di labuan bajo. Saya menduga ini karena ulah abu vulkanik. Saya berniat ke dokter sepulangnya ke jakarta.

Karena abu vulkanik, pesawat saya dicancel 4 jam. Teman teman ada yang dicancel sampai 1-2 hari. Beberapa memutuskan naik kapal hingga mataram dan sisanya memutuskan menunggu kepastian pesawat.

Sebelum pulang, saya menjelajahi labuan bajo ke sebuah obyek bernama gua batu cermin. Tempatnya cukup bagus, isinya gua gua besar. Di bagian intinya, kita bisa melihat cahaya masuk dari celah gua di jam 12 siang. Bila beruntung dan ada air, cahaya akan memantulkan bayangan kita pada air. Sayang, saya datang ke sana terlalu pagi dan bukan saat musim hujan hahaha.

Gua batu cermin


Saatnya pulang, pukul 12 saya sampai di bandara komodo untuk check in. 2 jam kemudian, pesawat kecil membawa saya pulang ke rumah.

Epilog
Setelah dirontgen dan diperiksa ke dokter paru paru, saya tidak menderita penyakit serius. Hanya batuk pilek biasa ditambah ada sedikit debu di paru paru.

Tips tips Living on Boat (LOB):
-Sebelum memutuskan LOB, ketahui dulu mengenai tur anda, bagaimana anda akan tidur, mandi, makan, dan sebagainya. Biasanya kapal seperti yang saya ikuti itu tidurnya di dek beramai-ramai dan mandi seperlunya.
-Bawa jaket untuk menghalau dinginnya udara malam.
-Bawa ear plug (berguna bila naik kapal kecil dan berisik).
-Coba berbagai posisi duduk dan tidur yang nyaman untuk anda, agar anda tidak muntah.
-Gunakan sunblock di muka dan badan. Biar pulang pulang ga terbakar seperti saya.
-Saat makan, antrilah sedepan mungkin, ada kalanya para penumpang super kelaperan dan anda kehabisan makanan (dan musti nunggu dimasakin lagi).
-Bersiap untuk mandi/bilas di belakang kapal (tempat terbuka) dengan menggunakan baju. Kita juga bisa sikat gigi dan cuci muka di kapal (airnya dibuang keluar).
-Anda dapat meminum antimo untuk menghalau mabuk. Tapi jangan sampai anda terlewat petualangan seru karena kebanyakan tidur di kapal.
*mungkin ada yang mau menambahkan?*

Perjalanan ini dilakukan dengan kencana tour. Terdapat berbagai pilihan waktu perjalanan. Paling seru sih yang kaya saya, 4 hari 3 malam, benar benar berasa hidup di kapalnya.

Thank you for reading! :*