Hi guys, mulai hari ini blog ini pindah ke www.cunicandrika.com
Enjoy!
Selasa, 17 Maret 2015
Senin, 02 Februari 2015
Pulau Harapan (Palsu)
Weekend kemarin, tanggal 31 Jan-1 Feb gue main ke Pulau
Harapan, di Kepulauan Seribu. Gue ikut trip temen gue yang bernama Rani, nama
tripnya Rani Journey. Kita bisa muterin Pulau Harapan dan sekitarnya dengan
membayar 350 ribu. Kali ini gue pergi bareng Melta, partner trip ke Jepang gue.
Biasanya agak susah ngajak dia trip ala backpacker, tapi entah kenapa sejak
pulang dari Jepang dia jadi mau-an. Hahahha.
Gue dan Melta naik busway ke arah Pluit jam 5 pagi, untuk
kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot B01 merah dari Pluit menuju
Muara Angke. Meeting point trip ini. Kita sampai di Gerbang Muara Angke pukul
6.15. Kita musti agak jalan ke dalam dan becek-becekan untuk masuk ke
pelabuhannya. Kamipun bertemu dengan tour leader kali ini, namanya Ranu. Gue
agak heran ya, 3 kali ikut Trip Rani Journey tour leadernya namanya mirip-mirip
semua. Dari Rani, Randy terus Ranu. Mungkin emang seleksinya berdasarkan nama.
Hahahhaa.
Kami kemudian naik kapal, yang sudah penuh dengan orang.
Gokil deh tuh kapal rame abis. Gue
sama Melta duduk di sisi sebelah kanan kapal dan di luar. Harusnya kapal hari
itu ada 2 yang ke Pulau Harapan, tapi 1 kapal ga jalan, jadi dipenuh-penuhin
deh itu 1 kapal.
Kapal tapi rame amat. Udah kaya di angkot. (Photo by Rizal)
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8, dan kapal belum
juga bergerak. Padahal di jadwal kapalnya jalan jam 7. Ternyata, ada polisi
yang patroli di situ dan dia tidak mengijinkan kapal kita berangkat sampai
muatannya dikurangi. Alhamdullilah! Soalnya agak ngeri juga ya bawa kapal
ratusan orang berdesak-desakan gtu. Akhirnya sebagian orang yang duduk di atas
atap, dipindahin ke kapal satunya lagi.
Perjalanan menuju Pulau Harapan memakan waktu 3 jam.
Sepanjang jalan, ombaknya kenceng banget dan kapalnya goyang-goyang agak
ekstrem. Gue sempet agak takut, begitu pula cewek sebelah gue, yang kayanya
udah ketakutan banget. Tuh cewe kayanya emang ga siap backpackeran sih. Dia
pake kosmetik lengkap beserta jaket bulu. Hmm..
Setelah harap-harap cemas menuju Pulau Harapan, akhirnya
kapal sampai juga jam 11 siang. Pemandangan dari pelabuhannya cukup bagus dan
terlihat gradasi warna biru muda dan biru tua. Kami pun menuju homestay dan
makan siang di sana. Saya satu kamar berlima cewe-cewe semua. Homestaynya namanya
Baronang 3 dan cukup oke, ada ACnya.
Pasukan trip Harapan kali ini.
Setelah makan siang, kami mulai perjalanan Island Hopping.
Saya sudah siap dengan masker, snorkel, sepatu boot snorkeling dan dry bag. Gue
sempet menjadi pusat perhatian gara-gara bawa peralatan lengkap banget. Hahahha.
Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Putri. Di sini
kita snorkeling. Bawah lautnya cukup oke. Banyak karang-karang dan juga ikan
kecil lewat. Oke lah. Setelah itu kita ke Pulau Gosong Air. Pemandangan di sini
bagus banget. Gue ga nyangka ada
yang bagus macam gitu di Pulau Seribu. Kita bisa snorkeling di laut
dangkal dan ada segerombolan ikan jalan-jalan di sana. Anak-anak langsung pada
ngasi cracker buat dikasih makan ke ikan-ikan itu.
Ikan Sergeant Major yang langsung rame ngeliat cracker (Photo by Rizal)
Pulau Gosong Air. Airnya bening banget.
Puas main air dan foto-foto, kita ke Pulau Gosong Darat. Nah
pulau ini asli mirip banget sama Pulau Gusung yang ada Di Derawan. Mungkin yang
namanya Pulau Gusung emang modelnya begini semua kali ya. Bagus deh pokoknya!
Uniknya, ada yang jualan gorengan di tengah pulau kecil itu. Itu pulau kecil
banget, kaya cuma berapa meter. Kalo airnya pasang, kayanya itu pulau kelelep
deh. Si Melta dan temen baru kita yang namanya Pipit langsung menyerbu itu
tukang gorengan. Hahahhaa.
Penampakan Pulau Gosong Darat dari perahu
Ini separo pulaunya. Kecil tapi berkesan.
Ayo berkemah!
Sehabis itu, kita ke Pulau Perak. Pulau ini juga bagus,
dengan gradasi warna biru yang keren. Gue suka denger cerita soal Pulau Perak ini dari temen gue si Ires. Dia
sering berkemah di sana. Haha. Pengen rasanya kali-kali nyobain berkemah di
pulau juga. Gue sama temen-temen
baru muterin ini pulau sambil ledekin sih Pipit yang gayanya pecicilan dan ga
berenti ngomong. Hahhaha. Akhirnya ada juga trip di mana bukan gue
sasaran bully-nya, tapi orang lain! Hahahhaha.
Pulau Perak
Pukul 5 sore, kami kembali ke Pulau Harapan. Di dermaga,
kami nyobain jajanan khas Pulau Harapan, Cilung Abon. Jajanan ini mirip sama
cireng tapi ini digulung, namanya juga cilung! Hahhaa. Cilung yang enak yang di
dermaga, harganya Rp 5000,-. Ada juga yang sama abang lewat harganya Rp 3000,-
tapi enakan yang di dermaga. Buat Om Dodi yang udah nraktir kita-kita, thank
you ya! Hahahhaa.
Setelah itu kami pun pulang ke penginapan untuk mandi dan
makan malam. Rencananya, habis makan malam akan ada barbecue di dermaga. Tapi
karena hujan lebat, acara barbecue-annya dicancel L
Malam itu kami
tidur cepat sekitar jam 9. Kemudian kami bangun pukul 6 pagi di hari Minggu.
Saat bangun, di luar masih hujan. Sepertinya perjalanan kami ke Pulau
Bulat dan Genteng dicancel. Kami menunggu sampai jam 8 untuk mendapat
kepastian, namun guide yang di kapal ga dateng2 ke tempat kita. Itu artinya,
tidak ada perjalanan kali itu. Agak kecewa sih. Tapi memang itu resikonya pergi
saat musim hujan.
Hari itu, kami hanya berjalan-jalan keliling pulau dan juga
makan indomie di warung. Hahahha. Walaupun hujan tapi kita tetep bisa ketawa-ketawa
ceria dengan teman-teman baru.
Pukul 11 kami menaiki kapal lagi untuk menuju Jakarta.
Kapalnya juga sudah cukup penuh. Gue sampe duduk harus menekuk kaki. Banyak
orang yang kesulitan mendapat tempat duduk, tapi nyebelinnya ada beberapa orang
yang dengan seenaknya santai-santai tiduran. Rrrr.
Sampai Jakarta, kami makan seafood dulu di Muara Angke.
Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing, masih ditemani hujan :)
See you next trip! (Photo by Dodi)
Sabtu, 17 Januari 2015
Family Weekend in Tanjung Lesung
Di awal tahun ini, gue bersama keluarga merencanakan liburan
ke Tanjung Lesung. Kami pergi pada tanggal 10-11 Januari 2015. Kami berangkat
dari Jakarta pukul 8 pagi di hari Sabtu, kemudian sampai di Tanjung Lesung
sekitar jam 2 siang. Lumayan juga, perjalanannya 6 jam (ga gitu macet), belum
dipotong waktu makan siang dan mampir buat sarapan.
Tanjung Lesung ini letaknya di Banten, tepatnya setelah
Anyer dan Carita. Pas masuk, kelihatan tempatnya private banget. Tanjung Lesung
punya kompleks pribadi sekitar 1500 HA. Kami menginap di Tanjung Lesung Beach
Hotel. Kami memesan cottage yang paling kecil dengan 1 kamar. Harga per
malamnya Rp 1.700.000,- (kebayang ga kuat bayarnya kalo pergi ke sana sendiri
hahahah). Hotel ini cukup bagus dan memiliki kolam renang sendiri yang langsung
menghadap pantai. Wih, berasa kaya di Bali deh!
Kolam renang menghadap pantai di Tanjung Lesung Beach Hotel
Setelah check-in, kami pergi ke Beach Club. Beach Club ini
adalah pusat kegiatan olahraga air di Tanjung Lesung. Di sini kita bisa
snorkeling, jet ski, banana boat bahkan bisa menyewa kapal untuk pergi ke Ujung
Kulon atau Anak Gunung Krakatau. Jika ingin ke Ujung Kulon, harganya cukup
mahal. Rp 8.500.000,- dengan maksimum 8 orang. Mending ikut trip backpacker dari
Jakarta deh. Haha.
Saya dan Cito ingin snorkeling di Beach Club. Sayangnya
karena cuaca kurang mendukung dan airnya keruh, snorkelingnya tidak bisa
dilakukan. Huhu. Akhirnya kita Jet
Ski saja (Rp 320.000 selama 20 menit). Ini adalah pengalaman pertama gue Jet
Ski. Rasanya, serem ! hahhahaha. Tadinya gue mau jet ski berdua aja
disetirin cito, tapi akhirnya kami memutuskan jet ski bergantian dengan
disetirin abangnya. Abangnya ini nyetirnya gokil juga, beberapa kali rasanya
loncat dan hampir jatuh. Rada ngeri gue. Hahahha.
Setelah jet ski,
saya duduk-duduk sebentar di pinggir pantai, lalu balik ke hotel untuk
berenang. Hahaha. Pantainya sendiri cukup bagus untuk ukuran Pulau Jawa. Oke
lah ! Di malam hari, kami sekeluarga melihat pertunjukan yang diadakan
pihak hotel yaitu Debus ! Agak ngeri juga ngeliat orang ditusuk-tusuk gtu.
Rrrr.
Jembatan di dekat Beach Club
Keesokan harinya,
Cito, Mama dan Papa ingin bersepeda keliling pantai. Sebagai satu-satunya
anggota keluarga yang tidak bisa bersepeda, saya memilih melipir ke jembatan di
pantai Beach Club. Setelah agak bosan di situ, saya jalan-jalan lagi dan
menemukan spot nyaman di villa sebelah. Namanya villa kalicaa. Vila ini masih
satu manajemen dengan hotel kami. Sepertinya semua yang ada di Tanjung
Lesung memang di bawah 1 manajemen. Di villa ini ada private beach dengan view
pantai yang bagussss, kaya di Gili. Saya menghabiskan waktu berjam-jam
tidur-tiduran di kursi pantai itu.
Jemur-jemur cantik di pantainya Kalicaa Villa
Ada 1 hal yang agak lucu waktu saya di Tanjung Lesung, saya
bertemu dengan segerombolan karyawan dari kantor tempat saya pernah melamar
dulu. Hahaha. Mereka lagi outing di Tanjung Lesung. What a coincidence! Saya
bisa tahu karena saya pernah interview sama CEO-nya dan dia ada di sana waktu
itu. Hahahhaa.
Jam 1 siang kami pulang dari Tanjung Lesung, kami mampir
dulu ke Karang Bolong, Anyer, untuk melihat-lihat. Tadinya mau mampir ke
mercusuar juga, tapi rasanya terlalu sore. Meskipun cuma sebentar, tapi senang
rasanya ketemu pantai lagi. Di penghujung bulan Januari rencananya saya juga
mau ke pantai lagi, ke manakah? Tunggu jawabannya di postingan selanjutnya!
Hutan Pinus Gunung Pancar
Kalo pengen wisata alam yang ijo-ijo, bisa coba ke tempat ini. Hutan pinus gunung pancar!
Letaknya di sentul. Masuknya lewat perumahan sentul city. Tadinya gue sama teman2 mau ke wisata pemandian air panasnya. Cuma karena penuh sesak, akhirnya kita mengurungkan niat dan foto2 saja di sekitar hutan pinus. Kalo kt temen gue yg liat fotonya sih bagus ya, kaya di aussie. Hahaha.
Untuk masuk ke tempat ini kita musti bayar 25 ribu. Itu belum termasuk kalo mau ke pemandian air panas. Yang juga bayar 25 ribu. Di sini kayanya banyak premannya. Ati2 sm pak ogah di sepanjang jalan!
Overall sih tmp wisatanya cuma gitu aja, tapi okelah buat foto-foto dan refreshing! Here are some pics from Gunung Pancar!
Hutan Pinus
Ngeliatin apa, bu?

We-fie with SFC friends
Jumat, 16 Januari 2015
Happy New Year!
Postingan pertama di tahun 2015. Yippie!
Di postingan ini gue mau cerita tentang malam tahun baru gue dan bagaimana gue menghabiskan hari pertama di tahun 2015.
Seperti tahun baru tahun kemarin, gue memutuskan untuk bertahunbaru di apartemen saja. Lagi2 gue ajak temen2 nginep untuk ngeliat kembang api bareng2. Temen2 kali ini dari circle geng Wawan. Hahahhaa. Jadi kita semua bisa ketemu gara2 Wawan deh pokoknya. Tapi sayang Wawan ga ikut acara kita karena sedang menempuh ilmu di Rusia. Di sini ada Erlyn, Rosa dan Rew. Harusnya ada Biyanto juga, tapi karena dia PHP, jadilah kita setaun dari 2014-2015 nunggu dia ga dateng2. Hahahha.
Kalo tahun lalu gue ke bundaran HI, taun ini gue ngeliat kembang api cukup dari apartemen. Kapok ke HI, desek2an sama banyak orang. Ujung-ujungnya bukannya seneng malah gondok. Hahahha. Ternyata ngeliat kembang api dari apartemen seru juga kok. Setelah kita muter2 cari spot yang oke, dari rooftop sampe kolam renang, akhirnya pilihan terakhir jatuh pada lantai kamar gue. Hahaha. Kita ngeliat kembang api dari jendela deket lift lantai 18. Di situ kembang apinya keliatan lebih jelas. Selain acara liat kembang api gue juga ada acara tuker kado. Kebetulan, kita dapet kado seperti yang kita mau. Rosa dapet buku (untung bukan gue yang dapet, karena gue ga suka baca), Rew dapet gelas, Erlyn dapet semacam karpet duduk, sementara gue dapat makanan! Hahahhaa. Selain itu kita juga pizza party!
Tuker kado di malam tahun baru
Keesokan harinya kita memutuskan untuk pergi ke hutan mangrove Pantai Indah Kapuk. Gue emang pengen ke tempat ini udah dari lama. Kebetulan anak2 pada mau juga. Langsung lah cus.
Setelah bertemu dengan si PHP Biyanto di halte Tosari, kami ke halte busway monas untuk menunggu BKTB (sejenis busway dengan tiket Rp 6.000) yang langsung ke PIK. Nunggu ini bis lamanya aujubile. Maklum armadanya cuma ada 5 biji. Kami sempat putus asa dan memutuskan untuk ngeteng angkot aja dari Kota. Tapi kemudian bis itu datang, setelah menunggu 45 menit. Awalnya kami ga yakin kalau itu bis ke PIK. Mana abangnya ga teriak2 kalo itu bis ke PIK. Kita *gue tepatnya* cuma modal sotoy aja. Ikut itu bis ke kota, eh ternyata itu bis beneran ke PIK. Hahahha. Alhamdullilah!
Seperti ini kira-kira bentukan bisnya. Tapi ga ada petunjuk rutenya di kacanya. Pokoknya kalo liat ini bis, niscaya bis ini menuju ke Pantai Indah Kapuk. (Photo by Google)
Fyi kalo mau ke PIK juga bisa naik kopami 02 dari kota terus lanjut mikrolet 03 merah ke PIK.
Perjalanan ke PIK cukup lama, ada kali sejam. Kami turun di yayasan Buddha Tzu Chi. Kemudian jalan kaki ke arah kiri menuju hutan mangrove. Perjalanan ke sana memakan waktu 20 menit jalan kaki. Kondisi waktu itu gerimis. Jadi agak ga nyaman jalan kemana2 becek.
Masuk ke dalam hutan mangrove ini kita diharuskan merogoh kocek Rp25.000 per orang. Di sana dilarang membawa kamera baik digital maupun SLR. Denger2 kalo bawa kamera disuruh bayar sejuta. Yang boleh digunakan hanya kamera HP. Tapi waktu ke sana sih pemeriksaannya ga terlalu ketat, cuma ditanya bawa kamera atau ga. Tanpa diperiksa tasnya satu per satu. Tempat ini buka dari pukul 8 pagi sampai 7 malam.
Kompleks hutan mangrovenya cukup luas. Terdapat beberapa penginapan dari yang ukurannya sekecil tenda sampai yang luas. Banyak pohon mangrove yang ditanam oleh berbagai perusahaan/institusi yang sempat ke situ, salah satunya saya melihat nama SMA saya. Santa Ursula. Hahahha. Di sana kita juga bisa naik kano. Tadinya kepengen, cuma karena cuaca kurang bersahabat, ga jadi deh. Akhirnya kita muter-muter aja ngelilingin hutan sambil foto-foto. Tempatnya cukup ok untuk refreshing. Melihat alam dan hijau dimana2. Sayang karena cuaca hujan jadi agak kurang maksimal.
Itu pohon-pohon yang ditanam sama berbagai institusi.
Yang bentuknya segitiga itu penginapan seluas tenda tapi dari kayu. Mungkin bisa coba nginep kapan2!
Berasa kaya di danau UI. Hahahha.
Kami sempat makan sore di sana, indomie seharga Rp 12ribu. Setelah puas berkeliling kami pulang pukul 7 malam dan menunggu bis BKTB lagi selama 45 menit. Kali ini tempat menunggunya lebih epik. Tidak ada halte, tidak ada tempat duduk, hanya berdiri di jalan saja. Mau nangis rasanya. Cape dan pegel bo!
Akhirnya datang juga tuh bis yang super lama. Dan anak2pun kembali menginap di tempat saya malam itu..
What a day!
Senin, 17 November 2014
Perjalanan ke Negeri Sakura: Kyoto
DAY 6: OSAKA-KYOTO
Perjalanan menempuh waktu 8 jam.
Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal Willer Express di Umeda Sky Building.
Lagi-lagi tempat ini, sepertinya memang saya ditakdirkan untuk terus kembali ke
sini, ke Willer Express, ke Osaka. Udah 4 kali ke sini selama kami di Jepang. Di
sana, saya membuang sepatu saya yang sudah tidak enak dipakai, sekalian buang
sial. Hahahha. Saya meneruskan perjalanan dengan sandal jepit Melta, yang
walaupun sempit, tapi lebih proper daripada sepatu saya.
Kami memiliki 2 pilihan untuk pergi dari Osaka ke Kyoto. Pertama, naik Shinkansen 10 menit dengan harga 1420 Yen* atau naik
kereta biasa 30 menit dengan harga 560 Yen*. Rencananya saya akan naik
Shinkansen saat pulang dari Kyoto ke Osaka (flight kami ke Indonesia dari
Osaka). Kami pun naik kereta biasa dan.. voila! Dalam 30 menit kami sudah
berada di Kyoto!
Stasiun Kyoto sangatlah luas, kami
membeli Kyoto Bus Pass (500 Yen seharian) terlebih dahulu untuk berkeliling
Kyoto nantinya. Kami berjalan kaki menuju penginapan J-Hoppers Kyoto (5300 Yen
untuk 2 malam), dari stasiun kira-kira jaraknya 20 menit. Sesampainya di
hostel, saya mandi dulu kemudian bersiap menjelajah Kyoto! Sehabis makan, saya
mencari sepatu boots di Department Store dekat stasiun. Sangatlah sulit mencari
sepatu dengan ukuran kaki saya 41. Sepertinya memang cewek2 Jepang kakinya
kecil mungil, ga kaya saya. Akhirnya setelah 2 jam mencari, ketemu juga boots
di GU. Ga disangka, harganya cukup murah dan ada ukuran saya. Langsung saja
saya membelinya! (N.B: setelah saya kembali ke Jakarta, saya menemukan sepatu yang sama di UNIQLO dengan harga 2 kali lipat)
GINKAKUJI TEMPLE
Setelah belanja, kami pergi dengan
menggunakan bis dari stasiun Kyoto ke Ginkakuji Temple, kami naik bis ke
stasiun terdekat, kemudian jalan kaki menuju templenya. Sepanjang jalan menuju
temple, terdapat berbagai jajanan dan pernak-pernik khas Jepang. Saya tergiur
untuk membeli Es Krim Green Tea-nya (300 Yen). Nyam! Sepanjang saya di Jepang,
semua makan di sini beserta jajanannya enak-enak. Ga ada yang ga enak. Bahkan
melta yang katanya picky eater juga makan terus selama di sini.
Ginkakuji (tiket masuk 500 Yen) ini
templenya sangat rindang, dipenuhi dengan pepohonan. Sayang, tidak ada guide
yang bisa menceritakan asal muasal temple ini pada saya, keterangan di
bookletnya pun menurut saya kurang jelas. Tapi menurut saya templenya sangat
bagus. Saya mulai jatuh cinta dengan kota budaya, Kyoto. Sesuai dugaan saya
sebelumnya..
Ginkakuji Temple
KYOMIZUDERA
Hari mulai sore, dan kami memutuskan untuk pergi ke kuil lain,
Kiyomizudera (tiket masuk 300 Yen). Perjalanan ke kuil ini juga dipenuhi stall2
makanan dan pernak pernik. Kami betah berlama-lama jalan di sini. Karena hari
mulai sore, kami pun agak tergesa-gesa ke sana. Kiyomizudera adalah kawasan
kuil yang sangat luas. Kami mengitari kuil ini selama 1 jam. Sayang, di sana,
ada kuil yang sedang direnovasi. Kami menghabiskan sunset di tempat ini,
melihat pemandangan kota Kyoto yang begitu cantik. Di mana-mana banyak wanita
yang memakai Yukata. Mungkin lain waktu saya juga pengen nyoba jalan-jalan di
Jepang pake yukata. Hihi.
GION
Ternyata boots yang baru saya beli
juga tidak senyaman itu saat dipakai. Saya pun menemukan sepatu kets Puma
dengan harga diskon di jalan dan membelinya. Haha. Boros banget gue belanja2
mulu. Sehabis dari Kiyomizudera, kami melanjutkan perjalanan ke kawasan Gion.
Kawasan ini adalah pusat perbelanjaan di Kyoto. Kawasan ini juga terkenal
dengan Geisha-nya. Sayang, kami tidak menemukan Geisha saat itu.
Dari Gion kami pulang ke hostel.
Kami makan di dekat hostel (650 Yen) lalu kemudian beristirahat. Menurut saya,
hostel ini agak kurang nyaman. Dinginnya udara di luar masuk ke dalam, saya
tidak tahu apa pemanas di dalam rusak atau dindingnya kurang tebal. Yang jelas,
banyak orang juga mengeluhkan hal itu di internet. Showernya agak aneh karena
harus ditekan tiap 5 menit sekali. Dan untuk menuju ke lantai atas tidak
tersedia lift, alias harus naik tangga. J-Hoppers Hostel ini memang terkenal
sebagai salah satu pelopor hostel di Jepang, sudah berdiri sejak tahun 2000-an.
Mungkin karena sudah lama ini, maintenance-nya jadi kurang, berbeda sama
hostel2 baru yang sebelumnya saya inapi. Kelebihannya, penerima tamunya ramah.
Namanya Yulia, dan dia berasal dari Rusia. Hostel ini juga meminjamkan yukata
free untuk kita berfoto-foto.
DAY 7 : KYOTO
Belajar dari pengalaman kami
sebelumnya, kami bangun pukul 7 pagi dan berangkat pukul 8. Udah hari ke-7,
baru belajar, telat booo! HAHAHHA.
Hari ini kami berencana akan pergi
ke Kinkakuji Temple, kawasan Arashiyama dan juga Nishiki Market.
KINKAKUJI TEMPLE
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.
Perjalanan dari stasiun Kyoto menuju Kinkakuji ditempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan bis. Kinkakuji temple (tiket masuk 400 Yen) ini sangat terkenal dengan kuil emasnya. Benar saja, begitu masuk ke dalam, saya menemukan kuil emas yang sangat cantik dengan pantulan air yang sempurna. Saya semakin jatuh cinta dengan Kyoto. Setelah mengitari area kuil, kami pun melanjutkan perjalanan ke Arashiyama. Oh iya, kuil-kuil yang saya datangi di Kyoto ini hanya bisa dilihat dari luar. Kita tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat isi kuil tersebut.
ARASHIYAMA
Kami naik bis ke Arashiyama di mana
terdapat Togetsukyo Bridge, yang sangat bagus di musim gugur. Sayang, waktu itu
daun musim gugur di Kyoto belum nampak. Puncak musim gugur di Kyoto itu bulan
November. Saya terbayang bagaimana
indahnya jembatan tersebut dengan latar belakang daun musim gugur yang memukau.
Setelah melewati jembatan, kami mengikuti jalan, yang akhirnya membawa kami ke
Bamboo Path. Tempat ini sangat keren, terdapat jalan di mana kiri kanannya ada
pohon bamboo yang tinggi menjulang. Cooooool! Setelah itu, kami naik Sagano Romantic Train (620 Yen) yang di sekitarnya terdapat pohon dan sungai cantik. Sagano
train ini jadwalnya sejam sekali. Waktu saya ke sana, saya datang jam 1, tapi
mendapatkan tiket yang jam 3. Harus menunggu agak lama untuk menikmati Sagano.
Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.
Togetsukyo Bridge
Bamboo Path
Setelah berkeliling dengan Sagano train, kami naik JR dari stasiun terdekat (200 Yen) untuk kembali ke terminal bis untuk melanjutkan perjalanan ke Nishiki Market. Agak deg-degan juga karena pasar ini tutupnya jam 5. Beruntung, hari itu adalah malam minggu, dan ternyata pasarnya tutup agak malam. Kami belanja oleh-oleh di Nishiki Market, dan sekitarnya. Akhirnya kami bisa puas-puasin belanja oleh-oleh. Pas banget, karena itu adalah malam terakhir kami di Jepang.
Sagano Romantic Train
Pukul 9 malam kami pulang ke hostel
dan saya berfoto-foto dengan yukata yang disediakan. Sayang si Mel ga mau foto
pake yukata. Malam itu kami mulai packing dan menyadari bahwa bawaan kami
berlipat ganda. Semoga kami tidak kena tambahan bagasi di flight esok hari.
DAY 8: KYOTO-KUALA LUMPUR
Tak terasa sudah hari terakhir di Jepang. Saya sangat sedih karena saya
mulai mencintai kota ini, dan negara ini. Yaa selain itu males juga sih ke
kantor tau bakal ada kerjaan numpuk. Hahaha. Hari ini kami bangun pagi kembali
karena akan mengeksplor sebuah kuil yang tak kalah cantiknya dengan kuil lain,
Fushimi Inari Shrine (free entry).
FUSHIMI INARI SHRINE
Kuil ini masuk dalam peringkat pertama tempat di Jepang yang
paling banyak dikunjungi oleh turis versi Trip Advisor. Terdapat ribuan gerbang untuk menuju puncaknya. Perjalanan menuju
puncak memakan waktu 1.5 jam. Kami tidak sampai puncak dan hanya
berhenti di tengah-tengah. Selain lelah, kami juga harus mengejar bis untuk
kembali ke hostel lalu pulang ke Osaka.
Sehabis makan siang, kami mengambil
barang bawaan kami di Hostel kemudian ke stasiun Kyoto, tempat kita akan
menaiki Shinkansen ke Osaka (1420 Yen). Shinkansen ini benar-benar cepat, dalam
10 menit kami sudah tiba di Osaka. Di luar kereta terlihat pemandangannya cepat
sekali berubah, sementara di dalam, tidak terasa kecepatannya. Coool! Jika Anda
memiliki banyak budget, Anda bisa menggunakan Shinkansen untuk berkeliling
Jepang. Harganya sendiri sekitar 3 juta rupiah untuk satu minggu. Jarak dari
Osaka ke Tokyo saja hanya ditempuh dalam waktu 2 jam, berbeda dengan naik bis
malam yang menempuh waktu 8 jam.
Tiket Shinkansen Kyoto-Osaka
Shinkansen (Japanese bullet train)
Setibanya di Osaka, kami menuju
Namba untuk menaiki Nankai Express ke Bandara Kansai. Yang kami takutkan
terjadi, tas kami overload sehingga harus menambah extra bagasi. Kamipun
membayar 4000 Yen untuk kelebihan bagasi kami berdua. Di bandara, akhirnya kami
bertemu Tokyo Banana, yang sangat sulit dicari di Jepang. Tokyo Banana ini
sangat terkenal di Indonesia, sementara di Jepang, sepertinya biasa saja.
Maklum, semua snack di Jepang memang enak-enak. Kata teman saya, kalau mau
mencari Tokyo Banana yang lebih murah, bisa dicari di Tokyo Sky Tree. Perbedaan
harga sampai dengan Rp 50.000 dibanding di bandara.
Pukul 4 sore, saatnya kami berpisah
dengan Jepang. Sedih rasanya. Jam 10 malam kami sudah tiba kembali di Kuala
Lumpur. Suasana di sana sangat berbeda. Kami bertemu dengan petugas imigrasi
yang galak-galak, jauh berbeda dengan orang Jepang yang sangat baik dan sangat
santun. Di Jepang, orang-orangnya sangat helpful. Meskipun mereka tidak bisa
Bahasa Inggris, tapi mereka akan mencoba menjawab pertanyaan kita sekuat
tenaga, saya sendiri sampai kasihan melihatnya. Mereka juga selalu berterima
kasih dan minta maaf. Bayangkan, saya tidak sengaja menyenggol orang di bis, eh
malah dia yang minta maaf. Padahal saya yang salah, jadi merasa gak enak
sendiri..
Karena sudah tahu spot enak untuk
tidur, kami mengunjungi Burger King yang sofanya bisa untuk ditiduri. Setelah
makan malam di sana, saya pun tertidur. Cukup pulas hari itu. Keesokan harinya
kami berangkat ke Jakarta pukul 8 pagi dan tiba di Jakarta pukul 9. Selamat
kembali ke kota yang panas dan macet. Hehehe..
Note:
*1 Yen = 113.5
Rupiah
Total biaya keseluruhan perjalanan
kurang lebih Rp13.500.000 (jika tidak terjadi ketinggalan bus dan tidak belanja belanji, mungkin bisa Rp
11.000.000)
Arigatou Gozaimasu, Japan!
Jumat, 14 November 2014
Perjalanan ke Negeri Sakura: Tokyo dan Nikko
DAY 4 : TOKYO
Setelah bermalam di bis dengan
tidur yang cukup nyenyak, kami sampai di Tokyo tepatnya di Stasiun Ikebukuro.
Dari Ikebukuro, kami naik subway ke Asakusa tempat hostel kami berada. Kami
membeli tiket terusan subway untuk 1 hari penuh seharga 1000 Yen*. Kami menginap
di Khaosan Asakusa Hostel World & Ryokan (3400 Yen per malam) dengan memesan
tempat tidur ala Jepang, yang disebut Ryokan. Asakusa adalah daerah pusat
budaya dan pernak pernik tradisional Tokyo, berbeda dengan bagian Tokyo lain
yang “kota” banget. Setelah mandi, kami melanjutkan perjalanan ke Tsukiji Fish
Market.
TSUKIJI FISH MARKET
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.
Kami sampai di sini kira-kira jam 1, banyak tempat yang sudah tutup, namun beberapa penjual masih buka. Kabarnya, Tsukiji Fish Market adalah pasar tempat menjual ikan terbesar di dunia. Di sini dijual berbagai macam ikan seperti salmon, tuna dan sebagainya. Jika ke sini jam 4 subuh, Anda bisa melihat pelelangan tuna. Saran saya kalau mau ke sini lebih baik di pagi hari, jangan kesiangan kaya saya. Di sini kami melihat berbagai makanan dan juga ikan dijual, kami tidak membeli apa-apa karena sudah kenyang. Perjalanan pun dilanjutkan ke Meiji Shrine.
MEIJI SHRINE dan HARAJUKU
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.
Meiji shrine adalah sebuah kuil di sebelah pusat perbelanjaan Harajuku. Cuaca saat itu cukup dingin ditambah hujan, kuilnya sendiri cukup besar namun sederhana. Terdapat tempat berbagai doa yang ditulis di kayu digantung. Saya juga pengen nulis doa, tapi lalu inget kantong. Hahah.
Sehabis dari Meiji Shrine kami ke
Harajuku. Saya berharap bisa menemukan jaket tebal dan boots di sini. Karena
kabarnya harganya ada yang miring. Tapi setelah berputar-putar, saya tidak
menemukan yang harganya miring. Kami malah berakhir belanja di Daiso untuk
keperluan pribadi dan oleh-oleh. Saya juga berharap melihat banyak yang cosplay
di sini, namun karena cuaca jelek dan hari itu masih hari biasa, tidak begitu
banyak orang cosplay.
SHIBUYA dan SHINJUKU
Mengejar waktu, kami pun pergi ke
Shibuya. Di sana adalah pusat kota Tokyo, di mana terdapat persimpangan Shibuya
yang sangat ramai orang berlalu lalang. Kami mencari patung Hachiko, anjing
yang terkenal itu. Agak susah mencari patung Hachiko, dalam bayangan saya
patungnya besar, namun ternyata kecil dan sulit dicari.
Di Shibuya ini kami makan malam di
Pepper Lunch. Sistem pemesanannya agak unik karena kami harus memilih menu dan
membayar di boks panjang (seperti boks minuman kaleng), lalu mengambil bon dan
memberikannya pada pelayan di sana. Pepper Lunchnya kurang lebih sama seperti
yang di Jakarta. Yang saya amati sejak saya sampai di negara ini adalah
banyaknya bangku untuk makan sendiri atau mengitari dapur. Jarang bangku yang
untuk rame2. Sepertinya orang Jepang lebih senang makan sendirian daripada
bersama orang lain.
Shibuya Crossing Line
Patung Hachiko
Selepas dari Shibuya kami ke
Shinjuku. Shinjuku ternyata kurang wah dibanding Shibuya, padahal dalam
bayangan saya Shinjuku itu lebih wah. Hehehhe. Saya menemukan UNIQLO lalu
membeli jaket di sana. Akhirnya ketemu jaket juga! Sementara itu bootsnya belum
ketemu, padahal kaki saya sudah sakit sekali ditambah sepatunya kemasukan air
hujan :(
Kemudian kami pulang ke Asakusa dan
berharap bisa melihat pasar tradisional Nakamise di sana, sayang pasarnya sudah
tutup dari jam 5 sore. Saya pun Cuma berfoto di kuil ini..
DAY 5: NIKKO
Kami bangun pada hari itu sekitar jam 10. Kami benar-benar pemalas,
karena terlalu lelah setiap malamnya. Saya membayangkan perjalanan dari Tokyo
ke Nikko hanyalah 1 jam. Tapi ternyata 3 jam. Jeng jeng jeng! Alhasil hari itu
diawali dengan terburu-buru, kejar-kejaran sama kereta.
Kami melihat lihat sebentar ke
Nakamise Shopping Street, tempat di mana banyak pernak pernik tradisional
dijual, kemudian makan di MOS Burger (700 Yen). Setelah itu kami langsung naik
kereta menuju kota Nikko (1360 Yen). Nikko menjadi tujuan kami di Jepang karena
di bulan Oktober ini, di Nikko sudah musim gugur. Kota lain juga sudah musim
gugur, namun belum banyak bunga musim gugurnya. Sementara di Nikko, sudah
banyak. Kami berniat pergi ke beberapa air terjun yang di kanan kirinya ada autumn leaves.
Perjalanan dari Tokyo ke pusat kota
Nikko ditempuh selama 2 jam 10 menit dengan menggunakan kereta Nikko Tobu Line
dari stasiun Asakusa. Sesampainya di stasiun Nikko, waktu sudah menunjukkan
pukul 3 sore. Kami harus melanjutkan perjalanan ke Okunikko (menggunakan Nikko
Day Pass 2000 Yen tergantung jarak), tempat air terjun2 itu berada. Perjalanan
ke Okunikko berjarak 1 jam dengan menggunakan bis, kami pun langsung ke Kegon
Falls (tiket masuk 550 Yen). Air terjun yang katanya paling besar di Nikko.
Naik air terjun di sini sangatlah
berbeda dengan di Indonesia, di Indonesia kita harus trekking berjam-jam untuk
melihat indahnya air terjun, sementara di sini kita tinggal naik lift menuju ke
atas, lalu sampailah ke Observation deck air terjun. Memang, kita hanya bisa melihat air terjun tanpa
bisa main dan mandi-mandi di sana. Tapi itu saja sudah sangat bagus.
Kami melihat daun musim gugur di air terjun tersebut, belum benar-benar merah,
tapi sudah lumayan lah.
Kegon Falls
It's autumn in Nikko!
Pukul 5 kami melanjutkan perjalanan
ke Ryuzu Falls (naik bis 420 Yen), sayang sampai sana sudah gelap, mana semua
petunjuk jalan bertuliskan huruf kanji. Akhirnya kami berhasil melihat Ryuzu
falls, yang jauh lebih kecil daripada Kegon. Namun sangat cantik karena di
sebelah kiri dan kanannya ada autumn leaves. Saya agak menyesal sampai di sini
sesore ini, karena kalo lebih siang pasti pemandangannya jauh lebih indah dan
spot yang didapat pasti lebih banyak. Itulah ganjaran bangun siang, kalo kata
orang jaman dulu.. rejekinya dipatok ayam. Hahahha. Di Ryuzu, kami makan udon
dulu untuk makan malam, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Tokyo. Kami
harus sampai Tokyo setidaknya jam stgh10 malam, karena jam 10.15 kami sudah
harus naik bis Willer Express ke Kyoto. Selamat berpacu dalam waktu!
Ryuzu Falls
Perjalanan dari Nikko ke Tokyo
sangatlah tidak mulus. Diawali dengan menunggu kereta di peron yang salah. Dan
kami harus berkejar2an dengan kereta di peron lain yang akan segera berangkat.
Di tengah jalan, kami dipindahkan ke kereta Express (alias lebih mahal). Kami
pikir kami tidak harus membayar lagi, tapi ternyata kami harus bayar lagi, atau
kami harus turun. Mau ga mau kami membayar, karena kami harus sampai ke Tokyo
pukul setengah 10, dan tidak ada waktu untuk menunggu kereta lagi. Saya
deg-degan dalam hati, takut tidak sampai di terminal tepat waktu.
Kami sampai di stasiun Asakusa
setengah 10, kemudian harus naik subway lagi ke stasiun Shinjuku, tempat
terminal bis berada. Tidak saya sangka-sangka, perjalanan ke Shinjuku cukup
jauh. Dalam pikiran saya di Jepang kemana-mana deket, karena transportasinya
gampang. Di tengah jalan di subway, kami melirik jam dan sudah pukul 09.45. 30
menit lagi menuju keberangkatan bis! Saya dan Melta memutuskan turun dan naik
taksi ke Shinjuku, dengan ekspektasi perjalanan lebih cepat. Taksi di sini
ternyata lebih mahal daripada di Osaka, sekali buka pintu 700 yen. Ternyata,
Shinjuku letaknya memang agak lumayan, kami sampai sana pukul 22.25 dengan argo
taksi seharga 4500 yen. Gila, stres banget, baru kali ini naik taksi seharga
Rp500.000 dengan waktu tempuh 30 menit, mana tetep telat pula!
Kami sudah telat 10 menit dari pukul 22.15. Dan bispun sudah pergi. Ya,
inilah Jepang, telat 1 menit aja ditinggal, apalagi 10 menit. Padahal saya
sudah memohon untuk ditunggu dengan meng-email ke Willer Express. Tapi
apa daya.. Perasaan kesal sekesal-kesalnya ini pun muncul kembali, udah
capek-capek naik kereta Express, naik taksi 500ribu, tapi tetep aja telat!
Akhirnya, tiket bispun Cuma di-refund 50%.
Saat itu saya hanya memiliki 2
pilihan, naik bis ke Osaka lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto via kereta
(Osaka ke Kyoto cuma 30 menit). Atau naik bis ke Kyoto keesokan harinya dengan
harga tiket 2x lebih mahal. Akhirnya kami memutuskan naik bis ke Osaka (3900
Yen). Bisnya tidak sebagus kemarin dan harganya lebih murah sedikit, tapi tidak
apa, yang penting kami bisa ke Osaka. Kami pun menunggu jam keberangkatan bis,
pukul 00.30.
Karena bisnya tidak sebagus
kemarin, bis ini tidak ada selonjoran kaki, tutup kepala dan juga chargeran. Di
bis itu saya cuma bisa tidur-tidur ayam, tidak sepulas waktu naik bis dari
Osaka ke Tokyo.
*1 Yen = 113.5 Rupiah
Rabu, 12 November 2014
Perjalanan ke Negeri Sakura: Osaka
Setelah liburan ke 2 tempat tahun
ini, saya memutuskan untuk berlibur lagi! Hahhaa. Semua hanya gara-gara
impulsivitas saya melihat tiket promo murah. Bayangkan, siapa yang tak terketuk
hatinya melihat tiket promo Kuala Lumpur-Osaka hanya seharga 1.5 juta rupiah
PP! Hahaha. Saya menemukannya di akun twitter @flyingpromo. Di sana banyak
penerbangan dalam dan luar negeri dengan harga super miring! Hal itu bisa
terjadi karena pemilik akun tersebut, Mas Efan, memiliki Air Asia loyalty card
yang namanya BIG! Gile, bisa promo abis-abisan gtu. Nah gue pun mengajak Melta,
yang memang juga pengen ke Jepang. Tahun lalu kami pernah membayangkan liburan
ke Jepang bareng, dan ternyata terwujud aja loh. Dia pun langsung mau saja saat
diajak, dengan syarat, bukan saat musim dingin. Akhirnya kami memutuskan pergi
di pertengahan bulan Oktober. Agak nekat sih gue, mengingat akan ada tes DELF
(macam TOEFL buat Bahasa Prancis) di bulan November dan gue harus
mempersiapkannya jauh-jauh hari.
Nah, untuk pergi ke negeri sakura
ini kami harus mempersiapkan visa (yang kata orang agak susah dapetinnya).
Dengan modal minjem duit emak, gue pun mengapply visa dan lolos! Hahaha.
Ternyata apply visa jepang ga terlalu susah, tinggal masukin persyaratan yang
ada di web, bayar biaya administrasi Rp320 ribu sama siapin rekening tabungan. Ga
ada rumus pasti tabungannya musti berapa tapi kata orang-orang sih setidaknya 1
juta x jumlah hari kepergian lo ke sana. Misalnya lo ke sana 10 hari, lo musti
nyiapin 10 juta..
Akhirnya tiba juga hari yang
ditunggu-tunggu, 11 Oktober 2014. Saya dan Melta pergi ke Malaysia pada pukul 9
malam naik Lion Air (Rp900 ribu PP) untuk kemudian transit dan tidur di sana.
Ini pertama kalinya saya tidur di bandara. Dan rasanya… ga enak! Hahahhaha. Iya
lah, tidur di cuma di karpet dengan suara orang lalu lalang. Di bandara Kuala
Lumpur ini memang tidak memungkinkan pengunjung untuk tidur di kursi. Kursinya
didesain biar kita ga bisa tidur di sana. Beda banget sama bandara Kansai di Osaka
yang kata teman saya, bisa tidur nyaman di kursi ditambah dikasi selimut. Waw!
Yah walaupun Cuma di karpet tapi bandara KL itu nyaman, ga heran masuk dalam 10
bandara terbaik di dunia.
Day 1: KUALA LUMPUR-OSAKA
Setelah tidak bisa tidur selama
semalam, kamipun berangkat ke Osaka pukul 8 pagi untuk menempuh perjalanan
udara selama 7 jam. Di pesawat, kurang lebih sama keadaannya, gue cuma
tidur-tidur ayam. Akhirnya sampai juga kami di Osaka, kurang lebih jam 4.
Rasanya seneng campur terharu. Hahaha. Ini pertama kalinya gue ke luar negeri
tanpa nyokap gue, ke Jepang pula gitu kan.
Sesampainya di airport kami langsung
mencari kereta yang menghubungkan airport dengan pusat kota Osaka. Nama
keretanya Nankai Express (920 Yen*). Setelah 1 jam di kereta, kami pun sampai di
stasiun yang dekat dengan tempat kami menginap. Kami memesan hotel kapsul di Agoda bernama Shin-Imamiya Hotel (Rp 230.000). Kami memesan hotel ini karena kami ingin merasakan menginap di hotel kapsul. Hotel kapsul yang lain sudah penuh di tanggal itu dan satu-satunya pilihan kami adalah hotel ini.
Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!
Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.
Begitu sampai, kami langsung menanyakan modem wifi yang sudah kami pesan dari Jakarta. Dan modemnya pun sudah sampai. Fyi, kami memesan Japan Wireless dengan harga 4200 Yen (Rp 489.981) untuk 5 hari, dan modemnya pun bisa dipakai ramai-ramai sampai 10 gadget. Pelayanannya sangat bagus dan sinyalnya kencang. Recommended!
Hotel kapsul ini benar-benar di luar dugaan saya, saya membayangkan kapsulnya berjejer, tapi yang saya dapat adalah 1 kamar yang di dalamnya ada 1 kapsul. Hahahha. Setelah mandi, kami pergi makan sebentar di sekitar hotel (480 Yen*). Sejak kedatangan saya ke Osaka, saya sudah memperhatikan 1 hal. Suara ambulans yang tidak berhenti setiap 15 menit sekali. Saya pernah membaca buku bahwa katanya setiap 15 menit sekali ada orang yang bunuh diri di Jepang, Dan setiap ada ambulans saya jadi merinding membayangkannya.
NAMBA-DOTONBURI
Meskipun lelah dan ingin tidur,
tapi tidak mungkin malam itu tidak kami lewatkan dengan berjalan-jalan. Kami
pergi ke daerah Namba (naik JR Line 150 Yen*), pusat perbelanjaan dan nongkrong
anak muda Osaka di malam hari. Di sana ada area Shinsaibashi dan Dotonburi.
Isinya adalah outlet2 makanan dan fashion di sepanjang jalan. Seruu! Kami pun
makan takoyaki enak 760 Yen* (tapi berujung enek karena mesennya kebanyakan).
Malam itu dilewatkan dengan berjalan-jalan sampai kaki pegel. Kami pun kembali
ke hotel dan tidur dengan lelapnya malam itu.
Dotonburi, Osaka
Day 2 : OSAKA
Dua pemalas ini kecapekan dan baru
bangun tidur jam 10! Kami pun mandi, lalu bersiap pergi ke Osaka Castle.
Sebelum ke Osaka Castle kami pergi
ke Umeda Sky Building (180 Yen* via JR Line) terlebih dahulu untuk menitipkan
barang di loker Willer Express (500 Yen*), bis yang akan kami naiki nanti malam
menuju Tokyo. Setelah makan siang, kami pun ke Osaka Castle dengan menggunakan
JR Line (160 Yen*).
OSAKA CASTLE
Sesampainya di Osaka Castle, saya
agak terkejut karena ada pengumuman bahwa Osaka Castle tutup karena akan ada
taifun. What? Taifun? Another disaster come again to my holiday. Rrrrr. Walau
begitu kami masih agak santai, dan berpikir bahwa taifunnya paling bakal ga
parah2 amat. Walaupun tidak bisa masuk, kami cukup puas untuk berfoto di luar
Osaka Castle. Bangunannya sangat bagus. Penasaran dalamnya seperti apa.
Sepulangnya kami dari Osaka Castle, kami bertemu dengan seorang bule yang
senang bertemu kami karena bisa bahasa Inggris (maklum, orang Jepang kebanyakan
ga bisa Bahasa Inggris). Dia agak panik lalu menanyakan tentang taifun. Dia
bertanya-tanya apakah taifun itu berbahaya? Dengan sotoynya gue bilang aja
kayanya ga bahaya. Hahaha.
Osaka Castle
Kami sampai di stasiun JR dan
mendapat info bahwa JR akan tutup jam 4 karena taifun. Sementara saat itu
adalah jam 3. Saya agak panik apakah harus kembali ke tempat bis Willer, atau
melanjutkan pergi ke tempat wisata lain. Saya pun memutuskan pergi ke tempat
wisata lain yaitu Shitennoji Temple (160 Yen* via JR Line). Di stasiun JR dekat
Shitennoji, saya bertanya pada petugas di sana apakah subway juga tutup jam 4
atau tidak. Ternyata tidak, kami pun bisa santai dan menikmati sisa hari itu
dengan subway. Di Osaka, jaringan subway dan jaringan JR berbeda. Subway itu
pasti di bawah tanah, sementara JR bisa di atas, bisa di bawah.
SHITENNOJI TEMPLE
Keluar dari stasiun JR, kami
mendapati angin kencang dan juga hujan. Kami lupa membawa payung, maka kami
masuk lagi ke dalam stasiun untuk menunggu hujan reda. Saya pun mulai panik,
apakah ini yang dinamakan taifun. Saya mencoba mencari informasi dari teman
saya yang pernah tinggal di Jepang soal taifun. Katanya sih tidak berbahaya.
Tapi dosennya pernah nabrak pohon gara2 kebawa angin taifun. Itu sih katanya
karena dosennya badannya kecil. Kesannya kalo saya tidak mungkin terbang gitu
ya. Hahaha. Setelah mendapat penjelasan dari dia, saya agak merasa tenang.
Memang, saya disarankan untuk tidak keluar keluar, tapi nanggung banget, masa
diem aja di dalam. Hahahha.
Saya dan Melta kemudian mencari payung dan mendapatkan payung transparan ala ala orang Jepang (565 Yen*). Payung ini yang akhirnya melindungi kami selama perjalanan jalan kaki ke Shitennoji Temple. Dan.. setelah susah payah jalan ke sana, Shitennoji temple pun juga tutup! Hhh.. agak kecewa, tapi ya sudahlah kami berfoto-foto saja di depan. Sekembalinya dari Shitennoji Temple, kami langsung kembali ke tempat bis Willer Express. Rencana awalnya, kami ingin melihat-lihat Universal City Walk, namun karena perjalanan ke sana harus ditempuh dengan JR dan JRnya sudah tutup. Ya apa boleh buat.
Shitennoji Temple
Kami naik subway ke stasiun
Osaka/Umeda (280 Yen), stasiun paling dekat dengan Umeda Sky Building. Stasiun
tersebut sepi sekali, semua pusat perbelanjaan tutup, bahkan kami kesulitan
mencari restoran. Ternyata memang semua pegawai di Jepang dipulangkan jam 4
sore, karena ada taifun. Dipikir-pikir canggih juga negara ini, bisa
memprediksi bencana alam, dan semuanya akurat. Saya akhirnya makan sushi di
Family Mart. Fyi, sushi Family Mart ini enak2, harganya juga cukup murah (1
kotak sushi sekitar 400 Yen). Setelah makan, dengan susah payah kami berjalan
ke Umeda Sky. Angin semakin kencang dan hujan semakin deras. Rasanya sekarang
benar-benar taifun. Payung melta terbalik karena angin.
Sesampainya di terminal bis,
another bad news come. Bis kami ke Tokyo di cancel karena taifun! Omygod,
rasanya pengen nangis saat itu. Kenapa rasanya bencana ga abis-abis datang ke
liburan saya. Dari komodo kena abu vulkanik, derawan ga dapet penginapan,
sekarang di Jepang gue kena taifun. Rrrr. Beruntung, Melta anaknya woles. Dia
menenangkan gue dan bilang “Ya udahlah, mau diapain lagi.” Haahahha. Itu kata
kunci dia kalo udah pasrah sama segala sesuatunya. Akhirnya saya memesan bis ke
Tokyo kembali keesokan harinya (cancellation bis hari ini direfund) dan hostel
dekat situ di Agoda. Beruntung bisa dapat penginapan itu. Semakin malam
ternyata taifun semakin parah. Kami tidak bisa pergi berjalan kaki ke
penginapan karena hujan deras dan angin kencang. Payung saya pun terbalik. Kami
bertemu dengan orang Indonesia yang menyarankan naik taksi, katanya naik taksi
kalau dekat harganya 680 Yen (sekitar 70ribu rupiah). Yasudah akhirnya kami
naik taksi ke penginapan, si bapak taksi yang tidak bisa Bahasa Inggris agak
kesulitan menemukan itu hostel. Untung dia canggih dan bisa nyari lewat GPSnya
sendiri. Akhirnya kami sampai di Drop Inn Osaka Hostel (Rp 342.000 per malam).
Thank God we are safer now! Anyway, selama gue di Jepang, menurut gue ini
hostel yang paling bagus. Meskipun satu ruangan bisa belasan orang, tapi
tempatnya bersih, baru dan nyaman!
Day 3: UNIVERSAL STUDIO OSAKA
Seharusnya saya sudah berada di
Tokyo hari ini. Ya, semua rencana berantakan gara-gara si taifun, tapi sekali
lagi harus bersyukur karena masih hidup dan masih bisa tidur dengan pulas.
Hari ini saya memutuskan pergi ke
Universal Studio Osaka (USO). Tempat yang tidak masuk daftar tujuan saya dari awal,
karena basically menurut saya Universal Studio dan Disneyland itu sama di
negara manapun. Tempatnya lebih cocok
untuk anak kecil dan masuk ke situnya mahal. Hahahhaa. Saya agak penasaran sama
USO ini karena ada wahana baru, The Wizarding World of Harry Potter.
Kami sampai di Universal Studio (180 Yen via JR Line) sekitar jam 1 siang, maklum bangun tidurnya aja baru jam 10. Udara sudah jauh lebih cerah dari kemarin. Taifun telah pergi jauh dari Osaka. Kami menitipkan tas di loker, kemudian membeli tiket seharga 6980 Yen. Agak heran karena tempat ini super super rame padahal hari biasa. Kami pun foto-foto di bola dunia khas Universal Studio lalu langsung menuju ke wahana Harry Potter. Ternyata kita harus ambil jam antrian masuk dulu untuk masuk ke wahana ini, sangking banyaknya pengunjung yang mau ke situ. Kami dapat jam antrian masuk, jam 3. Sambil menunggu, kami menaiki wahana-wahana lain terlebih dulu. Satu hal yang agak ajaib dari USO adalah, setiap karakter di wahana yang kami naiki memakai bahasa Jepang. Kami sukses mengantuk saat karakter tersebut ngoceh-ngoceh sendiri dalam bahasa Jepang. Hahahha.
Akhirnya jam antrian masuk ke Harry
Potter tiba juga. Begitu masuk, tempatnya benar-benar Wow! Persis kaya
penggambaran dunia Harry Potter di film dan bukunya. Kami masuk ke hogsmeade
dan melihat desa dengan rumah bercerobong asap dilapisi salju. Di sepanjang
jalan kami melihat Honeydukes (yang super super antri masuknya), toko
Ollivander dan masih banyak lagi. Kami melihat kerumuman orang mengantri
Butterbeer dan kami berjanji akan minum juga setelah puas melihat-lihat.
Kami pun memasuki wahana utama di dunia
Harry Potter tersebut, untuk memasuki wahana tersebut kami harus mengantri 2
jam! Sambil mengantri, kami memperhatikan orang-orang Jepang yang pake kostum
unik-unik Cosplay. Waktu itu ada segerombolan cewek pake kostum berdarah-darah.
Kami juga menghabiskan waktu dengan wifi-an. Thanks to japan wireless, again!
Haha. Wahana yang di dalam, begitu mirip dengan kastil Hogwarts. Kami pun
bermain seolah-olah naik sapu terbang untuk mengelilingi Hogwarts bersama Harry
Potter. Overall, cukup seru, walau ga ngerti Harry ngomong apa. Hahahha. Malam
mulai tiba saat kami keluar dari kastil. Kami pun mengantri butterbeer dan
rasanya ternyata enak (1100 Yen sudah mendapatkan mug)! Gabungan butter dan
beer hahahahha. Kami agak tertarik mengantri Honeydukes, tapi melihat antrian
yang sangat panjang dan saat itu sudah super super dingin, kami mengurungkan
niat tersebut dan keluar dari zona Harry Potter.
The Wizarding World of Harry Potter
Kami pun pulang ke terminal willer
express (180 Yen via JR Line), kali ini bisnya beroperasi dan kami bisa tidur
di bis dengan nyaman selama perjalanan ke Tokyo. Bis willer express ini sangat
bagus, ada selonjoran kaki dan juga tutup kepala serta selimut. Saya memesan
tipe Relax seharga 4800 Yen. Terdapat berbagai pilihan harga dan fasilitas yang
berbeda.
Ruang tunggu Willer Express Umeda Sky Building (photo from Google)
Bis Willer Express tipe Relax tampak depan (photo from Google)

Bis Willer Express tipe Relax tampak dalam (photo from Google)
*1 Yen = 113.5 Rupiah
Langganan:
Postingan (Atom)







































